Mama, Terimakasih!

投稿者: superanindita

Annisa Anindita adalah putri Mama yang kedua. Bayi 3.5 kilo yang dilahirkan di sebuah rumah bersalin di Jakarta itu menghabiskan banyak masa kecilnya di kota yang bangga akan belimbing-nya, Depok.

Dita, begitu biasa dia dipanggil, telah memutuskan bahwa Mama adalah sahabat favoritnya ketika dia pernah “ditekan” oleh sekelompok “teman” saat di SMP Kelas 2. Mama adalah orang yang membantu Dita untuk membangkitkan kepercayaan dirinya kembali. Mama berada di sisi Dita di masa awal baligh terberatnya. Mengajarkan dita bahwa dibalik tubuh yang besar harus ada kepercayaan diri yang besar juga.

Selama menempuh pendidikan formal, Mama memberikan keluangan kepada Dita untuk tidak masuk sekolah ketika memang merasa bosan. Mama juga berusaha tidak menuntut Dita nilai yang baik, justru Mama yang terkadang merasa bingung kenapa anak perempuan keduanya kok ambisius sekali, padahalnya Mama ya santai saja J

Pada masa menuju gerbang S1, Mama & Ayah memasukkan Dita ke Sekolah Bisnis yang paling bagus yang ada di Jalan Ganesha 10 Bandung. “Ayah & Mama percaya kalau sekolah ini yang bagus untuk orang seperti Dita, tentang biaya selama studi, insya Allah ada saja rezekinya”, begitu kata mereka ketika mengambil formulir pendaftaran USM.

Berada di sekolah bisnis ini membuat Dita merasa bahagia belajar dan bermain. Sekolah yang membuat Dita mengerti bahwa “makin besar bayaran bulanan memang makin bagus kualitas fasilitas dan pengajar”.Disana jugalah dita belajar melafalkan merk mahal “Hermes” dan “Louis Vuitton” dengan benar. Bukan, itu bukan merk andalan Dita. Dita masih loyal dengan Rabbani dan label Salman. Walaupun sekarang sudah beralih ke merk heavenlights, vanilla hijab, pulchra gallery dan javanic hijab. Loh kok tiba2 hijabers.

Selama 3 tahun disana, Dita bertemu dengan teman-teman wanita yang mengajaknya berfikir terbuka dan menyadarkan dia bahwa wanita berhak mempunyai target hidup yang tinggi. Dita si ambisius pun menetapkan bahwa dia akan mengambil S2 setelah lulus. Jepang adalah tujuannya.

Masa mengejar beasiswa S2 adalah masa paling butuh “ke-istiqomah-an”, mirip dengan perjalanan menunggu jodoh, rasanya “asam-asam manis”. Sambil mendaftar beasiswa kesana kemari, akhirnya Dita memutuskan untuk magang di salah satu perusahaan minyak dan gas swasta Indonesia. Bayarannya memang tidak besar, tetapi setidaknya bisa membuat Dita mandiri untuk membeli DVD Korea dan Jepang sendiri. Serta mie ayam dan cilok station dengan mandiri.

Kalau kita berbicara tentang gaji, memang bayaran bulanan Dita tidak ada apa-apa nya dengan biaya yang dikeluarkan Ayah & Mama selama 3 tahun belajar sarjana di SBM. Ada rasa tidak enak yang Dita rasakan karena tidak bisa benar-benar “mandiri finansial” setelah pasca S1. Anehnya, Mama merasa santai sekali, tidak seperti anak perempuannya yang merasa kurang berdaya (Dita saat itu dalam masa belajar untuk bersyukur) .“Jangan pernah berfikir sekolah itu untuk balik modal, Dita” Kata Mama. “Apalagi sebagai perempuan. Bisa saja memang kamu harus berada di rumah terus dan tidak memungkinkan untuk berkarya di luar”.Mama saat itu, mengajarkan bahwa tidak semua hal harus ada BEP (Break Even Point) secara jelas terlihat angkanya di buku tabungan.

