Tentang menjaga semangat keislaman di Rantau (Sedikit berbagi untuk mereka yang akan tiba di Jepang <3)

Artikel ini sebenernya dibuat untuk dimasukkan kedalam salah satu website life style & muslim fashion, tapi karena satu dan lain hal, saya urungkan untuk dimasukkan ke dalam website tersebut dan memilih untuk mempublikasikannya disini dengan editan sana dan sini. Semoga bisa sedikitt mengkayakan jiwa yak!

 

Negara matahari terbit kini makin membuka diri untuk warga asing. Dipengaruhi oleh persiapan Olimpiade Tokyo 2020, setiap elemen wisata di Jepang berlomba untuk memberikan servis yang baik (omotenashi) untuk orang asing, tidak terkecuali terhadap Muslim. Dalam 3 tahun terakhir, makin banyak gerai halal dan bilik sholat yang disediakan untuk memenuhi kebutuhan Muslim, seperti menandakan bahwa Jepang makin siap untuk menerima masyarakat yang semakin beragam. Semoga ya!

Tidak hanya di sisi wisata, pendidikan tingkat lanjut di jepang pun makin global. Fakultas dan Program Graduate School berbasis bahasa Inggris bukanlah hal yang begitu asing untuk ditemukan, walaupun memang jumlahnya tidak banyak sekali. Perusahaan Jepang pun makin gencar untuk memfasilitasi orang asing untuk bekerja di Negara matahari terbit tersebut. Bahkan mereka melakukan rekruitmen langsung kepada sarjana S1 di negara-negara Asia lho! Dengan Jepang yang makin global, tentunya makin banyak warga asing yang ingin merasakan tinggal disini

Muslimah Indonesia di Jepang hadir dalam berbagai profesi. Mulai dari pelajar, Ibu rumah tangga yang menemani suami, perawat hingga pekerja kantoran atau yang lebih dikenal dengan istilah 社会人 Shakaijin. Berada di tengah masyarakat Jepang sebagai warga minoritas, tidak mendengar adzan langsung kecuali dari smartphone, serta jauh dari keluarga selama Ramadhan dan Hari raya, bagaimanakah cara muslimah di Jepang menjaga semangat keislaman dalam diri? Artikel ini akan menyajikan sedikit banyak cara untuk menyiasatinya:

1.jpg

Camii Mosque:Diambil dari Yhotarafelino IG

Menjaga semangat keislaman dengan mencari lingkungan yang mendukung perkembangan diri

Setiap daerah di Jepang mempunyai pengajian berbasis profesi atau kampus yang diadakan secara rutin. Mengambil contoh di beberapa daerah seperti Tsukuba dan Tokyo Area, tema yang dibahas di pengajian bukan hanya tentang ilmu aqidah & ibadah, tetapi juga dikaitkan dengan keprofesian dan ketrampilan. Pengajian Muslimah juga diselingi dengan kelas memasak dan beauty class. Dengan tema talim yang variatif dan pendekatan yang beragam, maka mengikuti pengajian adalah kegiatan pertama yang dicari muslimah perantau untuk berkenalan dengan sesama warga Indonesia.

Bahkan tak jarang saya temui bahwa ada beberapa kawan yang memulai ikut pengajian / ta`lim ketika di Jepang. Entah mungkin pendekatannya yang lebih cocok untuk mereka dipengaruhi faktor rindu dengan suasana yang men-charge ruhiyah ya 😉

SIPUT5

Kelas Masak dari Pengajian Muslimah di Tsukuba

Adalah Lina, seorang pelajar Indonesia di Osaka yang makin mantap menjadi muallaf di Jepang pasca belajar Islam di masjid kobe dan mendapatkan bimbingan seorang ustadzah melalui pengajian di daerah yang sama.  Di pengajian daerah Kobe yang berlangsung 2-3 minggu sekali itulah salah satu channel untuk Lina belajar tentang islam. Disana jugalah Lina dipertemukan dengan kawan yang membimbingnya ke arah lebih baik, salah satunya  adalah dengan menemaninya beribadah di bulan Ramadhan.

Untuk penulis sendiri, mengikuti pengajian di rantau menjadi pelipur lara untuk mereka yang rindu berkumpul dengan orang indonesia, makan makanan Indonesia dan berbicara dengan bahasa Indonesia.

Menyemangati diri belajar agama Islam secara online dan offline

Untuk mereka yang tinggal jauh dari perkumpulan orang Indonesia sehingga tidak bisa sering datang ta`lim, seperti seorang sahabat bernama Lia yang jauh berada di Kitakyushu, maka cara yang dilakukan agar tetap bisa merasakan suasana Islam adalah dengan rutin mendengarkan ceramah via Youtube. Mulai ustadz dalam negeri hingga Omar Sulaiman ataupun Nouman Ali, insya Allah akan membuat hati kita makin dekat dengan Allah SWT.

Masjid di Jepang memang tidak semuanya besar dan penuh sesak orang untuk sholat, tapi cobalah tengok ke Masjid Camii atau Masjid Okachimachi Tokyo, disana cukup sering diadakan kajian.  Dengan banyaknya informasi yang masuk, mudahnya opini di lontarkan di dunia maya, maka seorang muslimah hendaklah mempertajam filter diri agar tidak mudah terombang-ambing. Sumber belajar sudah banyak tersedia, tinggal kita yang memilih.

Tidak segan untuk menjelaskan kepada kawan asing kita tentang keislaman kita 

Beberapa kawan berpendapat bahwa orang Jepang, apalagi yang hidup di kota besar, punya kecendrungan untuk tidak peduli terhadap urusan pribadi orang lain. Bahkan ada yang berpendapat bahwa itulah kelebihan orang Jepang: tidak mencampuri urusan orang lain. Mayoritas orang Jepang akan menghargai perbedaan agama jika kita tidak malu dan mau menjelaskan dari awal.

Setiap acara welcome party  ataupun piknik di taman yang melibatkan muslim, maka orang Jepang pun akan sangat berhati-hati untuk mempersiapkan makanan. Seperti yang dialami penulis, bahkan seorang professor ragu menawari permen karena disitu ada gambar ayam. Mungkin sang professor salah mengira karena yang tidak dikonsumsi adalah Ayam yang tidak halal bukan kita yang anti-Ayam.

Ketika ada acara minum-minum (Nomikai) yang di adakan cukup sering, ada yang memilih untuk tetap ikut tetapi tanpa memesan minuman beralkohol dan tidak ikut menuangkan bir. Selanjutnya, ada juga yang memilih tidak ikut acara tersebut sama sekali. Walaupun kita memilih untuk tidak ikut, orang Jepang akan menghargai selama kita menjelaskan sedari awal.

Seorang kawan muslimah yang menjadi Engineer di salah satu perusahan besar di Jepang, Dea, mengatakan bahwa kantornya mendukung ibadah Ramadhan. Dea diperbolehkan untuk datang ke kantor lebih siang (karena ada sahur) dan pulang lebih cepat untuk menunaikan ibadah di bulan Ramadhan. Di kantornya pun terdapat musholla permanen dan bisa mendapatkan cuti untuk pergi haji.

Mempercayai bahwa Allah membawa kita ke rantau untuk pengembangan diri yang lebih baik

Melanjutkan kisah Dea di atas, merantau ke Jepang membawanya hijrah menjadi individu yang lebih baik. Memasuki tahun kedua bekerja, Dea memilih untuk berhijab. Keputusan berhijab ini didukung penuh oleh Suami (seorang jepang muallaf) yang memang sudah meminta Dea untuk berhijab sejak menikah. Di saat itulah dia merasa bahwa Allah begitu sayang padanya, meskipun suami nya adalah seorang Jepang yang baru masuk Islam, namun justru suami nya yang balik mengajarkan Islam kepadanya.

Dea mungkin tidak menyangka bahwa perjalanannya ke Jepang membawa dia menjadi individu yang makin mendekatkannya pada Allah SWT. Kita tidak tahu, kemana takdir Allah SWT akan berujung, namun percayalah bahwa Tuhan membawa kita ke Jepang/ suatu tempat untuk suatu maksud. Tidak sedikit kawan yang berhijrah menggunakan hijab selama di rantau, tidak sedikit kawan yang justru karena di rantau lah mulai belajar Islam dengan giat. Mereka yang bertransformasi adalah mereka yang mau membuka diri untuk menjadi lebih baik secara akal dan ruhiyah.

Nikmatilah perjalanan merantau ini..

Cara yang paling ampuh untuk menjaga semangat keislaman ini adalah dengan dengan menikmati perjalanan rantau kita, dan tunjukkan bahwa Islam adalah agama yang mudah. Seorang muslimah tetap bisa berkimono warna-warni tanpa menanggalkan hijabnya, seorang muslimah tetap bisa berwisata keliling  Jepang tanpa meninggalkan sholatnya, seorang muslimah tetap bisa makan makanan halal dan thoyyib tanpa harus kurang gizi dan kelaparan.

Anggaplah diri kita menjadi agen muslimah Indonesia di rantau. Lewat kita lah, orang Jepang atau penduduk lokal mengenal orang Indonesia dan orang Islam. Lewat tutur kata, cara berpakaian, dan berperilaku yang baik, maka mereka mengetahui seberapa indahnya agama kita.

