Asam Manis Kuliah S2 di Jepang (ditulis oleh ibu yang sempat-sempatnya menikah, hamil, melahirkan dan alhamdulillah lulus dalam 2 tahun)

Ini adalah sebuah tulisan penyeimbang untuk cerita menyenangkan kuliah di Jepang. Kisah gue pun sebenernya menyenangkan kok, menyenangkan dan mengkayakan fikiran. Hanya saja dengan cara yang berbeda.

Akhirnya gue memberanikan dan mengumpulkan niat menulis ini agar lebih mudah menjawab pertanyaan orang yang bertanya terkait S2 di Jepang dan bagaimana sih rasanya? hihi

Di postingan ini, tidak ada unsur ingin membuat diri terlihat menyedihkan, walaupun emang kisahnya rada menyedihkan. Ga ada maksud ingin membuat orang simpati, karena Alhamdulillah segala proses itu sudah terlalui dengan sebaik-baiknya seorang Annisa Anindita bisa. Ini murni sebagai bahan pembelajaran kita bersama.

Pos ini akan dibantu alur nya dengan beberapa lontaran pertanyaan.

Mungkin pertanyaannya suka ga nyambung, tapi udah jangan protes baca aja (Ibu-ibu galak)

 Dit, Kenapa lo masuk Tokyo Tech?

Alasan gue saat itu adalah banyak orang Indonesia berkepribadian asik yang kuliah disana, dan saat itu atas ke naifan gue, dan sependek pengetahuan gue adalah ITB membuka sedikit kerjasama dengan universitas Jepang, dan salah satunya adalah TITECH. Titech saat itu memang menjadi salah satu kampus yang dikenal memberikan kurikulum full bahasa Inggris (menurut selebaran promosi).

Apalagi ditambah, ada dua senior asik yang kuliah juga disitu, Kak Febry dan Teh Dani. dua orang yang paling gue repotkan menuju masa-masa kuliah gue. Alhamdulillah, Allah SWT memberikan banyak orang baik di keseluruhan perjalanan S2 gue.

Tokyo dan Kanto Area, sepaham gue punya gerakan mahasiswa yang lebih dinamis, jika boleh gue bandingkan dengan daerah lain. Sehingga gue berfikir, bahwa kegiatan non-akademis gue akan sangat berwarna dan mampu melawan slogan “idealisme itu cuman bertahan di S1”.Dan memang selama gue mengeyam pendidikan S2 di tokyo tech, gue merasa paragraf ini memang cukup benar 😀

 Trus, Dit, gimana caranya lo bisa dapetin seorang Sensei yang mau menampung lo?

Ajaibnya, melawan komentar mayoritas yang berkata bahwa mencari professor itu lama sekali, untuk gue mencari sensei itu cepet banget. Kilat. Harusnya gue merasa ini adalah salah satu tanda yang ga lazim, tapi saat itu gue merasa bahwa mungkin ini yang namanya jodoh.

Gue saat S1 tidak terbiasa membaca jurnal dengan hati-hati, tidak mengerti bagaimana mencari jurnal yang baik. Bagaimana mengetahui sebuah jurnal itu memang ditulis dengan baik atau asal.

Gue juga tidak paham bagaimana mengetahui ilmuwan yang paling berpengaruh di keilmuwan yang kita geluti.

Dulu yang gue tau adalah gue mau jadi dosen, dan berkuliah di Jepang adalah salah satu lompatan terbesar gue agar pola pikir gue menjadi lebih santifik. Naif 2.0

Akhirnya yang gue lakukan adalah gue hanya membaca Keywords dari research specialisation dari daftar Sensei yang ada di Tokyo Tech. Lalu gue menemukan beberapa sensei dan gue urutkan dari yang keyword penelitiannya paling nyambung dan yang paling enggak.

Emang udah takdir Allah, maka gue memutuskan untuk meng-email AsProf X (bukan, dia bukan mutan kawan Prof. X). padahal secara jelas gue paham kalau misalnya banyak publikasi dia yang lebih dominan bahasa Jepang dan website Lab nya tidak di update dengan baik. Dan ini seharusnya menjadi tanda tanda bagi kaum yang berfikir.

Naif 3.0

Padahal kalau gue mau pikir-pikir lagi, Publikasi Asprof X ini yang dalam bahasa Inggris, adalah publikasi murid doktoral nya dan dia sebagai second writer. Tapi gue ga menyadari bahwa hal ini harusnya adalah hal yang harus gue perhatikan sebagai mahasiswa asing. Naif 4.0

Gayung bersambut, mungkin bersambut nya kecepetan. Tiba2 AsProf X ini mau aja gitu loh jadi sensei gue dan membantu gue mendapatkan beasiswa Monbusho atas rekomendasi kepala department yaitu, kita sebut saja, Professor Baik Hati (PBT)

Btw, kalau lo ada yang penasaran. Gue sedari awal sudah mengirimkan proposal riset gue dalam bentuk udah jadi rapih dalam bentuk PDF. Dan gue menyapa sensei gue dengan menerangkan beberapa poin penting:

1. Gue siapa dan gue dapet kontak sensei gue dari mana atau siapa

2. Kenapa menurut gue sensei gue ini pas banget

3. Pengalaman hidup kita yang berhubungan dengan tinggal di luar negeri atau kejepangan (jika ada) untuk mengambil hati bahwa kita memang cukup punya pengetahuan dan bisa bertahan di luar negeri.

Dari awal, lo sudah merasa bahwa ada yang cukup aneh dari AsProf X itu?

Gue terlalu bahagia bisa kuliah ke Jepang lagi (Dulu gue sempet exchange yang menyenangkan ke kanazawa daigaku, kampung halaman beta). Pengalaman tersebut amat sangattt berharga, yang membuat gue begitu menyukai jepang dan budayanya. Kanazawa membuat gue punya banyakk sekali prasangka baik kepada orang Jepang. Gue pun sebenernya merasa pada dasarnya manusia itu baik. Ya kebetulan aja gue nemu yang pencilannya pas kuliah S2 hehe

Harusnya, gue udah bisa merasakan beberapa keanehan sih ya menuju gue berangkat bahkan di hari pertama gue sampai Jepang.

Coba gue utarakan ya poin tersebut:

1) Sensei gue ga begitu banyak membantu gue di proses mencari beasiswa setelah tiba2 Monbusho Scholarship gue di cancel. Tapi sekali lagi, karena gue terlalu naif, jadi gue merasa ini oke2 aja

2) Sensei gue agak kesel karena gue menaro nama dia di guarantor Visa student gue, padahal ini adalah hal yang super lumrah hadirin. Why you put my name??? Kata dia pada sebuah email.