Selama menjadi anak magang, Dita berangkat subuh dan pulang malam. Menjadi pasukan omprengan dan kopaja di pagi hari dan prajurit kereta yang loyal di sore hari. Dita belajar bahwa untuk meraup rupiah di Jakarta itu butuh semangat juang. Semangat juang untuk bangun pagi dan berebut duduk samping supir omprengan. Mencicipi Jakarta yang keras, sekeras suara abang kenek teriak “Komdak! Komdak!”, sukses meruntuhkan kesombongan Dita sebagai seorang sarjana bisnis dari Ganesha 10. “Capek ya Dita? Hihi. Dulu Mama & Ayah juga begitu. Dulu kalau mau berangkat kuliah dan kerja di akhir bulan, kita mengais tabungan dulu dan ngejual Koran bekas”. Ujar mama sambil tertawa kecil. Sombong memang si Dita ini, baru harus ngejar kopaja saja sudah merasa menyerah. Saat itu, Mama mengajarkan Dita bahwa perjuangan itu rasanya bisa pahit.

Tidak sampai 1 tahun magang di Jakarta, akhirnya atas kebaikan Allah SWT, tahun 2013 akhir, Dita bisa berangkat ke Jepang dengan beasiswa LPDP. Tokyo Tech adalah tempat berlabuh kedua Dita untuk melanjutkan studi S2. Perjuangan sekolah di Jepang jelas bukan lebih mudah, justru lebih terjal, curam, tapi juga penuh bahagia dan tawa. Pisah dengan keluarga di Indonesia tidak membuat Dita jauh dari Mama. Benar Dita memang jauh secara fisik, tapi secara perasaan tidak.

Hamil dan melahirkan selama studi S2 ini membuat Dita semakin rindu dan semakin meminta ampun kepada Allah SWT atas dosa yang mungkin Dita lakukan terhadap Mama. Setelah itu, Boleh dibilang, kenapa Dita mampu lulus tepat waktu saat S2 ditengah-tengah “acara hamil dan melahirkan” itu adalah karena gotong royong keluarga. Suami yang sigap membantu, Ayah Mama, Dhika, Uni Dhila dan Kyoko yang siap bertenggang rasa pada Dita yang sudah di titik “kritis”. Titik ter”kritis” selama Dita pernah mengecap studi.

Selama hampir dua bulan, Mama terbang kembali ke Jepang dan bahu membahu bersama Dita untuk menyelesaikan tesis. Mama sejak pagi, di tengah-tengah ramadhan, sigap menemani Kyoko sampai dengan menuju maghrib. Setelah itu, mama akan memasak makanan tiada henti dan tidur hampir larut. Kalau dipikir, yang lebih capek dalam proses penyusunan tesis Dita itu bukanlah diri Dita sendiri, tapi Mama.

Ah, berbicara dan berterimakasih kepada Mama itu tidak pernah habis. Sampai larut pun Dita tulis pos ini, tidak akan pernah sampai ke “inti terimakasih” tersebut. Kata-kata nasihat itu semuanya tajam, tepat sasaran, dan hmm, tepat guna? Masya Allah, sebegitu kuatnya kata-kata seorang Ibu.

Dita menulis ini ditengah malam, menikmati masa-masa anaknya masih tertidur pulas. Alias jam bebas merdeka hihi. Sambil menulis, sambil mengingat nasihat mama terakhir tentang peran & tujuan perempuan, nasihat yang tepat disasarkan pada Dita yang sedang menggebu-gebu S3 1 bulan lalu: “PhD itu bukan tujuan, PhD itu sarana untuk mendapatkan berkah Allah SWT”. Pasca mendapatkan nasihat ini, Dita pun merasa skak mat :”)IMG_9131

Terakhir, mama, selamat ulang tahun, semoga mama sehat selalu dan bisa bermain puas bersama cucu-cucu mama. I Love you.I love you juga ayah hihi