3

Melebur dengan saling menghormati nilai yang dianut- Dokumentasi Pribadi

広告

Kalau Kyoko (dan adek2nya) penasaran Ibu di kampus ngapain aja…(Episode 2)

Halo Kyoko yang lagi bobok dan adik2nya. Jangan lupa sikat gigi sebelum tidur dan jangan biasain begadang ya wkwkkw.

Btw, Ibu udah lama banget nih ga lanjutin  cerita tentang Ibu di kampus S1 dulu, atau bahkan ibu sudah lupa apa yang Ibu tulis di pos sebelumnya hahahaha. Jadi, tolong maafkan ibu ya, kalau banyak cerita yang ga koheren dan aneh dirasa.

Okeh, mari kita lanjutkan yah, sekarang ibu akan bercerita berdasarkan tokoh-tokoh yang muncul dan dari mereka Ibu banyak belajar :).

SUPPORT SYSTEM IBU 1: TEMAN KOS YANG LUAR BIASA!

 

Pengalaman jauh dari Datuk dan nenek adalah masa-masa yang membuat Ibu sadar bahwa keberadaan orang tua itu memang ga bisa digantikan, keberadaan fisik orang tua memang tidak bisa digantikan telfon ke rumah. Masa-masa menanti balik untuk ke depok (Btw, ibu lebih sering pulang ke rumah ya dibanding mamak dhika, mamak dhika itu satpam kampus wkwkkw), tidak terlalu menyiksa karena Ibu alhamdulillah punya sahabat-sahabat kosan yang luar biasa saling mengisi kebutuhan jiwa teman-teman kosannya hahaha.

Kami semua punya sifat yang berbeda banget, cara belajar yang berbeda, dengan jurusan yang berbeda. di kosan ini, kami dibuat bersatu karena kalau tidak maka kami akan ditekan oleh penjaga kosan heehehhe. Ah sudahlah, bagian yang itu kita tidak usah bahas ya Kyoko.

Tante Nadia Rayhanna adalah tante yang ibu kagumin, Tante Nadia ini multitalenta banget Kyoko. suaranya bagus, bahasa Inggris tulis nya bagusss sekali sepertinya Ibu bisa lihat bahwa tante Nadia terbiasa dengan bacaan Bahasa Inggris yang diksi nya elegan. Tante Nadia juga jago foto, bukan hanya bagus dari sisi pengambilan gambar, lebih dari itu, foto nya selalu penuh dengan makna. Tante Nadia ini dalam 🙂

Tante Nadia memutuskan berhijab ketika di tengah-tengah masa ngekos, saat itu Ibu senang sekali melihatnya. Tante Nadia lulusan Delft loh Kyoko, keren yah! Kalau Kyoko mau tau tentang kuliah di Belanda, Kyoko bisa tanya ke Tante Nadia 😀

disini yang di tengah adalah Tante favorit ibu juga, namanya tante Dina. orangnya lucu banget Kyoko. Khas anak jurusan FSRD. Orangnya berapi-api dan terkadang bikin kita deg2an kalau lagi marah, tapi di saat yang sama, Tante Dina ini pembela kebenaran alias ga takut mengutarakan apa yang dia anggap benar. Keren deh tante Dina ini.

Tante Dina ini selera musik nya sama kayak Tante Nadia, yang mana ibu kurang mengerti hahahaha. Tante Dina dulu SMA 8 (satu SMA lho sama Tante Nadia) pernah mengikuti Exchange program ke US, sehingga bahasa Inggris nya lancar. Tante Dina dulu salah satu orang yang menyemangati Ibu untuk terus berusaha mendaftar Exchange Program ke Jepang.

Pernah, suatu ketika Tante Dina bilang “Dit, menurut gue lo bakal ke Jepang deh, beneran!”. Wah saat itu, Ibu masih ingat, ada semacam api2 yang muncul di mata Tante Dina, lucu deh. Alhamdulillah Kyoko, ternyata ga cuman Ibu yang terlempar ke Jepang dan Tante Nadia yang terlempar ke Belanda. Tante Dina juga terlempar ke Italia belajar desain <3.

Selain yang ada di foto ini, ada Tante Ima cantik yang resik yang juga saat ini sedang ambil PhD di Tokyo Tech, ada Tante Tyas yang pintar gambar, ada Tante Yusie yang saat ini jadi hijabers cantik dengan banyak follower dan ada Tante Fira yang imut yang sedang sibuk mengabdi untuk Jakarta.

SUPPORT SYSTEM IBU 2:  TEMAN-TEMAN SATU JURUSAN 

kuliah di SBM itu secara lingkungan memang jauh dibandingkan dengan suasana jenjang pendidikan ibu sebelumnya Kyoko, Ibu butuh 1 tahun lebih untuk beradaptasi dengan kawan-kawan sejurusan Ibu. Tapi Alhamdulillah, setelah itu Ibu justru merasa amat beruntung pernah mengecap pendidikan di SBM bersama dengan teman-teman yang berfikiran aneh, unik. semua orang punya cara berfikir beda, dan mayoritas dosen menghargai cara berfikir muridnya yang aneh.

Walaupun terkadang banyak mahasiswa yang kelewat “ajar” kepada pengajarnya, dan terkadang Ibu pun merasa tidak nyaman melihatnya, tetapi para pengajar cukup sabar menghadapi kami. “tekan-menekan” sesama teman ada, bahkan untuk hal yang tidak penting sama sekali. Perkara fisik, misal. Ibu cuman ingin Kyoko tau bahwa jangan pernah menjadi bagian kelompok yang suka “menekan” orang lain ya, dan kalau Kyoko tau itu salah, maka jangan menjadi kelompok “main aman” yang tidak mau membela orang yang tertekan itu :D.

Yah begitulah, masa-masa S1 memang masa dimana semua orang mungkin melakukan kesalahan terbodoh ya, belum dewasa sepenuhnya. Sehingga kalau diingat sekarang mungkin harusnya taubat yang sebenar-benarnya :).

Alhamdulillah di tengah segala hal pelik, seru, asem, manis selama S1, Ibu punya kawan dekat yang selalu ada di saat Ibu sedang butuh sokongan. Salah satunya ada sahabat ibu namanya Kodil. Tante Fadilla Paramitha namanya, orangnya kocak deh Kyoko. Dia punya cara berfikir yang unik nih si Tante ini, tante ini orangnya sangat rendah hati dan ngajarin ibu banyak hal tentang bagaimana berkomunikasi dengan orang lain.

Tante Kodil ini teman setia Ibu dalam mengikuti kepanitian di luar kampus. Saat jaman Ibu mulai kuliah, alhamdulillah makin banyak mahasiswa jurusan ibu yang mulai aktif di kepanitiaan pusat. Tante Kodil dan Ibu pernah ikut dalam kepanitiaan Pagelaran Seni Budaya dan dalam kepanitian OSKM Orientasi Mahasiswa Baru.

Di dua kepanitiaan besar itu, pertemanan kami makin “terasah”. Ibu rutin juga menginap di kamar nya Tante Kodil, dan lewat Tante Kodil, Ibu jadi kenal juga dengan Tante Lia. Tante cantik yang pernah studi di Newcastle (salah ga ya nama kampusnya) dan sekarang sedang menemani suaminya studi S3 di Kitakyushu. Semoga Kyoko bisa menemukan seseorang seperti Tante Kodil yah di kehidupan pertemanan Kyoko ❤

 

1918700_1195884732098_8373597_n

Di SBM, Kelas Ibu dibagi ke dalam 4 kelas tutorial, dan di tahun ke-dua SBM, dimana kami harus benar-benar terjun ke bisnis dalam waktu 2 semester, teman satu tutorial itu dianggap sebagai teman 1 perusahaan. Mata kuliah “terjun bebas bisnis” itu adalah IBE Integrated Business Experience. Disitu, kami benar-benar merasakan bagaimana rasanya harus memotivasi satu kelas untuk berjualan.

Disitu juga, kami belajar untuk mengetahui talenta masing-masing anggota Kelas. Teman-teman yang fotonya ada di atas itu Kyoko, adalah Tante-Tante yang luar biasa banget. saat ini mereka sedang dalam jalan mencapai goal besar hidup mereka. Ada yang sudah jadi Ibu, ada yang sedang menanti jodoh 🙂

Dari yang berderet di atas itu, ada 3 orang yang memori nya cukup lekat di Ibu, yaitu: Tante Vita, Tante Meta, dan Tante Krista. sebenarnya banyak tante-tante lain yang juga punya memori menyenangkan dengan ibu. Tapi kalau Ibu ceritain nanti bisa jadi 1 tesis saking panjangnya T,T

Tante Vita adalah teman satu kelompok favorit ibu, karena selain selalu punya ide aneh, Tante Vita ini orang yang bertanggung jawab. Tante Vita ini bisa membuat laki2 bandel yang ada dalam satu kelompok untuk takluk ikut mengerjakan tugas. Tante Vita ini disayang sama satu angkatan banget Kyoko hihi

Tante Vita pernah berkata sesuatu yang lucu tapi sangat masuk akal. Katanya: “Gue nanti mau S2 ah”, Trus ada yang nanya, “Buat apa vit?”, kata tante Vita: “Ya biar anak gue tau kalau Ibu nya pinter” :))

Jawaban naif yang dalem yang bikin Ibu inget sampai sekarang.