3) Sensei gue acuh terhadap persiapan ketibaan gue di Jepang. Mungkin karena gue udah pernah ke Jepang sebelumnya, dan gue anaknya sok independen, jadi gue merasa mungkin ini adalah hal yang amat wajar. Sebenernya sensei gue udah menyuruh satu-satunya murid S2 yang dia punya saat itu untuk membantu segala berkas gue di awal.

WAW, jadi lo punya senpai yang oke banget dong begitu masuk lab? 

wkwk, tengs ya atas apresiasinya. Sebenernya si senpai lab gue yang kita sebut Si Gagah (SG) ini, adalah salah satu contoh dari betapa orang jepang itu unik & mencengangkan. SG ini, dia mengaku, dia punya gangguan mental di bidang tidak bisa rapih (duh cara bahasa gue kali ini jelek banget).

Maksud gue, dia memang acak-acakan dan ga bisa merapikan barang. Sensei gue sebenernya udah merasa bahwa ini anak didiknya emang agak kurang normal secara kepribadian, sehingga Asprof X alias sensei gue berkata awal-awal kepada gue “Dita-san, sy tau si SG ini bukan contoh baik buat kamu, oleh karena itu saya sudah menunjuk orang lain sebagai tutor kamu selama S2 disini”.

Kalau lo mau tau penampakan lab gue awal-awal, lo bakal sedih deh. kayak tempat penampungan sampah kertas. Serem banget. Maka awal-awal keberadaan gue di lab, yang gue lakukan adalah ngeberesin lab gue sendirian. Btw, anggota lab gue emang cuman bertiga 1 doktoral dan 2 mahasiswa S2. Alhasil sehari-hari gue ama si SG doang di lab.

si SG ini ternyata setelah berkali-kali ngobrol ama gue, dia bilang kalau dia tertekan berada di lab. Dia bilang kalau dia benci banget sama AsProf X, pada suatu momen ngobrol dia bilang “ I bery bery bery bery hate her” dengan aksen jepang kental. Dia keliatan tertekan banget kalau misalnya lagi ngerjain banyak tugas.

si SG ini memang dikenal sebagai individu unik di seantero jurusan gue. Ada mahasiswa asing asal china, se angkatan sama gue, dia bener-bener kesel pas tau si SG ini akan pindah dari lab gue ke lab dia. Dan kalau dia lagi gosip sama gue, isinya ya tentang si SG ini. duh kasian yak..

si SG ini, lucunya, kalau di depan Sensei gue itu nurut banget. ya tipikal orang Jepang lah, ngomongnya “ Ya, Sensei”, “Ya Sensei”, udah ga ada perlawanan apapun. Tapi dia panik nya keliatan banget kalau presentasi. lo pernah ga jadi setres ngeliat orang yang stres presentasi?

Nah itu dah perasaan gue kalau ngeliat si SG ini presentasi. bikin pengen makan udon yang gedeee banget (lah)

Gue merasa kasian sama mental nya si SG ini, gue cuman takut dia akan ada keinginan bunuh diri. Dan yang gue tangkap dari cara komunikasi akademik antara sensei gue dengan si SG ini adalah, si sensei gue rada memaksakan topik yang dia suka ke si SG tanpa bertanya apa sebenernya kesukaan si SG ini.

Sementara SG ini orangnya memang pasrah, tapi ga punya semangat untuk terus lanjut juga dengan topiknya.

Diem-diem, si SG curhat ke gue, kalau sebenernya dia punya minat besar di sejarah Jepang dan berencana pengen pindah lab ke yang lebih mengakomodir kebutuhan dia itu. Di satu sisi gue bakal sedih, bukan, bukan karena perasaan kehilangan, tapi karena kalau si SG ga ada, gue sama siapaa lagi dong kalau lagi kelas seminar? masa kelas seminar berdua doanggg?

Btw, di jepang itu ada kelas seminar yang biasanya dilakukan seminggu sekali, disitu kita dapat giliran presentasi kemajuan riset kita. Berhubung mahasiswa doktoral yang di lab gue adalah seorang pekerja kantoran juga, alhasil dia bisa aja skip kelas seminar sehingga nanti kalau SG ga ada, bakal quality time bangggget antara gue dan sensei gue.

Yah, tapi bagaimanapun, kesehatan mental si SG ini lebih penting. hiks

Alhamdulillah si SG ini akhirnya berhasil keluar dari lab gue dan pindah ke lab lain sampai lulus. Yang gue bingung, meskipun di depan sensei gue inii si SG keliatan baek-baek dan penurut aja, tetapi dia hobi banget menebarkan info ke teman-temen lab lain kalau misalnya Sensei gue itu emang galak nan jahat.

Sampai suatu ketika, ada seseorang anak lab lain menghampiri gue dan bilang “Eh kamu anggota lab ini ya? saya dikasih tau sama si SG kalau di lantai ada nenek jahat”. Wahh bener-bener dah…

 Eh, jadi penasaran nih. Fluktuasi anggota lab di tempat lo gimana sih dit? Suasana lab lo itu normal ga sih?

Wah jadi pemirsa mau tau banget nih?

Beberapa teman sesama orang Indonesia mempertanyakan kenapa gue ga pindah lab aja. Jadi sebelum semester pertama gue selesai, gue udah resmi sendirian di lab pasca si SG mengundurkan diri dengan indah dan pergi ke tempat berkembang yang lebih baik (Alias lab sebrang).

Gue adalah mahasiswa asing sendiri di jurusan gue di program internasional, ada satu lagi mahasiswa asing china yang masuk program reguler. Gue bersama satu sohib mesir adalah dua gadis berhijab orang internasional di graduate school (fakultas) kita. Dan nasib kami 11-12 ehehhe.

Di fakultas ini bisa dibilang jarang yang mengajak gue ngobrol, ya si SG itu lah paling dan tutor gue yang cukup bertanggung jawab. alias baru muncul kalau gue butuh banget hehehe.

Setelah SG ga ada, dan si doktoral yang sambil kerja hampir ga pernah ke lab, bisa dibilang lab itu semacam ruangan VP kantor yang ada di distrik SCBD hahaha. Eksklusif. Gue mau jumpalitan sambil makan nasi padang juga ga akan dikomen. Sensei gue pun jarang datang ke lab, mungkin dia ga akan tau juga ya kalau gue berternak rusa di lab itu.