Selanjutnya ada Tante Meta. Tante Meta ini salah satu aikon MC paling luar biasa oke di angkatan Ibu. Bahasa Inggris oke, bahasa Indonesia pun cukup apik dan enak didengar. Memang hebatnya pola didik di SBM adalah, semua anak SBM itu keluar dengan kemampuan presentasi yang baik (semoga ibu juga begitu heuheu). Nah, kemampuan berbicara depan publik Tante Meta ini jauh di atas rata2. Tante Meta itu juga semangat banget belajarnya, dan yang bisa Ibu liat, tante Meta ini sayang banget sama adek2nya, ibu acap kali kepo ngeliat ke akraban tante meta dan 2 adiknya. Hihi, jadi bikin ibu semangat punya 3 anak perempuan ihihi.

Tante Krista adalah teman ibu yang buat ibu banyak berfikir hahaha. Masa-masa awal dimana Ibu merasa Tante Krista adalah sohib yang asik ketika kami berdua menghabiskan malam untuk belajar mata kuliah paling masya Allah se-tahun kedua SBM, yaitu mata kuliah Operation Management. Disitu kami mulai banyak diskusi, dan menemukan bahwa kami berdua sama-sama agak lemah di mata kuliah itu dan harus berusaha lebih. Tante Krista ini mengajarkan ibu banyak hal, salah satunya adalah bagaimana untuk percaya diri dengan hal yang ingin disampaikan.

(Btw, Tante Krista ini emang tipe2 orang suka ikut Lomba gitu Kyoko, beliau finalis Indonesia untuk Loreal Business Competition dan finalis kompetisi Danone juga, serem. )

Sebelum ibu mau presentasi hal yang penting, dan merasa ga pede, si Tante Krista ini bilang ” Kalau lo aja ga percaya sama apa yang mau disampein, gimana yang dengerin mau percaya sama lo?”. Jleb. Ini adalah kalimat yang Ibu ingat sampai sekarang, seenggaknya sampai Ibu mau presentasi tesis S2.

Perjalanan “garis hidup” Ibu dan Tante Krista ini lucu menurut ibu. Sepaham Ibu, yang mempunyai niat untuk kuliah sampai S3 itu adalah Ibu, karena Ibu yang menggebu2 menjadi dosen dan ambil kuliah sampai S3, dan Tante Krista ibu ga menyangka punya niat kuliah sampai S3 karena ibu mengira beliau akan langsung berkarir di perusahaan atau buka usaha. Namun yang terjadi sekarang adalah Tante Krista yang sedang S3 di UPenn dan Ibu Insya Allah akan mundur dari aplikasi S3 Ibu di Queensland Univ untuk mencoba fokus untuk membuka usaha sendiri. Masya Allah, rencana Allah SWT kepada manusia itu memang bermacam2, dan insya Allah itulah hal baik yang Allah berikan kepada kita.

Tante Krista dan Ibu, kami berdua mengambil “konsentrasi” alias penjurusan yang sama di tingkat akhir kuliah S1. Kami mengambil konsentrasi “Human Resource”, sebuah pilihan yang tidak populer bagi anak2 SBM. Yang hits lalu apa? sudah jelas jawabannya adalah Finance dan Marketing.

Di konsentrasi Human Resource Management (atau orang sekarang lebih senang memanggilnya dengan Human Capital Management), kami ada sekitar 6 orang. Dari semua yang pernah masuk ke Human Capital Management (HCM), alhamdulillah ada dua orang yang masih “lurus” berada di jalur karir HCM. Alias memang masih bekerja di bidang HCM. Terimakasih Dea dan Yanda! kalian HC sejati! wkwk (Sebenernya Tante Krista itu juga masih “lurus” karena sempat bekerja di Hay Group, tetapi setelah itu Tante Krista mengambil S2 dan S3 di bidang real estate kalau ibu tidak salah)

Karena peminat jurusan HC sangat sedikit, sehingga kalau masuk kelas penjurusan isinya dia lagi-dia lagi, di tahun ketiga kami, kami menjadi dekat dan sering tukar menukar ilmu HR. Ketika Ibu dulu mengambil Internship di Human Capital nya Medco Energi pun, Ibu sempat mengontak teman-teman kuliah 1 “konsentrasi” untuk memperkaya pengetahuan.

Foto di bawah ini adalah foto wisuda di tahun 2011, dari kiri ke kanan: Yanda, Yorint, Dea dan Krista. Saat itu, Ibu sedih karena tidak bisa wisuda bareng. Tapi di sisi lain kalau merasa sedih artinya Ibu tidak bersyukur karena di saat itu Ibu sedang berada di Kanazawa untuk mengambil bagian dalam program Exchange 1 tahun. Sebuah hal yang sangat ibu2 cita-cita kan sejak SMP.

 

wisuda.jpg

Nah, di atas itu, Ibu sempat menyebut Om Yorint ya? Dia adalah teman “satu perjuangan” Ibu juga. Beliau adalah ketua angkatan SBM 2011 yang sangat mengayomi angkatannya. Kami bersama om dan tante lain punya tujuan yang besar saat itu bahwa angkatan kami harus berpartisipasi aktif di kegiatan besar kampus. Salah satu hal aktif tergila versi kami (yang meski kata orang -orang mungkin biasa aja hahahaha) adalah dengan mengikuti kepanitiaan PEMILU RAYA Pemilihan Presiden KM ITB.

Ibu lupa persis tahunnya, yang jelas saat itu sedang jaman pemilihan Kak Ridwansyah Yusuf Achmad >< Kak Muhammad Yunus >< Wakil PSIK (maaf kak saya lupa namanya T,T nampaknya beliau anak elektro かな〜). Wah kalau mulai lupa-lupa gini Ibu jadi berasa tua, padahal ibu baru 27 tahun huhuhuhu

Kalau boleh Ibu pilih satu kepanitiaan yang akan membuka mata Kyoko tentang “bagaimana kampus ini bergerak” dan bagaimana “kekuatan di kampus ini tersebar” maka kepanitiaan PEMIRA (Pemilu Raya) inilah jawabannya. Ibu itu pada dasarnya senang mempelajari karakter orang, bagaimana kelompok itu bekerja, bagaimana dan siapa orang-orang kuat dalam kelompok bisa mempengaruhi orang lain misal. Kesukaan ibu akan “manusia” lah yang membuat ibu mengambil jurusan Human Capital juga hahaha. (lah kok nyambung ngomongin jurusan wkkw)

Di kepanitiaan ini, Ibu jadi mengenal karakter manusia-manusia di setiap jurusan. Bagaimana bedanya mahasiswi cantik Teknik lingkungan dan Biologi, laki2 di jurusan perminyakan ternyata beda nyata dengan mahasiswa jurusan tambang (meski keliatan jurusannya sama2 keras wkwk).

Di bawah ini adalah foto yang di ambil pagi-pagi menuju masa-masa pemungutan suara, diambil pagi-pagi ketika Ibu ga sengaja melihat dua makhuk Om ini (Om Yorint dan Om Bima) di markas sekretariat panitia pemilu raya. Mereka sedang dalam masa paling bangga saat itu karena menginap di sekre karena harus mengerjakan tugas kepanitiaan.

Saat itu, kami merasa, mengerjakan sesuatu hal kepanitiaan di luar akademik adalah cool. Lebih cool lagi untuk para lelaki kalau bisa begadang mungkin ya? hahaha. yah kalau ga berfikir norak dan aneh kayak gini emang bukan mahasiswa :))

1909537_1087371874665_3801713_n

teman-teman KM-SBM (Keluarga Mahasiswa-Sekolah Bisnis Manajemen),adalah teman-teman yang berusaha merepresentasikan SBM dengan baik di depan masa kampus. Tetap ber-ITB tanpa kehilangan value SBM-nya (nah lho gimana tuh Kyoko? hwhaaha). Tahun 2010-2011 adalah pertama kali nya (kalau ga salah) kami mengadakan arak-arakan wisuda. Pertama kalinya, kami mempunyai yel-yel jurusan dan ikut kampi tampilkan di arak-arakan wisuda ITB.

Arak-arakan wisuda adalah hal yang Glamor bagi mahasiswa ITB, budaya yang tidak berbahaya kalau disikapi dengan positif. budaya yang tidak berbahaya kalau dipersiapkan dengan tidak berlebihan. Arak-arakan wisuda adalah momen yang berharga, dimana Ibu bisa melihat kesungguhan junior mempersiapkan “cara pelepasan” senior yang terbaik. Tentunya, ibu selalu menunggu-nunggu arak-arakan dari mahasiswa seni rupa dan desain. Karena mereka selalu keren warbyazah!!!

 

30857_1462509885489_2431097_n

Halo teman-teman pada foto di atas, bagaimana kabar kalian sekarang? Senang mendapati kalian sebagai bagian masa muda gue wkwkkw

SUPPORT SYSTEM IBU 3:  TEMAN-TEMAN SATU ITB

172201

 

Selain Pemilu Raya KM ITB, ada satu kepanitiaan di kampus yang terlalu sayang untuk dilewatkan.Sebuah kepanitiaan yang bisa mengumpulkan kembali teman-teman sebelum terpecah masuk ke dalam himpunan. Kepanitiaan yang bisa membuat Ibu merasa satu ITB selain masa-masa awal orientasi menjadi mahasiswa baru.