Lab gue emang jadinya udah bagaikan rumah bagi gue, biar berasa makin rumah, gue suka beli bunga buat gue taro di lab, dan gue hias aja itu lab semau gue.

Pasca si SG pergi, semester selanjutnya ada 3 orang yang masuk ke lab. Duh, kasian mereka, pikir gue. haahhaha. Kita sebut aja pasukan tersebut sebagai: Nobita, Shizuka dan Ms. X,

Shizuka dan Nobita adalah tipe pasrah,sehingga meskipun di belakang Sensei gue suka ngata-ngatain dan berharap bisa segera lulus, toh mereka tetap terlihat tertawa nan bijak selama kelas Zemi.

Untuk kemampuan poker face, orang Jepang memang canggih, dan menurut gue ini keahlian yang penting juga untuk dipelajari.

Shizuka, lebih detailnya, merasa kasian sekali dengan gue karena selain gue harus berhadapan dengan Asprof X yang punya kepribadian unik, gue juga ga punya support system yang memadai di Lab. Kalau mau dipikir-pikir, iya juga ya, mungkin kalau saat itu ga punya sahabat-sahabat orang senegara, gue mungkin ga bisa tahan kuliah di semester pertama :”)

Di antara Nobita, Shizuka dan Ms. X, walaupun suka spik2 bakal pindah lab, yang beneran ternyata pindah karena ga tahan (tapi beralasan resmi karena tema riset yang ga sesuai jadi mau pindah lab hehehe) cuman si Ms. X.

Ms. X ini berani sih, kerenn dan suka membantu gue. Nah, dia membantu gue seperti apa, kita lanjutkan di cerita bawah yang bersambung dengan pertanyaan selanjutnya.

 Terus sebenernya hubungan lo sama sensei lo berarti dari awal udah berantakan apa masih baik-baik aja?

Sori, jalan cerita gue loncat2 nih, lo sih nanya nya ga ngurut! (ngomong ama diri sendiri, marah sendiri) hahaha. Sensei gue di awal-awal pertemuan empat mata kami, memberikan opsi pergantian tema penelitian. Yang mana guee sangat berterimakasih dengan Sensei gue.

Seriusan, mungkin hal yang paling gue harus berterimakasih selama S2 ini adalah kepada Sensei gue karena dari dia lah gue menemukan kata “community development” “traditional industries” dan “Shibori”. Dari riset yang berbau sangat HR, gue berubah alur menjadi tentang “bagaimana mempertahankan industri tradisional”. INI yang gue sangat syukuri.

Gue sangat semangat mempelajari ini, dan bisa dibilang gue jatuh cinta. Gue rela untuk menghabiskan jatah dana riset gue (yang gue dapatkan berkat bantuan Bapak Kepala Fakultas, bukan dari Sensei gue) dan dana beasiswa LPDP gue demi mempelajari ilmu ini. Gue pergi observasi ke daerah riset dengan merogoh kocek sendiri.

Walaupun gue fikir ini agak ga normal sebenernya, tapi gue mencoba menepis kegalauan gue saat itu. Gue berfikir, kalau memang mau pinter gue harus berusaha. meskipun itu pake duit sendiri.

Sensei gue di lain pihak, terlihat senang dengan semangat gue. Tapi seru nya, beliau tidak membantu atau memberikan cara yang jelas bagaimana untuk gue mendapatkan dana riset tambahan untuk penelitian gue yang berlokasi beda kota dan butuh duit transportasi.

Selain di masalah duit, menurut suami gue, dan disetujui oleh semua mahasiswa doktoral di lab gue ( Ada sekitar 3 anak doktoral yang akhirnya masuk ke lab gue sampai gue lulus) Sensei gue itu punya masalah komunikasi yang pelik.

Sensei gue, dilihat, terlalu melepas anak didik S2 nya. Dilepas nya bener-bener dilepas aja gitu, nanti baru dimarah-marahin pas udah diujung2 riset. Karena waktu itu gue belum menikah, dan gue ga ada teman hidup 24 jam yang bisa melihat keanehan cara komunikasi Sensei gue secara intens, gue merasa ini wajar aja mungkin beginilah Jepang. Tapi, menurut suami gue sendiri, ini bukan cara yang normal. Apalagi gue adalah mahasiswa asing yang butuh “disupervisi” lebih.

Di luar akademik, Sensei gue pun terlihat dihindari oleh petugas administrasi sekalipun. Petugas administrasi pun kayaknya paham dengan tekanan yang gue hadapi sebagai anak lab Sensei gue ini. Gue beberapa kali dibilang “Ganbatte ne, Dita-san”. Waduh..

Serunya lagi juga, Sensei gue beranggapan bahwa gue bisa bahasa Jepang lancar, yang mana sudah gue beritau dari awal kepada Sensei gue bahwa gue dalam tahap belajar dan akan terus belajar. Sampai suatu titik gue bilang “Sensei, alasan saya ikut dalam program internasional ini adalah karena saya belum lancar bahasa Jepang, kalau saya lancar bahasa Jepang, saya ikut program konvensional”. Lalu apakah Sensei gue mau tau menau? tentu saja tidak hehe.

Tangis kesal dan kecewa gue pecah pertama kali ketika gue diminta untuk maju ke dalam suatu konferens yang berlokasi di ujung hokkaido. Oke, hokkaido aja udah jauh, ya, apalagi yang daerahnya lebih jauh lagi , wow wow wow. Gue diminta maju dalam suatu konferens dengan tanpa dibimbing dengan sewajarnya oleh Sensei gue, dan semuanya harus dalam bahasa Jepang. Dan bayar sendiri hiks T,T. (Btw, gue selama S2 ini emang ga pernah disupport finansial sama sensei gue sih terkait akademik, maksudnya kayak jurnal itu gue bayar sendiri subscribe sendiri)

Dan Sensei gue ga bisa menemani gue pergi saat itu, jadilah gue berangkat sendiri. Untuk saat itu gue lagi proses mw nikah ama suami gue, jadi ujung-ujungnya berangkat berdua dengan pasangan halal, terimakasih ya Allah T,T

Sensei gue, ga mau tau menau kalau gue ga bisa bahasa Jepang, dia cuman bilang kalau gue harus ikut conference ini karena ini adalah salah satu cara menggapai syarat lulus dari lab dia ( 2 conference dan 1 paper). Oke, gue panik.

Sebenernya saat itu gue juga kasian sih, karena sensei gue lagi patah tulang dan dia harus istirahat total. Tapi gue berharap sebelum kejadian patah tulang berlangsung, sebenernya dia bisa aja sedikit peduli ama gue, minimal lirik lahh gimana isi proceeding gue secara keseluruhan plis. Yasudah lah yak. Pokoknya gue saat itu mikir, mungkin beginilah Jepang, jadi gue yang ga boleh manja. Mungkin beginilah yang normalnya. Ini gue naif 5.0

Akhirnya gue dibantu oleh seorang kawan baik hati bernama Ilham yang membantu gue merumuskan dalam bahasa Jepang paper yang berlembar-lembar itu. Gue masih berfikir positif, mungkin ini cara Sensei gue supaya gue bisa bahasa Jepang. Cara yang keras yang gue suka ga habis pikir.

Selain Ilham, ada teman se-lab gue yang gue ceritakan di atas, yaitu Ms. X yang membantu gue membahasa-jepang kan banyak hal. Si Ms.X ini merasa kasian sama gue dan bilang harusnya si Asprof gue membantu gue atas rekues nya yang diluar kewajaran ini. Nah, si Ms.X ini nampaknya bilang kepada Asprof gue, semacam mengirim email protes lembut2 gitu lah dia.

 Tapi kocaknya, si Asprof bilang ke gue kalau gue punya masalah komunikasi dengan Ms. X,  sehingga gue harus meminta maaf ke Ms. X, yang mana si Ms. X ini bilang ke gue kalau memang sensei gue punya masalah dengan komunikasi -_-

Pasca gue ikut konferensi di Hokkaido, Sensei gue bertanya apakah ada pertanyaan penting yang ditanyakan saat itu? gue jawab kalau kayaknya biasa aja. Karena jujur gue juga ga menikmati seminarnya karena pesertanya dikit dan kayak menyedihkan gitu suasananya secara keseluruhan.

Trus sensei gue bilang gini “Karena isi presentasi kamu ini ga berkualitas makanya ga ada pertanyaan, kalau isi presentasi kamu berkualitas, pasti ada yang punya pertanyaan bagus”. Yoi, emang sensei gue juara banget untuk menaikkan mental semangat belajar anaknya 😃

Alhamdulillah nya, Sensei gue ini karena perempuan, jadinya cara ngomongnya ketika kesel itu tidak kasar, kayak misalnya: “ Bodoh kamu” atau kata2 kasar lain. Melainkan, kalimat2 sindiran tajam penuh makna layaknya wanita elegan kesal tapi kelamaan keselnya. Alias kalau sekali marah ama kita, bakal diinget2 terus kesalahan kita dan mukanya susah ramah lagi 🙂

Eh, sekali lagi gue tanya nih, Kenapa lo ga mau pindah lab aja sih?? Lo bisa bertahan dengan riset yang semuanya bahasa Jepang kuno padahal lo ga ngerti?

Gue sungguh mau pindah lab, karena udah banyak orang yang pindah dari lab gue. Menurut SG, ada dua mahasiswa asing yang masuk ke lab gue dan memutuskan pindah lab karena ga tahan juga dengan Sensei gue. Waduh, makin kuat dong keinginan gue untuk pindah.

Cuman, kalau gue pndah lab, gue ga akan bisa ngerjain tema penelitian yang gue suka banget. Tema penelitian ini dan implementasi kedepan terhadap industri kerajinan di Indonesia adalah hal penting yang menurut gue harus dipelajari. terdengar idealis atau nyerempet bodoh menurut pemirsa?

Alhamdulillah, selama dua tahun dibawah bimbingan sensei gue & melakukan fieldwork di tempat penelitian di Nagoya, meskipun secara prestasi akademik ga seperti yang gue harapkan seperti yang gue pikirkan saat datang ke jepang ahahaha, namun gue melihat jiwa gue makin kaya, dengan:

1. Gue makin tau diri. Karena beberapa kali disindir tajam atas kesalahan yang dilakukan dan ga punya kawan di lab sehingga mau nangis bareng juga bingung sama siapa, gue makin tahan mental menghadapi cecar-an verbal ataupun tulisan. Ini membuat gue sadar bahwa gue memang banyak harus belajar. menjadi lulusan salah satu univ top di Indonesia itu jelas bukanlah apa2. buang semua rasa sombong, kita mulai belajar dari awal.

2. Gue banyak bertemu dengan para pengrajin muda dan seniman hebat yang semangat mempertahankan kebudayaan tradisional Jepang. Gue akhirnya makin terbuka pengetahuan dan akses informasi tentang kerajinan di jepang, masalah, dan titik terangnya.

 Lo beneran ga ada temen selama lo S2 disana? Cara lo brainstorming ide penelitian gimana??

Alhamdulillah Allah memang Maha Adil, ada gelap, ada terang, ada yang buat kezel, ada yang menyenangkan. Masalah kita ga ada apa-apanya, Allah cuman ngasih cobaan sepele ke kita. insya Allah, segalanya udah ada penawarnya.

Seperti keadaan gue saat S2 dulu. meskipun bisa dibuat lebih depresif lagi kalau gue memilih demikian, alhamdulillah karena  ada suami & anak, banyak teman-teman orang Indonesia di tokyo tech dan TSUKUBA!! membuat gue bisa melalui masa-masa ini dengan amat baik. Selain itu, sekretaris kepala program internasional fakultas gue pun nge-sist banget dengan gue.

Dia mau dong mendengarkan tangisan gue dan bahkan memeluk gue huhuhu.

Selain itu, orang administrasi jurusan pun sangat memahami gue sebagai mahasiswa asing satu-satunya yang gemar salah kaprah. terimakasih ya semuanya ibu2 dan tante2 atas pengertiannya padaqu 😃

Yang mungkin agak rumit di awal adalah gue ga bisa diskusi keilmuwan gue. Ini adalah masalah besar untuk mahasiswa asing ga bisa nihonggo yang anggota lab nya orang jepang semuanya plus ga ada yang bisa bahasa Inggris.

Nah, kalau udah terlanjur di posisi kayak gue, yang kayak nasi udah jadi bubur encer dan mau cari ceker ayam jauh (maksudnya biar kayak bubur ayam serbu rame gitu—garing), mending langsung giat cari orang Indonesia atau bahasa lain yang kamu mudah pahami. Yang punya tema riset yang sama.