Kepanitiaan Orientasi Mahasiswa Baru sebenarnya adalah masa pengkaderan dari si panitia sendiri. Karena untuk menjadi panitia penyambutan mahasiswa baru ini banyak tahapannya. dari mulai seleksi beneran yang dilakukan panitia, sama seleksi hati dan niat. Karena awal-awalnya yang mendaftar menjadi panitia warbyazahhh banyak, lalu di ujung cuman segelintir yang bertahan.

Ibu harus bilang kalau Kemahasiswaan ITB mempersiapkan penyambutan mahasiswa baru ini dengan amat serius, mulai dari mobilisasi peserta, performance dan kegiatan apa yang bisa dilakukan agar anak baru tidak bosan.

Sayangnya, yang ibu dengar, makin kesini, proporsi acara rektorat dan acara yang dipegang mahasiswa makin tidak seimbang. Semoga Kyoko masih sempat merasakan ya bagaimana asiknya bisa ambil bagian dalam Acara orientasi mahasiswa baru.

Dari menjadi panitia lapangan di acara Orientasi Mahasiswa inilah, Ibu banyak mengenal kawan-kawan lintas jurusan yang pikirannya dan action-nya Masya Allah  menginspirasi Ibu. Dari sinilah Ibu mulai kenal salah duanya  Tante Sausan (TL 2008) dan Tante Arimbi (Sipil 2008)

Tante Sausan ini adalah Srikandi nya Teknik Lingkungan, beliau pernah maju menjadi senator nya mahasiswa Teknik Lingkungan lho! keren bangett T,T. Secara menjadi senator itu butuh orang yang mau berkomunikasi dengan himpunannya sendiri dan tahan banting karena terkadang pekerjaannya ga dianggap penting meski sebenernya vital (nah lho).

Kalau misalnya ada acara kampus yang acaranya malam-malam, hmm misalnya ada forum hearing, atau ada diskusi sesuatu yang seru untuk disimak. Ketika Ibu bingung harus ajak siapa dan kira-kira disitu ada siapa, maka Ibu akan menemukan tante sausan ini dalam list “siapa yang bisa bareng2” :))

Salah satu wanita tangguh yang Ibu kenal selain tante Sausan, adalah Tante Gini Arimbi. Tante Arimbi adalah pemred dari Cremona, majalah keprofesian Sipil yang terkenal banget. Tante Arimbi ini orang yang persistence dan ga kenal lelah untuk mencoba hal baru. Kalau Mamak Dhika mungkin udah bosen Ibu ceritain tentang Tante Arimbi ini, karena Ibu selalu menunjuk Tante Arimbi sebagai role model anak sipil ITB wkwkkw.

Walaupun Ibu dan Tante Arimbi ini momen ketemu dan ngobrol bisa diitung pake dua tangan, tapi obrolan kami insya Allah selalu menghasilkan sesuatu yang bisa membuat kami berfikir untuk lebih baik. seenggakya sih itu yang Ibu rasakan yah, enggak tau deh Tante Arimbi gimana kwkw

Oiya, belum lama ini Tante Arimbi memutuskan untuk berhijab, barakallah Tante Arimbi cantik <3, Sampai sekarang bergeterr deh kalau inget momen dimana kau memberitauku kalau kau berjilbab.

114

Selain bersama teman-teman kepanitiaan, Ibu juga mempunyai support system yang luar biasa, Kyoko. Yaitu teman-teman Ibu di Kabinet Keluarga Mahasiswa. “karir” ibu disini, dimulai saat ibu tingkat awal masuk ke dalam kabinet Kak Shana sebagai staff bagian ekonomi. Merasa kurang dimanfaatkan akhirnya Ibu dipindah ke bagian PSDM. saat itu menteri nya adalah Kak Dimas Taha (Kak Dimas ini suami nya Tante Shabrina Nida hahaha), disitu Ibu mulai faham bagaimana sistem Kampus ITB dan segala cerita unik di dalamnya.

Setelah diam lama di PSDM, Ibu ingin tempat yang baru, tempat yang ternyata cucok banget buat Ibu, yaitu di Divisi Kementrian Seni dan Budaya. disitu Ibu bertemu dengan banyak orang yang lucu, aneh tapi bervisi :).Disitu lah Ibu sempat berkenalan dengan Tante Fransisca Callista. Tante yang luar biasa punya ketangguhan hati untuk menggapai mimpinya. Tante lulusan S2 Chiba University yang sekarang mengabdikan dirinya untuk masyarakat daerah Papringan.

Di tahun kedua Ibu, Ibu diajak untuk menjadi bagian inti dari BEM KM ITB. Ibu menjadi Bendahara untuk Kabinet Kak Herry Dharmawan. Karena saat itu Ibu merasa rempong jika hanya sendirian memegang fungsi bendahara, maka Ibu mengajak Tante Marsha untuk menjadi wakil bendhara Ibu. Bendahara ini bergerak di bawah Menteri Koordinator Perekonomian yang dipegang Om Gesa Falugon. Yang suka sekate-kate bilang kami duet Tronton -_- wkwkkw, jadi Kyoko bayangin kalau lagi forum kampus yang ditonton banyak Mahasiswa, si Om Gesa ini bilang ” (Ya saya datang bersama dua tronton saya, Dita dan Marsha)  -__-). Tapi ga apa, memang udah nasib.

Tante Marsha adalah salah satu sohib kental Ibu selama berada di kabinet, bersama dengan Tante Nafisah juga. Wah memang berada di kepengurusan kabinet yang intens itu meski ga buat kurus karena mengurus sesuatu, setidaknya menjadi proses penyematan rasa “deg deg serr” buat beberapa pasangan. Seperti Om Herry Dharmawan si om presiden yang menikah dengan Tante Marsha haha

Dan layaknya pasangan hits Tante Nafisah yang menikah dengan sohib kental berantem diskusinya Om Ihsan hahahaha. Duh kalau mau ngomongin pasangan ini mah meski beda chapter.

109

Om Gesa dan tante Marsha: Bersama dengan Tante Nafisah, kami membentuk grup THE BIG FIVE!! dengan anggota kelima yang masih dirahasiakan sampai sekarang.

Btw, Ibu udah pegel banget nih Kyoko. Jam 7 pagi dan Ayah belum balik dari masjid dan dikau masih bobok wkwk gegara abis pilek kemaren. Berhubung ibu juga udah laper, mari kita sudahkan pos nya disini.

Ibu menutup postingan ini dengan satu kisah dan satu foto yang termasuk sangat memorable buat Ibu. Yaitu saat dimana Ibu harus menjadi MC acara pembagian hadiah Olimpiade ITB tahun 2008 atau 2009 yah lupa hihi, yang jelas saat itu ibu masih anak tingkat 1.

Tingkat 1 polos, naif, ga tau apa2, mau2 aja disuruh jadi MC. Dengan kemampuan MC yang ya ampun ala kadar banget, ditonton sama mahasiswa yang mempertanyakan kenapa bisa dua orang ini didaulat jadi MC. Ah ya sudahlah, kalau diinget2 pengen garuk2 tanah deh

Menjadi mahasiswa itu banyak hal bodoh dan manis yang layak diingat tapi tidak layak diulang. Masa-masa yang ga bisa diulang sehingga sekali datang kesempatan itu maka harus dimanfaatkan dengan sebaiknya.

2410_52752434070_3737_n

Di foto ini, Ibu bersama Tante Elmy ❤

 

Kita tutup dulu pos disini ya Kyoko, Ibu belum buat sarapan, ayah udah mulai bete wkwkwkwk

 

❤ ❤

IBU

 

Kalau Kyoko (dan adek2nya) penasaran Ibu di kampus ngapain aja…(Episode 1)

Perhatian: yang tertulis dalam pos ini adalah kejadian yang terjadi antara 2008-2011, informasi dan cerita yang tercantum mengenai keadaan program studi dan kampus sangat mungkin tidak relevan jika dihubungkan dengan kondisi saat ini. 

 

Halo Kyoko, Assalamualaikum, wah hebat ya udah bisa browsing internet hahahaha. Sengaja nih ibu buat pos ini, biar ibu ga lupa tentang kehidupan ibu jaman masih muda belia nan besar dahulu wkwk. Soalnya kalau kamu udah jaman masuk kuliah, ibu udah umur berapa coba? nanti lupa deh sama memori terdahulu ceritanya jadi ga asik.

Halo juga adek2nya Kyoko, hayo jangan kelamaan ngeliat komputer ya! (tetep galak yah ibunya)

Btw (By the way ahahha-ah masa kamu ga ngerti) Nanti kalau misalnya wordpress udah punah 18 tahun lagi, ya semoga ibu nyimpen draft blog nya di komputer ya (itupun kalau komputer juga belum punah wkwk). Duh ini pos tuh harusnya sendu2 gimana kok jadi banyak wkwkw nya yah wkkw.

Berhubung Ibu itu sebenernya pelupa, jadi ibu cerita dari foto-foto aja ya. Kalau ceritanya ibu loncat-loncat, udah kamu ga usah protes, terima aja. Okeh, kita mulai aja ya sis..

Kenapa ITB

Sesungguhnya Ibu kamu ini orangnya pasrah pas mau menuju kuliah. Ibu itu ikut beberapa kali tes masuk universitas dan alhamdulillah dikasih tau Allah SWT gimana perasaan gagal test beberapa kali. Ibu dulu daftar masuk FK dan FKG UGM, ga lolos. Dulu pernah daftar UI Farmasi, Arsitek dan apaa gitu, enggak lolos juga. USM ITB pertama daftar SAPPK, SF dan FSRD Seni Rupa (wah kamu kaget ya ibu tertarik FSRD? sebenernya Ibu dari dulu suka banget melihat desain interior rumah, suka main program komputer tentang mendesain rumah, dari bocah suka bacain majalah ASRI dan ngeliat gambar-gambar arsitek dan disain interior. Mungkin sedikit terpengaruh Datuk yang walaupun bekerja di bidang sipil tapi punya  kesukaan “ngarsitek” yang cukup kental)

Tapi atas izin Allah SWT, ibu baru diloloskan di USM ITB kedua, waktu itu sebelum memutuskan program studi yang akan ibu daftar, Datuk dan nenek mengajak ibu pergi ke ITB. Disitu Datuk dan Nenek masuk ke dalam gedung SBM (Sekolah Bisnis dan Manajemen) dan terpukau dengan fasilitas dan program belajar yang ditawarkan. Datuk dan nenek yang awalnya ragu untuk memasukkan Ibu ke SBM karena biaya kuliah nya yang kayak mau beli pulau (boong deng wkwk), jadi berfikir ulang. Waktu itu Nenek bilang ” Insya Allah kalau rejeki masih bisa dicari, daftar aja SBM”.

Mungkin waktu itu muka ibu udah keliatan mupeng kali ya. Kyoko tau mupeng apa ga? Ah ga gaul 2033 nih, maksudnya “Muka Pengen”. catet yah. Oh iya, Saat Malam menuju USM ITB kedua tiba, waktu itu Ibu dan nenek menginap di hotel Bukit Dago, hotel deket Dayang Sumbi yang strategis untuk tempat menginap saat ujian. Ibu malam-malam nya nangis, karena ga kebayang bakal nge-kos dan tinggal jauh dari orang tua, saat itu Ibu minta ke Allah SWT kalau memang ITB itu tidak baik buat Ibu, jangan ibu diloloskan di USM ini.

Eh, ternyata Masya Allah, Kata Allah SWT,  ITB adalah jalan terbaik buat Ibu. Akhirnya Ibu dengan style yang akhwat SMAN 39 pisan hihi berpetualang bareng dengan Tante Fira, sohib ibu sejak SMA itu. Kami berpetualang di Bandung, kota yang sukses bikin ibu pengen pindah tinggal permanen disitu kalau udah berkeluarga (eh tapi ibu dapetnya ayah yang basis “karir”nya ingin di depok wkwk)

Kami, Ibu dan Tante Fira, me-ngekos bareng di Jalan Bangbayang 23A. Disitulah perjalanan yang mengubah hidup dimulai. Nah, dari sini, ibu mulai cerita dengan foto-foto ya (kalau ibu inget wkwk)

Menjadi NIM 190 di ITB (2008-2011)

Kosakata yang mungkin membingungkan>> SBM: Sekolah Bisnis Manajemen

Sesungguhnya, masuk SBM adalah masa adaptasi terberat Ibu selama ibu mengecap pendidikan. Serius, bahkan lebih berat dibanding adaptasi awal ibu di Jepang saat exchange di kanazawa ataupun di Tokyo Tech Dahulu saat S2.

Masuk Sekolah Bisnis Manajemen dengan teman-teman yang memang Masya Allah pintar dan ternyata punya gaya hidup yang jauh berbeda dengan Ibu, membuat Ibu harus lebih banyak mengevaluasi diri dan membuka diri. Bukannya tanpa air mata dan rasa marah, Ibu disini pun beberapa kali kena “diledek” dan “ditekan” oleh teman, dan merasa kuper ataupun rasa percaya diri ada di titik 0. Namun, Alhamdulillah ternyata, dengan bantuan teman-teman SBM pun, Ibu bisa menjadi orang yang menurut Ibu sih, bisa terbuka dan menerima pandangan yang berbeda dengan Ibu yang dulu, duile. (Kyoko pasti mau ngomong gini ya “Ih ibu kok muji diri sendiri!” bukan itu maksudnya, ah susye dah)

Dulu katanya, yang sekolah di SBM itu cuman putri dan pangeran, maksudnya ini merujuk ke angkatan di atas ibu ya. Trus, mulai keliatan “terusik” si image SBM ini, begitu  angkatan ibu yang “muka-muka” nya mirip anak tenik kayak Ibu masuk wkwk. (asyem ya, tapi kata senior ibu sih begitu). Gap antara anak SBM dan non-SBM, Ibu akui sangat terasa saat itu, katanya saat ini sudah tidak seperti itu, alhamdulillah jaman sudah berubah semakin baik ya Kyoko 🙂

Masuk pertama ke SBM, Ibu kaget dengan penampilan teman-teman Ibu, pun selayaknya mereka kaget ngeliat orang kayak Ibu kok bisa ada di SBM hahaha. Btw ibu dulu penampilannya “akhwat banget” deh Kyoko, ga berani pake baju asimetris aneh-aneh kayak sekarang. Saat ibu awal berada di SBM, ibu kaget kok ada ya temen ibu yang hampir setiap hari ke salon, salon mahal pula. Kok bisa ya tas Longchamp yang harganya menurut Ibu mahal banget itu dipunyai 3/4 anak perempuan angkatan Ibu. Kok bisa ya temen-temen ibu kayak butik berjalan :D. Pemandangan awal yang terlihat luar biasa mengagetkan dan lama-lama menjadi biasa.. (Ini hal baik atau hal kurang baik ya Kyoko? hehe)

Yang paling buat ibu kesel saat awal masuk adalah orang ga percaya kalau Ibu anak SBM. Saat upacara masuk, ibu selalu disangka anak Farmasi atau anak Biologi. Ibu pernah dipeluk sama seorang senior akhwat GAMAIS ITB saat ada acara OHU (Open House Unit-kalau bingung, coba tanya Mamak Dhika), pas begitu tahu ibu mau daftar GAMAIS dan ibu dari SBM. Apa mereka kaget ya kok anak SBM dekil kayak Ibu? wkwk.

Dulu saat masa-masa pertama kali masuk kuliah, Ibu dikumpulkan di lounge oleh senior. yang berada di seberang kampus utama SBM. Disitu ibu dikumpulkan oleh senior dan diberitau bahwa “Kalian sebagai anak SBM harus kompak, karena kita akan “ditekan”( hmm apa ya kotoba atau kata yang sesuai, seinget dulu sih pakai kata “ditekan” ) oleh anak-anak ITB, jadi kita harus kompak dari dalam”.

Sungguh ini senior yang aneh. Mungkin kalau senior Ibu ini yang sekarang udah jadi Tante dan Om mendengar kata2 ini, mungkin mereka malu atas kata-kata yang dulu dilontarkan. Ya gimana, masa anak ITB menggencet anak ITB lain, kan ga lucu. Mungkin senior ibu ingin menyiapkan mental “anak SBM” jika merasa “diasingkan”, padahal mungkin tanpa sadar kita yang “mengasingkan” diri ya? hehehe

Melihat yang ganjil dengan hubungan “SBM dan mahasiswa ITB jurusan lain”, justru membuat ibu makin penasaran. Penasaran itu ibu wujudkan dengan mengikuti kegiatan kumpul-kumpul dengan anak baru ITB yang lain. Ibu ingat sekali, kesal rasanya saat semua program studi di absen oleh Kakak Kelas, SBM itu lupa disebutkan.

Ibu bilang saat itu “Kak, mana SBM kok ga disebut?”, lalu senior dan teman-teman Ibu yang ikut kumpul kaget, kok ada anak SBM yang ikut kumpul seperti ini. Ibu harusnya lebih kaget, kenapa sih mereka pake kaget?

Mungkin yang membuat kenapa SBM terlihat eksklusif adalah karena lokasi kami dan fasilitas, serta bayaran sekolah Ibu yang berbeda (beda jauh sih sebenernya). Kami (Ibu dan teman2) juga punya jatah 3 tahun untuk lulus, jadi berasa ikut kelas akselerasi. Tugas menumpuk dan presentasi yang deadline nya mirip deadline kantoran (By Email jam 12 am teng paling telat) memang membuat kehidupan kami muter disitu-disitu saja. Silakan bilang ini pembelaan, tapi saat itu memang yang kami rasakan.

Tapi sebenernya, itu bukan pembenaran untuk tidak ikut kegiatan kampus dan Ibu tahu benar itu. Sehingga Ibu dulu punya tekad yang kalau anak sekarang (maksudnya anak 2016) bakal bilang “Woelahh lebay”, yaitu: Ibu ingin mengubah image itu dan Ibu harus ikut semua kepanitiaan kampus sekuat Ibu.