Alhamdulillah, gue punya 2 orang senpai dan 1 kawan seangkatan yang punya tema riset mirip, sehingga bisa diajak diskusi panjang dan nyambung. itu paling penting, kalau panjang tapi ga nyambung buat apa hiks.

Denger-denger lo nikah dan hamil kan selama S2, trus sensei lo gimana?

HAHAHAHHAH (bentar, ketawa dulu). Iya nih HAHHAHAHAHAHA (ketawa lagi).

Iyaps, gue nikah dan punya anak selama S2, sehingga S2 gue itu berasa panjaaangg banget dan pas lulus tepat waktu

rasanya kayak ya Allah lega bangettttttttt. Sensei gue ga pernah dengan gamblang bilang dia ga suka dengan pernikahan gue dan gue punya anak. cuman paling:

1.Nilai akademik gue makin ke ujung makin turun. Ada nilai riset yang hak penuh sensei untuk ngasih, umumnya dan wajarnya nilai riset itu antara 95-80 (80 itu mungkin udah bikin sakit di dada ya ehhe).Tapi, Nilai riset gue itu kira-kira jatohnya begini (Dari semester 1 >4 dan gue nikah di semester 2 akhir) : 95-90-85-75. Nah, tadinya gue masih santai banget nih dapet nilai 75, mikirnya “Wah alhamdulillah bukan 60”.

Tapi suami gue menjelaskan dan seorang senpai dari universitas lain bilang kalau nilai itu adalah nilai berdarah2 ahaha. Karena entah tesis akhir kita super jelek dan ga memuaskan, atau Sensei kita memang segitu keselnya sama kita.

Sebenernya setelah mengerti arti dibalik angka 75 ini, gue sama suami jadi berfikir lama apakah aman untuk lanjut S3 di Jepang, karena kemungkinan besar bakal jadi tanda tanya banget sama tim reviewer PhD nya.

2.  Saking takutnya gue kalau  Sensei gue ini bakal memberikan tekanan kepada gue kalau tahu gue hamil, dan malah mempengaruhi ke janin. Dilain pihak, gue ingin menunjukkan bahwa mahasiswa hamil itu masih bisa diandalkan, jadinya gue memutuskan untuk memberitau kalau gue hamil saat bulan 6 >>7. Itu karena jadwal melahirkan gue itu nyerempet dengan sidang pre-thesis dan perut gue ga bisa disembunyikan hahaha.

Tentu ini keputusan kontroversial karena ada yang menganggap kalau tidak memberitau Sensei dari awal adalah hal yang tidak sopan. Tapi gue rasa, untuk karakter Sensei gue ini, ini adalah sikap terbaik yang gue bisa. Btw, sensei gue tidak membaca isi tesis gue lho, karena bahkan dia ga yakin gue bisa mengumpulkan tesis WKKWW

 3. Sensei gue itu kurang tau bagaimana keadaan orang hamil, di deket2 masa melahirkan pun dia meminta gue untuk menjawab email dengan cepat dan memberikan dia beberapa analisis paper.

Bahkan di saat gue sedang kontraksi menuju lahiran. Karena gue merasa selalu dikejar seperti ini, nampaknya ini berpengaruh terhadap stress pasca melahirkan. Gue sampai sekarang ga abis pikir kenapa gue kepikiran untuk baca paper H+2 lahiran, dibandingkan leha-leha nonton youtube -_-. sungguh saat itu gue sedang tertekan secara akademik.

4. sehabis melahirkan pun sensei gue tidak memberikan selamat apa2 dan agak keliatan kesal saat gue balik ke lab untuk riset. Tapi ga apa, karena muka sensei gue hampir selalu keliatan lagi kesel, jadi gue sebenernya udah terbiasa. Saat anak gue masih 2 bulan, Sensei gue meminta gue untuk menetap di tempat riset gue selama seminggu padahal saat itu gue masih menyusui dan uang riset gue sudah ekstra minim.

 Mungkin, karena Sensei gue belum menikah kali ya dan punnya anak, jadi dia bener-bener ga mengetahui (dan ga mau tahu mungkin ya) tentang gimana posisi anak didiknya.

Tapi, tentu saja gue tidak memberikan alasan menyusui sebagai alasan untuk menolak usulan menginap seminggu, gue memakai alasan: Maaf, tapi dana riset saya sudah habis sensei.

Setelah itu Sensei gue diam dan tidak memaksa gue pergi, kayaknya memang kasian juga, kayaknya dana Lab sosial itu jauh lebih terbatas kali ya dibanding lab sains.

 Apa sih efek punya hubungan yang cukup unik selama S2 lo ini di kehidupan pasca S2 lo?

Efek paling parah nya adalah ke arah akademik. Jadi, pasca lulus, Sensei gue menolak memberikan surat rekomendasi untuk urusan S3 gue. Dia bilang “maaf, tpi saya tidak bisa mengomentari itu (riset kamu)”. Sedih sih, jadi pukulan berat juga karena Sensei sendiri ga bisa ngasih surat rekomendasi.

Tapi, anggap ini sebagai tanda tanda Allah baik, lebih baik tidak memberi surat kan daripada isinya malah menjatuhkan (misal). Jadi, anggap saja sensei sebenernya dari dalam hati terdalam, dia peduli dengan masa depan kita hehehe.

ALHAMDULILLAH. Meskipun Sensei gue ga mau ngasih surat rekomendasi, tapi masih banyak Sensei lain yang ternyata mau memberikan gue surat rekomendasi, bahkan seorang sensei dari jaman gue exchange dulu pun, meskipun sibuk luar biasanya ( Sensei tersebut jadi wakil rektor), dia tetap meluangkan waktu menuliskan surat rekomendasi buat gue.

Sungguh banyak orang baik di dunia ini. Untuk kalian yang ditolak oleh Sensei untuk memberikan surat rekomendasi, tenang aja, insya Allah masih ada jalan lain untuk menempuh studi lanjut.

Nilai 75 di transkrip dan tidak mendapatkan surat rekomendasi Sensei alhamdulillah tidak menjadi alasan untuk tidak bisa mendapatkan LoA S3. Alhamdulillah dengan surat rekomendasi 2 dosen lain, gue diterima di Queensland University. Meskipun ga jadi S3 hahaha, seenggaknya bisa menjadi acuan orang lain yang mempunyai pengalaman S2 kelam kayak gue, tapi masih mau S3 😉

Allah Maha Baik dan Maha Mengetahui Isi hati hambaNya, jadi kita harus percaya itu dan sungguh2.