Tujuan utamanya: Supaya SBM ga dianggap ekslusif. Woelah, kwkwk sederhana banget dan naif ya? tapi setidaknya dengan kenaifan itu ibu bergerak, Nak :). Lagipula kapan lagi bisa lugu kalau bukan saat menjadi Mahasiswa?

Jadi pengen cerita, lewat Datuk Ibu belajar kalau jadi mahasiswa memang masa-masa istimewa. Dulu ibu terkesima ketika datuk bercerita bagaimana Datuk memimpin mahasiswa sipil di kampus “makara” dulu untuk bergerak, bagaimana datuk mengikuti masa-masa pemilu himpunan sipil, bagaimana datuk juga berhadapan dengan dosen-dosen datuk untuk mempertahankan apa yang datuk anggap benar.

Cool pisan (park bo gum kalah lah! -maaf, ini efek pasca menonton moonlight drawn by clouds wwkwkw. Btw, Kyoko, kalau udah cukup umur, ayo kita nonton ulang bareng drama ini,semoga masih ada ya tersebar di internet wkwk).

Kyoko, saat menjadi Mahasiswa itu  adalah saatnya kita berbuat “kesalahan” karena di masa-masa itu masih bisa “dimaafkan”, lepas dari masa mahasiswa, maka kita harus sudah jadi orang dewasa sigap bijak wkkw. Makanya ibu tuh pengen Kyoko dan adek2 Kyoko nanti bener2 memanfaatkan masa-masa menjadi Mahasiswa, terutama hmm menjadi mahasiswa S1 🙂

Berkelana di ITB Dari tahun 1-3

<Tahun Pertama>

Singkat cerita (Singkat apa bu, udah 1000 kata wkw), Akhirnya dimulai lah perjalanan Ibu di Kampus Ganesha. Sebuah perjalanan yang membentuk banyak diri ibu sekarang ini. Ibu akan coba mengingat kembali dari foto-foto yang ibu Tampilkan ya, kalau tidak sesuai dengan runutan waktu, udah terima ajah deh yah wkwk.

233

(Lah, kok fotonya kecil Wakakakak)

> Ibu berusaha untuk ikut segala aktivitas yang memungkinkan, sejak ibu tingkat satu nak. Simpel nya, ibu pengen kalau jurusan ibu itu ada perwakillannya aja biar terasa 1 ITB nya. Yailah ibu kamu simpel banget yak. Ini di atas adalah ketika ibu ikut jogging bareng perdana ITB 2008, Ibu ikut acara ini barengan dengan Om Yorint, dia ketua angkatan SBM 2011 (Sekarang om yorint lagi nunggu kelahiran anak pertama nya lho hihi, “halo yor,selamat ya sebentar lagi jadi ayah). Disini, kami berusaha membangkitkan semangat 1 ITB, dan itu ibu memegang TOA, karena menurut mereka ibu cukup ga tau malu keliling2 teriak2 di kampus. dan mereka BENAR! huaahhaha.

>Lewat Forum ITB 2008 (walaupun tidak berjalan begitu lancar huhu syedih, disitulah Ibu berkenalan dengan beberapa anak 2008 yang bgitu semangatnya berorganisasi, ada motivasi yang pekat di mata mereka). Lewat forum ini ibu mengenal Tante Sausan (Srikandi nya Teknik Lingkungan, senator HMTL tahun 2010 kana? sori can gue lupa), Tante Yusi yang entrepreneur abis, dan om Brian yang galau2 ria, yang jadi orang penting di himpunan geologi.

17262_1272997878737_8302904_n

Ini adalah foto ketika akhir tahun pertama saat ibu jadi mahasiswa. Tante Fira, adalah orang yang paling ibu sering geret2 kalau ibu ingin ikut acara kampus, sebelum Ibu dan Tante Fira terpisah oleh kegiatan himpunan (osjur,dll) hiks jadinya agak susah ya cari waktu yang pas (tapi waktu pas untuk makan enak selalu ada ya fir? huahaa). Foto Ini seingat ibu diambil saat masa-masa Tante Fira baru saja dilantik sebagai anggota himpunan IMA-G (Gunadharma) lalu kami mengikuti forum sosialisasi (duh ibu lupaa forum sosialisasi apa). Disitu bisa kamu liat, Ibu sedang memakai jahim (jaket himpunan) KMSBM (Keluarga Mahasiswa Sekolah Bisnis dan Manajemen.

Boleh cerita sedikit tentang jaket himpunan KMSBM, di tahun ibu, tidak seperti himpunan pada umumnya, kami mendapatkan jaket “tanpa proses” alias kami ga ada ospek jurusan wkwkkw. Waktu itu ceritanya pada tahun 2008, terpilihlah Ketua Himpunan KMSBM namanya Kak Brian Yohanes W., beliau adalah “panutan” sebagian besar kami anak-anak 2008 SBM. kenapa? Karena beliau yang pertama kali membuat dobrakan!

Dobrakan, dengan menjadi panitia penyambutan mahasiswa baru di ITB. Satu-satunya di SBM angkatan 2007 yang menjadi panitia OSKM. Waktu itu, dia menjadi  Tim bamakarta (maaf kalau salah penulisan), yaitu tim Keamanan. Singkat cerita, ada 3 Tim lapangan di OSKM yang cukup 人気 populer. Yaitu Tim Keamanan, Tim Medik dan Tim Taplok (Tim Penata Kelompok).

Cerita tentang OSKM akan ibu bahas di tempat lain ya, Yang jelas Tim keamanan itu ada 価値nya sendiri, mereka keliatan cool, karena mungkin orientasi mereka itu sulit dn banyak kegiatan fisiknya. Untuk seorang anak SBM mau mengikuti kepanitian OSKM itu memang berat, karena masa-masa pelatihan kepanitian OSKM itu memakan waktu sekali.

Selain itu, bertepatan dengan semester pendek yang harus dijalani anak SBM. Kalau mereka tetap ingin menjadi panitia lapangan (yang pakai absen, kalau sering absen bisa ga boleh jadi panitia, padahal yang mau jadi panitia lapangan banyak dan penuh seleksi), jadi kemungkinan anak SBM tersebut ga akan mengalami libur panjang. Karena pasca semester pendek mereka harus fokus menjadi panitia lapangan OSKM.

Loh kok jadi ngomongin OSKM.

Intinya sih, si kak Brian ini menjadi Kahim dan dia mempunya kebijakan untuk mengubah Jas KMSBM (Jas himpunan SBM) menjadi jaket. Simpel, supaya anak SBM bisa memakai jaket itu kemana2, dan menjadi representasi himpunannya.

Buat anak ITB, Jaket himpunan itu hmmm kedudukannya seperti lebih penting dari jaket almamater. Kesannya jaket himpunan itu lebih punya identitas, representasi dari himpunan mereka, dari kelompok mereka, ya ga ada salahnya juga, karena di himpunan itu pusat aktivitas mereka, bahkan ada yang sampe nginep2 segala (untuk tau cerita segimananya anak ITB dengan himpunannya, Kyoko bisa tanya Mamak Dhika) . Yah begitulah budaya di ITB Kyoko, jadi kalau misalnya kamu iseng jalan-jalan di kampus kamu akan bertemu dengan banyak kakak senior berjalan dengan jaket berwarna kuning- ah itu mungkin anak Geologi, jaket warna merah- Ah itu mungkin anak tambang atau anak matemarika, atau planologi? Atau kamu akan menemui jaket berwarna hitamputih- oh itu mungkin jaket mamang ojek hahaha

Btw, jaket SBM emang awal-awal menimbulkan agak2 kontroversi, mulai dibilang mirip jaket HIMATEK Teknik Kimia sampai ada beberapa kawan yang bilang jaketnya mirip tukang ojek. Aneh banget ya Kyoko hahahha.

 

(Btw, Kyoko, sudah jam 4.28 dan Ibu kayaknya mau berenti disini dulu nulisnya, nanti Ibu lanjut lagi ya. Ibu harus bangunin Ayah soalnya mau sholat Subuh. Ayah lagi 頑張ってるbuat sidang pertama disertasi, kita harus semangatin ayah, ganbattee!)

 

Tentang Migrasi: Bye Bye Facebook!

Assalamualaikum rakyat wordpress sekalian,

Postingan-postingan setelah ini adalah hasil copy paste dari notes saya di Facebook. Jadi tolong pahami keadaan ini ya (tiba2 suasana jadi menyedihkan).

Okeh, untuk postingan pembuka mari saya copas-kan notes terakhir saya di FB.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Facebook, bagaikan blog, dia adalah saksi pendewasaan diri saya. Dari yang mulai menulis dengan (iya,,,,) hingga berubah tajam dengan (iya! Wkwkkw).

Dari Facebook, saya bisa berkenalan dengan banyak orang baru, dengan latar belakang yang luar biasa berbeda dengan saya. Dari mereka saya belajar banyak hal. Terimakasih banyak sudah berteman dengan saya di Facebook.

Dari Facebook, saya paham bahwa hobi makan roti dan kue saya bisa bermanfaat buat orang lain. Terimakasih banyak sudah mau membaca review saya J

Dari Facebook, saya akhirnya belajar bahwa saya bisa menulis panjang. Dan ternyata tulisan saya dibaca. Percayalah, komen-komen yang masuk dalam notes itu menjadi pembelajaran tersendiri buat saya.

Saya harus berterimakasih luar biasa sama Om Juken (Mbak Mut, saya pinjam istilahnya) karena dengan media inilah saya bisa “kepo” tentang suami saya selama proses taaruf. Darimana lagi saya bisa melihat keseharian suami saya selain dari Researchgate atau googlescholar?

Dari Facebook pun saya belajar bahwa mereka yang punya “power” dan kuasa bisa melakukan hal yang apa saja yang ingin mereka lakukan. Jari saya bisa saja masih lentik (boong deng ga lentik) menulis di media ini dan membaca Newsfeed sambil tersenyum, namun tidak bisa dibohongi bahwa di saat yang sama hati saya gusar dan marah atas apa yang belakangan ini marak dibahas di Facebook. Apalagi kalau bukan tentang Lumpia Gehu Bala-bala Tempe ini.

Keadaan ini membawa saya berdiskusi dengan suami saya, dan hasilnya mengerucut kepada dua hal:

Kami sayangkan dari Facebook bukan HANYA karena mendukung gerakan LGBT. Namun, standar ganda yang mereka terapkan. Oleh karena itu, kami melihat hanya ada dua opsi yang bisa kami lakukan:

  1. Aktif mengkampanyekan anti gerakan penyebaran LGBT secara terstruktur di FB (hingga akhir ya di blok oleh FB)
  2. Mengundurkan diri dari FB, karena menganggap FB bukan lagi teman yang asik.

Saya tidak ingin merasa “kehilangan power atas diri saya”. Mengundurkan diri dari FB per besok malam adalah bentuk perjuangan terkecil dari seorang Annisa Anindita dan Muhammad Haris.(plis kalau ada yang nanya, Muhammad Haris nama suami guheh)

Btw, menutup akun FB itu bukan akhir dunia ya keleus.

Saya masih sehat insya Allah berada di Kasuga Tsukuba.Pun, saya masih akan terus makan roti dan kue, hanya saja mungkin tidak banyak orang yang tau 😛

Pun, saya masih akan menuliskan gagasan curhatan saya di blog ini, tumblr, dan twitter.

Saya pun masih berbagi foto yang ga bagus secar angle tapi mungkin buat saya sarat makna lewat instagram @aninditazein

Pun, saya masih bisa dikontak dan membalas message via WA +818088125550 dan LINE: aninditazein

Untuk email serius dan pertanyaan tentang Jepang, curhat, atau hal pendidikan, email saya dong di: anindita.zein@gmail.com

Untuk promosi produk silakan email ke: anaknya.pakzein@gmail.com

Untuk hal-hal yang sarat akademis, email dong ke : annisa.anindita@sbm-itb.ac.id

Sayonara!

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Hari ini mungkin sudah 4 hari (kali ya) tanpa Facebook. Gue masih suka canggung mengetik otomatis kata f di kolom “new tab” dan lebih canggung lagi untuk membuka portal berita.

Duh malu, ketauan deh gue baca berita cuman dari FB wkwkkwkw. Hal lain yang gue amati adalah kayaknya gue lebih fokus untuk ngejaga anak gue main! karena tanpa sadar gue masih suka nge-update FB 3 jam sekali.

Mungkin dalam minggu-minggu ke depan, gue akan update tentang gimana kehidupan tanpa FB 😉

 

Salam,

Annisa Anindita

11855614_10207451635914312_7438853369394099629_n

Kenapa Shofiyyah Kyoko

Assalamualaikum,

Kalau diliat dari pos terakhir di bawah ini, keknya udah lebih dari setahun gue ga membuka lembaran debu wordpress gue ini. Asli, bukannya gue ga ada waktu nulis, hanya saja entah kenapa ada aja hal lain yang ngebuat gue lupa bahwa tujuan gue depan laptop adalah ngebuka wordpress! (salahkan netizenbuzz,cookpad, facebook dan handai taulannya).

Untuk mereka yang rindu ama gue (iyah, gue tau ga ada). Gue pengen ngasih pengumuman (yang menurut gue penting, mungkin menurut lo enggak wkw) kalau gue udah melahirkan. Iyah, gue bisa melahirkan ternyata alhamdulillah, Allah SWT Maha Baik, Maha Penyayang.

Anak yang gue lahirkan gw dan suami gw namakan Shofiyyah Kyoko Putri Haris. Atau lebih tepatnya kalau lo liat di sertifikat lahir dari rumah sakit: ショフィッヤキョウコプテリはリス(恭子). Mungkin lo bertanya-tanya kenapa namanya panjang banget, ya ga usah lo men, gue juga bingung kenapa nama anak gue panjang.

Sebelumnya, gue mau minta maaf sama Dinas Pencatatan Sipil yang kesel pas ngetik nama anak gue nanti kalau anak gue mau buat akte di Indonesia. Gue denger kalau petugas pencatatan sipil agak bete dengan nama anak Indonesia yang akhir-akhir ini makin susah dilafalkan dan diketik. Mungkin kayak: Althair, Daniesh,Ejkdn, Dehdjaw (asal). Qolqolah nya terlalu banyak.

Tapi gimana dong, gue merasa harus mengakomodir berbagai macam keinginan dan kepentingan semua pihak! (Enggak juga sih). Oke, di pos pembuka sejak gue berubah status dari mahasiswa S2 ke Ibu-ibu mantan S2, gue akan menjelaskan arti nama anak gue secara singkat.

Kenapa singkat? karena gue ngantuk bok udah jam 12, sori abis ye.

Shofiyyah: Diambil dari bahasa arab, artinya sejuk, murni. Salah satu Istri nabi pun ada yang bernama Shofiyyah, tepatnya: Shofiyyah Binti Huyay. Dari banyak referensi disebutkan bahwa Shofiyyah ini adalah Istri Nabi dari kalangan yahudi. Sehingga banyak yang mencibir begron beliau. Namun beliau tidak menyerah dan ketika berislam, beliau berusaha keras untuk mengejar ketertinggalannya dalam beragama. Semoga putri gue pun menjadi orang yang pantang menyerah.

Selain itu, gue punya temen saat SMP dulu, namanya Shofiyyah Muslih Abdul Karim. Mungkin dia adalah salah satu anak tercantik yang pernah gue liat di planet bulat biru hijau bumi ini. Matanya teduh, bacaan qurannya bagus, hapalan quran-nya banyak. kalau ngeliat mata dia, kayak ada air mancur mengalir dari mata nya. adem. (Enggak, dia ga bisnis aqua, krik krik). Ingatan gue akan Shofiyyah ini begitu kuat, entah kenapa. Begitu kuatnya sampai ada urgensi buat gue untuk ngasih nama yang sama untuk anak gue.

Kyoko: Ini adalah bagian yang paling “licin”. maksudnya, terkadang orang memakai nama asing tanpa tahu apa arti dibalik nama tersebut. Misal ngasih nama John, Michael, Keanu, Reeves, Tom, Cruise. Tanpa tahu sebenernya apa makna asli nama tersebut. Ya terserah juga sih.

kebetulan gue pengen kasih unsur “Jepang” biar anak gue tetap ingat dimana dia dilahirkan, dimana dia menghabiskan masa-masa di kandungan, dan mungkin dimana dia akan menghabiskan masa emas pertumbuhannya.Selain itu, sebagai rasa terimakasih kepada Pemerintah jepang yang sudah hampir menggratiskan semua biaya pemeriksaan ke dokter dan membantu banyak biaya persalinan gue.

Dan terimakasih karena telah dengan konsisten nya menjual sayuran terbaik dari berbagai prefektur disini. saya bahagia dengan konsumi sayur dan buah saya selama hamil, taihen osewani natte orimasu.

“Kyoko” dengan kanji 恭子sendiri, artinya adalah anak yang bisa menghormati orang lain dan anak yang santun. 

Putri Haris: Prinsip gue dan suami gue adalah nama anak harus ada identitas bangsanya. Menurut gue ini penting kalau lagi kenalan di forum internasional, nama anak gue keliatan aneh sendiri karena udah ada arab, jepang, ada indonesia nya juga.Kalau aneh biasanya dipanggil moderator atau dijadiin contoh, bukan? wkkw. Terus kenapa nama Indonesia nya harus Putri Haris? ya karena emang putri pak Haris bukan Pak Parjo.

Si Shofiyyah Kyoko yang orang -orang suka dengan bebasnya mengambil Shofi, Shofiye, Chopiyah, Chopi (ini sih gue), dan Kyoko, alhamdulillah sudah memasuki masa-masa 7.5 bulan.

Masya Allah, bisa berkaca-kaca kayaknya kalau gue mengingat betapa atas izin Allah SWT, bayi mungil itu bisa tumbuh pesatnya dalam tahun pertama sejak dilahirkan. Dari ringkih dan ga bisa tegak, sampai bisa goyang goyang pantat mau berdiri :”)

Kalau yang belum pernah liat foto Shofiyyah Kyoko, ini gue update yak;

DSC01739

 

Gimana, cakepnya ga mirip gue kan?