Mempunyai suasana lab yang tidak begitu normal bagi diri gue, dan konfrontasi yang intens selama S2 itu sedikit2 membangun antipati gue terhadap orang Jepang. Entah kenapa, ini membuat dinding komunikasi antara gue dan orang Jepang. Mungkin selama S2, gue kebanyakan menemukan orang-orang Jepang yang cukup unik dan membingungkan.

Sehingga gue berfikir, “Ada ga sih orang Jepang yang bener2 baik?”, “Apa semua orang Jepang itu kayak gini?”

Ini cara pikir yang tidak baik sama sekali. Gue camkan sekali lagi, pola pikir yang seperti ini membuat diri makin ke arah tidak baik. Dengan berfikir begini terus, gue justru makin males ngobrol sama orang Jepang dan penuh dengan prasangka buruk. Alhamdulillah, saat ini, keadaan ini pelan2 membaik apalagi karena gue melihat kehidupan S3 Suami gue yang sangat adem ayem.

Sensei dari suami gue sangatlah baik hati dan tipe2 family man, sehingga dari perjalanan S3 beliau gue mengetahui bahwa mayoritas Sensei di Jepang itu memang baik, kebetulan gue lagi diuji kesabarannya aja 😃

Alhamdulillah juga, saat ini gue diberi kesempatan Allah untuk memulai kehidupan baru di Kota baru. Ternyata dengan pindah ke kota baru, entah kenapa itu memberikan efek jiwa untuk me-reset dari 0, menjadi individu yang baru. Di kota yang baru ini gue mentekadkan diri untuk lebih melihat orang sekitar gue sebagai sebagai kertas putih. Dan gue percaya dengan teori psikologi bahwa pada dasarnya semua orang itu baik, ga ada yang terlahir udah jahat.

Btw, gue jadi penasaran Dita, dengan segala hal yang lo hadapi, gimana caranya lo tetep bisa ngumpulin thesis dengan jarak ga jauh dari lahiran?

Alhamdulillah banget banget banget gue punya keinginan kuat untuk lulus, supaya ga berlama-lama dengan kondisi lab yang cukup membuat gue tertekan. Alhamdulillah, Ibu gue pun dipermudah Allah SWT untuk datang ke Jepang karena jangka waktu pengerjaan thesis yang cukup darurat. 4 bulan pasca melahirkan harus sudah dikumpul.

Untuk para Ibu baru yang punya kondisi kayak gue, maka satu hal yang harus dicamkan: Harus galak sama diri sendiri! ini adalah saat-saatnya kita putus hubungan  dari segala bentuk internet, acara kumpul-kumpul dan harus taat dengan jadwal yang dibuat sendiri.

Waktu itu, jumlah hari yang gue murni gunakan untuk menulis tesis adalah 20 hari. Dengan pembagian waktu adalah: Jam 7-12 Gue full di depan komputer sementara Ibu gue dengan baiknya memegang segala Kebutuhan Kyoko. Istirahat di sela itu hanya ada karena gue butuh nyusuin kurang lebih 15 menit. Lanjut lagi jam 13-16 untuk mengerjakan tesis. Ga boleh buka internet sama sekali, matikan wifi!

Jam 17- Kyoko tidur, gue yang megang full karena Ibu gue menyiapkan buka puasa dan sahur (yaps, saat itu lagi bulan Ramadhan). Jam Kyoko tidur maka gue juga tidur. Kenapa? karena badan gue termasuk yang ga bisa begadang, sekali begadang maka efeknya bakal luar biasa ke hari-hari kedepan.

Kalaupun mau begadang, gue sarankan agar ambil jarak 2 hari sekali, supaya badan ga kaget. Selain itu, lebih baik kita sudah mulai memerah ASI ga lama sehabis lahiran supaya saat kita mulai ngerjain Thesis, ASIP kita sudah cukup untuk memenuhi asupan si bayi. Memang masih sedikit sih, tapi yang jelas memang ga boleh ditunda ya 😉

Oiya, untuk yang berencana ingin hamil, menikah selama S2 dan mempunyai Sensei yang tidak begitu supportive, gue sarankan untuk menyelesaikan dulu “tanggungan” lulus kita, seperti: gakkai dan paper. Kebetulan gue alhamdulillah banget sudah selesai gakkai sebelum nikah dan paper gue selesai sebelum melahirkan (mulai dikerjaan saat awal2 hamil)

Karena, kita ga tau bagaimana kondisi kita ketika hamil nanti, apakah tipe2 yang masih sehat2 aja bisa jumpalitan atau tipe2 yang harus bed-rest macam gue ini.

 

Kalau boleh pilih satu hal yang paling menyedihkan selama S2, lo bakal milih apa?

Sebenernya gue rada males nulis ini, karena ini akan membangkitkan kenangan2 yang ga begitu nyaman hahaha. Sebenernya pada awalnya gue ga merasa ada yang salah dengan suasana S2 gue, sampai suami gue melontarkan

bahwa memang keadaannya cukup ga normal (karena doi membandingkannya dengan suasana Lab doi yang normal banget untuk ukuran univ jepang)

Nampaknya gue mau tulis disini supaya kalian yang memang sedang merasa down karena suasana kampus, jurusan yang bikin kesel dan ga sesuai ekspektasi, bisa sedikit naik suasana mental nya karena lo ga sendirian. Mungkin banget pengalaman gue ga separah kalian :), seenggaknya kali2 bisa ngebuat kalian senyum2 sambil bilang “Cupu lo dit gitu aja betean” XD

Selama di lab gue sendirian dan tidak punya teman diskusi. Gue tidak pernah di ajak makan-makan lab dan tidak pernah juga dibuatkan welcome party oleh lab, dan boro-boro ada sotsugyou party alias pesta kelulusan buat gue.

Kalau misalnya ada yang anggota lab-nya bilang: “Wah X-san kan muslim ga bisa makan daging yang haram, ayo kita cari halal-friendly resto”, maka harus sangat bersyukurlah kalian. Karena ada orang yang kondisi nya justru malah ga pernah diajakin, ditanyain “mau ikut ga?” pun ga pernah kwkwkwk.