 

いろいろ

Ah entahlah apa mungkin karena lagi sedang ada adek 赤ちゃん di perut gw jadi makin sensitif lagi dan lagi.

Setelah menikah, gw merasa lebih sensitif (baca: super berkaca2), kalau ibu gw nge LINE: “lg ngapain dit”, padahal mah kayaknya biasa aja sih, tapi gw jadi merasa kalau jarak fisik antara gw dan ibu gw semakin nyata. Sekalipun memang sebagai seorang perempuan, setelah menikah tepatnya, kita punya jalan pengabdian lain, tetapi tetap saja rasa sedih bahwa kita sudah `tidak milik orang tua lagi`  itu entah kenapa akhir-akhir ini sering menyeruak dalam diri gw. Sebenernya jangan diambil ribet, karena memang Itulah perjuangan anak perempuan.

Pelan-pelan Ayah dan Ibu kita yang sangat kita sayangi (yang kalau misalnya mereka minta kita beli monas, kita nabung deh buat beli tuh monas) tetap pelan-pelan akan ditinggal anak-anaknya setelah menikah. Fase bulan madu berdua akan kembali lagi, dari masa setelah menikah ( Bulan Madu I) berlanjut ke masa punya anak, lalu di akhiri masa ditinggal anak dan akhirnya kembali berdua lagi di rumah (Bulan Madu II) 🙂

Lalu gw berfikir, bahwa 赤ちゃん bayi dalam perut gw ini, ketika dia dewasa, akan juga meninggalkan gue dan suami gue, membangun rumah lift nya sendiri (karena rumah tangga sudah terlalu mainstream). Masa-masa itu keliatan masih jauh banget, tapi bisa juga sangat cepat, buktinya kita ga nyangka PHP Rangga ke CInta udah 12 tahun aja, padahal rasanya baru kemaren kan nonton bajakannya AADC..

Sungguh gw ga kebayang gimana bisa ikhlas nya Ayah dan Ibu itu ngelepas anaknya untuk nikah, gimana mereka bisa ikhlas ngelepas anak nya yang sudah dididik berpuluh2 tahun kepada orang lain. Sehingga gw kebayang sih kalau Orang tua terkadang selektif banget masalah jodoh anak (lah tiba2 ngomongin jodoh)

Bayangkan saja, bahkan gw sama suami gue yang belum ngeliat bentuk 3D anak gw di perut aja,sudah begitu sayang nya sama 赤ちゃんdi dalam perut. Menyadari bahwa dia gerak aja, rasa senang dan sayangnya bukan main.

hah…..

jadi tiba-tiba inget kata2 Ibu gue acap kali gue rada bandel, `Kamu nanti kalau jadi Ibu baru deh ngerti kenapa mama tuh gini-gini-gini”, Rasanya kalau lagi rindu dan melankolis gini pun, bahkan omelan ibu gue pengen banget gw rekam biar gw dengerin dah tiap hari biar ga kangen :(((

Tontonan saat liburan musim panas: 全国高等学校野球選手権大会 Kompetisi Baseball Bocah SMA Se-Jepang

Karena TV yang kita punya itu harus di utilisasi sempurna, dipenuhi hak nya sebagai TV yaitu untuk di tonton, maka jadilah selama musim panas ini (ga selama musim panas juga sih, cuman dimulai dr beberapa minggu akhir Agustus) gw habiskan dengan di depan TV sambil baca paper sambil menonton kompetisi baseball se Jepang.

Emang pada dasarnya orang Jepang itu sporty kali ya jadi acara musim panas yang nge hits yang sampai di siarin khusus di NHK itu bukannya acara jalan-jalan atau acara potong semangka, tapi justru kompetisi baseball yang nge edukasi kita bahwa Anak SMA ganteng putih tinggi itu didominasi oleh daerah Hokkaido dan anak SMA coklat cakep itu didominasi Okinawa, dan yang aura dingin nya nancep itu tetep dipunyai anak SMA Tokyo (cukup! cukup jangan terus mendiskreditkan anak2 Tokyo) hahhaha.

Gw banyak belajar sih dari kompetisi ini, salah banyaknya adalah:

1. Acara ini menurut gw bisa ngebangkitin semangat kedaerahan sih, karena si bocah2 SMA ini kan mewakili daerahnya,jadi penonton pun merasa punya kepentingan membela tim. Gue? nah, kebetulan gw sekarang tinggal di daerah Ibaraki dan mantan orang yang tinggal di Kanazawa (Ishikawa-ken), gw jadi punya kepentingan untuk membela tim-tim yang berasal dari daerah tersebut. Ya biar seru aja. Walaupun mungkin si pemain2 itu ga tau kalau selama ini gw bela. hiks.

Nah, di acara lomba itu, dibacain juga tuh pesan-pesan dari orang-orang yang nonton. Waktu itu pernah dibacain pesan dari Mbak-mbak yang udah lama ga pulang, trus dia bilang dengan menonton acara baseball SMA ini, dia senang banget karena bisa melihat tim SMA dari daerahnya, jadi bisa mengobati kangen sama daerah nya.

Gw mikir yah, kalau misalnya di Indonesia ada kompetisi kasti atau petak umpet, apapun yang dibuat nasional, dan disiarin semua TV mungkin akan seru kali yah, ngeliat talenta kelas A yang bertebaran dari ujung ke ujung kan lumayan buat pemetaan ASEAN Games.

2. Tertib penontonnya

Ini gw aja yang norak baru tau, tapi yang jelas gw seneng ngedengerin si penontonnya yang rapih dan aman dan terkendali dan malu malu kalau kesorot TV. Kita ga akan pusing tuh dengerin suara-suara berisik dari semua penjuru, siapa teriak ke siapa, karena setiap penontonya punya waktu tersendiri buat teriak. Yang boleh teriak ngasih dukungan hanya bagian supporter tim yang saat itu main. Maksudnya yang saat itu tim nya megang kendali pukul. (duh, bahasa gw ga sporty banget)

Bahkan ibu-ibu dan bapak-bapak yang ngedukung anaknya pun tertib, ga heboh2. Jadi kita seneng tuh ngedengerin pendukungnya tertib banget ngedukung tim nya, meskipun tim nya udah mau kalah, mereka tetap nyemangatin, meskipun semua muka mereka nahan nangis. Beneran, ada yang nyemangatin sambil nangis..

Ah masa SMA…

(apa sih)

Penonton Rapih (diambil dari web komabagakuen)

3. Semangat bertanding

Pitcher Semangat (Diambil dari fotomoment.exblog.jp)

Hari ini contohnya, udah game ke 9 (sesi game terakhir), Tim SMA Aomori ketinggalan 2:7 dari Tim Fukui. Nah, padahal yah untuk ngejar skor 5 di game terakhir itu kan rada-rada punuk merindukan bulan, tapi Tim Aomori bener-bener main seolah-olah `ini game terakhir kita`. Semangatnya ga putus men! si bapak pelatihnya dan temen-temen yang duduk di bangku pemain pun tetap nyemangatin, ga keliatan nyerah bilang `Sob, pulang kampung aja yuk`.

Walaupun mereka terakhirnya kalah, yang jelas lo tetep ngeliat mental pemenang di mereka.

4. Nangis, berlebihan, tapi ga anarkis

Nangis. mewek. semua tim yang belum menang ekspresi muka nya sama. Dan gw ga menyalahkan mereka. Nangis sebentar (sebentar loh ya) itu memang melegakan kok, dan muka merah mata berair rata diperlihatkan mulai dari pemain, pelatih sampai penonton.

Mereka yang kalah pun juga punya ritual, kayak semacam naro tanah lapangan baseball di dalam kantong kain gitu, entah dipakai sebagai jimat atau penyemangat. Nah nanti adegan si tim kalah ngambil tanah sambil nangis-nangis itu bakal di potret heboh sama si wartawan, si wartawan ampe ikut nunduk-nunduk sampe sejajar tanah untuk motret ekspresi sedih si anak-anak.

Berlebihan deh (si wartawan sih yang berlebihan banget sebenernya).

Untuk poin ini, gw lebih seneng `tawakkal` nya orang Indonesia. `Ya udahlah, udah bisa ke sini aja udah Alhamdulillah`, `Udah lah, masih untung bisa main kesorot TV, ya kan?`, emang kadang-kadang mental semacam gini tuh perlu daripada sedih berlebihan.

Di ambil dari Asahi.com

acara olahraga semacam gini emang ga akan pernah gw ketahuin deh kayaknya kalau ga punya TV, walaupun emang rada2 ngeluarin duit, tapi bener deh punya TV di Jepang ini membantu banget untuk belajar tentang jepang secara keseluruhan, mulai dari mengerti apa yang lagi nge trend sampai belajar baca kanji.

Pertandingan baseball ini kayaknya ga cuman satu-satunya acara olahraga yang ditanyain di TV besar, kalau ga salah lomba renang juga, tapi karena kebetulan renang itu kan pakaiannya terbuka, dan suami gw risih banget, jadilah mari kita menonton baseball bersama.

Masih nonton bapak perempat finalnya nih, kalau udah ada pemenangnya, nanti gw update deh ❤ hihi

Selamat Natsu Yasumi, beli TV gih!