Gue meninggalkan lab gue dengan bebersih dibantu oleh suami gue, setelah itu gue menaroh kunci lab yang biasa gue pake di dalam mail box ruangan Sensei gue,  dan meng-email sensei gue “sensei makasih bimbingannya, ini kunci lab saya sudah taro di mailbox”. Lalu tidak ada balasan 😃. Lalu ya begitu saja lo meninggalkan Lab. Tapi percayalah, itulah momen paling melegakan dan mengharukan. Karena dengan memberikan kunci lab gue merasa bahwa gue udah selesai keluar dr cengkraman sensei gue :”)

Saat Wisuda kelulusan,  ga ada anggota lab atau sensei yang menghampiri gue, tapi alhamdulillah bangett Sensei gue rela memberikan selamat via Email. seenggaknya dia tau kalau gue udah lulus, kalau enggak dikasih selamat, gue khawatir beliau nyangka gue nambah semester :))

Gue bercita2 bahwa gue harus wisuda tepat waktu dan akan wisuda dengan menggunakan Hakama Shibori (jenis kain yang gue riset-in). Tapi apa daya menuju hari gue wisuda gue justru kena muntaber (akibat salah makan saat pulang dr indonesia). Saat itu gue pasrah ga tau bisa wisuda atau enggak.

Begitu gue sudah cukup fit, ternyata malam sebelum wisuda anak gue pun panas badannya, membuat gue makin pasrah bisa wisuda atau enggak. Saat itu gue cuman bisa menatap sedih hakama yang udah gue pesan hehehe

Alhamdulillah besoknya ternyata panas nya Kyoko sudah agak turun dan gue bisa datang ke kampus, sayangnya memang karena Kyoko belum sehat benar jadi agak susah mengkondisikan doi pagi2 😃

Gue dateng telat ke wisuda, ga sempet ikut seremonial nya. Tapi karena gue maksa gue pengen tetep pakai hakama, akhirnya gue tetep pakai pakaian itu dan datang ke hall kuramae yang dipenuhi wisudawan yang meluber keluar. Suasana hujan sehingga kesempatan foto-foto ga gitu banyak.

Kalau mau didramatisir sebenernya itu adalah keadaan wisuda yang paling ga mau gue inget. Karena sesungguhnya gue udah membayangkan sejak dulu  bahwa gue harus ikut wisuda S2. Karena gue merasa S2 ini adalah sebuah proses pendidikan yang bener2 menguras mental gue.

Gue ingin memberikan kado diri sendiri dengan memberikan kesempatan seluruh jiwa raga gue duduk 30 menit, merasakan masa-masa terakhir menjadi mahasiswa Tokyo Tech. (trus gue nangis dong sambil nulis ini -___- )

Kalau ada yang merasa kalau duduk wisuda itu membosankan bahkan memilih untuk skip wisuda, percayalah ada seseorang diujung tsukuba yang sudah menunggu 2 tahun untuk momen itu. Ada orang yang begitu semangatnya menunggu momen wisuda itu. Jadi, gue pernah sekali agak kesel karena suami gue merasa tidak perlu ikut seremonial S3 nya, terus gue dengan spontan bilang “ Ga boleh gitu, ga boleh sombong coba bayangin orang yang pengen wisuda tapi ga bisa wisuda (dan berharap bisa tuker badan demi bisa ikut wisuda kek gue)” kwkwkw.

Mungkin itu juga yang membuat gue semangat untuk S3 lagi sekitar setahun lalu. Gue ingin wisuda dengan cara yang baik, gue ingin wisuda dengan bapak ibu gue disamping hehehe dan anak-anak gue. Makanya setahun kemarin ketika gue memutuskan untuk tidak S3, hal yang paling membuat gue baper adalah gue ga bisa merasakan momen wisuda lagi hihi.

Kalau boleh pilih satu hal yang paling menyenangkan selama S2, lo bakal milih apa?

Yang paling menyenangkan selama S2 adalah gue dapet teman yang bisa membuat stress gue ilang dengan makan-makan dan jalan-jalan bertema absurd. Misalnya, gue dan sohib gue Teh Dani, kami dengan random naik 18 kippu ke kanazawa dan nyobain segala jajanan.

Selain itu, tentu saja gue diberi Allah berkah dengan menikah di tengah proses S2, yang justru membuat akademik gue makin stabil dan jiwa makin tenang. Setelah nikah justru gue makin ngerti cara nyari paper, dan gue justru alhamdulillah bisa nulis paper. Karena alhamdulillah  gue dapet suami yang punya banyak fungsi, salah satu nya fungsi sebagai senpai riset hahahaha.

Selain itu, alhamdulillah Kyoko anak yang sangat mengerti keadaan emaknya, seperti layaknya setiap anak bagi emaknya.

Dia bukan tipe tipe yang bangun malam jadi gue bisa menyambi baca paper di malam hari, selain itu dia tipe anak yang tahan diajak bepergian, jadi kalau harus ikut ke lapangan sebentar untuk riset, dia masih oke2 saja ga nangis2 heboh.

Apa sih pelajaran riset paling berharga selama lo S2 ini? Lo punya kesan pesan khusus ga?

#Turunkan ekspektasi

Untuk kalian yang pernah exchange di Jepang, lalu merasa bahwa Jepang adalah tanah yang paling cocok untuk kalian S2 karena didasarkan pada pengalaman masa lalu ==  Maka kalian harus benar-benar memikirkan masak2 karena kesenangan itu hanyalah fatamorgana kwkwkwkwkwk

Berdasarkan hasil nanya random kepada teman2 yang dulu pernah exchange ke Jepang dan melanjutkan S2 ke jepang, mereka merasakan shock perubahan suasana antar kedua masa itu hahaha. Karena memang kalau sedang exchange, kita bukan sedang menjadi mahasiswa beneran kan, karena load akademik nya ga seperti mahasiswa biasa 😃

Jadi, kalau memang mau melanjutkan S2 ke Jepang lagi, ya memang karena suka dengan ilmu dan sudah cocok dengan Sensei saat exchange dahulu, atau sudah melakukan studi dalam tentang kampus dan programnya ya 😉

#Kalau sudah tidak tahan, bilang!

Ketika gue cerita bahwa gue punya masalah dengan sensei gue kepada sekelompok grup, dan gue bilang masalah ini berakibat bahwa gue ga dikasih surat rekomendasi, maka seorang senpai berkata: “Makanya ini pelajaran bahwa kita harus baik sama orang, karena siapa tau suatu hari kita butuh bantuan mereka”.

Gue merasa ada yang mengganjal sama omongan ini, tapi gue bingung apa yang aneh, sampai akhirnya gue menemukan sebuah rumusan: “Baik ke semua orang itu keharusan, abis baik lupain aja. Berbuat baik bukan karena emang punya butuh”.

Menurut gue kalau dihubungkan dengan konteks hubungan ke sensei adalah: Kita harus baik kepada Sensei kita karena Allah SWT menyuruh kita seperti itu, jika kita salah, maka kita harus mengakui nya, ga usah ngeles, iya-in aja kalau memang kita yang salah.

Tapi, kalau itu bukan kesalahan kita, dan kita dipermalukan di depan umum sampai berkali-kali. Sekali lagi, dipermalukan tetapi itu bukan kesalahan kita dan itu dilakukan di depan umum, seperti misal:

 “Saya yakin dita san ga ngerti, karena yang ngerti hal ini cuman orang Jepang, ya kan”, Ketika sensei gue salah ngasih informasi ke gue, yang orang administrasi aja ngerasa ada miskom antara pembimbing dan murid.

“Saya kasih tau sekali lagi, setelah ini jangan pernah buat trouble lagi kalau mau lulus”. Padahal lo ga ngelakuin hal-hal ekstrim yang membuat kedutaan jepang ingin mengeluarkan lo dr teritori mereka.

Menurut gue, sah saja kalau lo mencoba menjelaskan dan menjawab “tuduhan” itu di depan umum dengan bahasa yang baik dan tidak dengan nada tinggi. Seenggaknya agar orang-orang paham bahwa kita ga seperti itu, apalagi kalau kita satu-satunya mahasiswa asing disana. Gue takut mereka punya potret jelek tentang orang Indonesia kalau gue ga berani menjelaskan posisis gue saat itu

Alhamdulillah selama berada di bawah tuntunan sensei gue, gue balajr menjawab tuduhan di depan umum dengan nada suara flat ehheehhehe

 #Pilih program internasional yang bagus

Salah satu faktor ketidaknyamanannya mahasiswa asing (gue dan temen mesir gue adalah mahasiswa percobaan untuk program Internasional perdana dari graduate school kami) adalah karena sistem kurikulum yang belum terstruktur dan membuat bingung sensei (professor) dan muridnya.

Terkadang ada ketidaksinkronan informasi antara urutan courses yang harus diambil oleh murid sebagai syarat kelulusan. Bahkan Sensei gue pun bingung courses apa yang harus gue ambil untuk lulus, sehingga untuk hal ini biasanya gue konsultasi langsung ke kepala program (karena sensei gue meminta demikian).

Sampai di kepala program, beliau bilang bahwa itu hak sensei untuk menjelaskan. (lalu gue bingung karena terombang ambing)

Sehingga, menurut gue sih lebih baik pilih program internasional yang memang secara kurikulum sudah terlihat jelas dengan course yang disajikan memang nyambung dengan jurusannya.

Pilih jurusan yang memang khas nya dari universitas tersebut, ga apa kalau memang bukan top jurusan dari universitas tersebut, tapi jangan terlalu abstrak kayak gue. misalnya ambil ilmu nyerempet antropologi di kampus yang punya begron kuat teknik dan sains.

#Ga ada perubahan positif tanpa KAGET di awal

 Kalau kalian merasa kehidupan S2 kalian ga banget dan penuh dengan noda kegagalan disana sini, percayalah banyak banget sebenernya efek positif dari hal yang menurut kita ga banget dikenang tersebut.

 Kalau dipikir-pikir, kalau gue ga dipaksa dengan cara seperti ini sama sensei gue, gue ga akan bisa ngerti cara baca paper, cara membuat paper yang baik dan bagaimana membuat urutan thesis ilmu sosial yang bisa dimengerti.

Walaupun cara memaksanya cukup kejam menurut gue, tapi ini mampu membuat kita menaikkan kemampuan baca kanji. Cukup lumayan sih, seenggaknya gue bisa membaca hasil translate indonesia-jepang dari paper gue sendiri hahaha.

Alhamdulillah ya Allah T,T

 

#Kalau sudah terlanjur tercebur, nikmati basah-basahannya aja!

Ada seorang senior yang bilang kalau misalnya “Ga ada dit di Jepang ini yang ga ngerasa salah ambil Sensei”, yang bisa diartikan dengan: yang punya “penderitaan” ini ga cuman elo aja hahahaha. Jadi, berhenti mengeluh dan ya udah nikmatin aja basah-basahannya. Lagipula ga ada yang memaksa kita untuk S2 atau S3 kan? daripada mengeluh tentag riset sendiri memang lebih baik ya jalanin aja. Apalagi, untuk kasus gue, ada kontribusi kesalahan gue disitu yang ga dengan baik-baik mencari informasi di awal, jadi ya harus berjuang sampai lulus. Insya Allah banyak banget hikmah dan pelajaran yang bisa diambil 🙂

Dit, setelah ini gue harap lo udah ga kesel lagi ya dengan pengalaman S2 lo, dan semoga lo bisa merealisasikan hal-hal yang ingin lo capai yang lo tulis juga di tesis lo 😉

Tengs! saat ini gue sedang menuju impian gue untuk merealisasikan apa yang gue tulis di tesis. Jalan ini jelas ga mulus, tapi tolong doakan gue ya! wkkw.Insya Allah, gue udah melupakan hal-hal kelam selama S2 lalu 😀

Oiya, untuk siapapun yang membaca ini, semoga ini bisa memberikan sedikit banyak informasi tentang kuliah di Jepang. Ingat, ini hanya cerita pencilan dari mayoritas kuliah di Jepang yang menyenangkan 😀

 

15
 *Jaman2 baru masuk Tokyo Tech hahaha
広告

Asam Manis Kuliah S2 di Jepang (ditulis oleh ibu yang sempat-sempatnya menikah, hamil, melahirkan dan alhamdulillah lulus dalam 2 tahun)」への1件のフィードバック

コメントを残す

以下に詳細を記入するか、アイコンをクリックしてログインしてください。

WordPress.com ロゴ

WordPress.com アカウントを使ってコメントしています。 ログアウト / 変更 )

Twitter 画像

Twitter アカウントを使ってコメントしています。 ログアウト / 変更 )

Facebook の写真

Facebook アカウントを使ってコメントしています。 ログアウト / 変更 )

Google+ フォト

Google+ アカウントを使ってコメントしています。 ログアウト / 変更 )

%s と連携中