秋の家族旅行

投稿者: superanindita

Assalamualaikum wr wb.

Tenang saudara sebangsa dan setanah air beta, judul boleh pake Bahasa Jepang tapi inti tulisan tetap bahasa kalbu persatuan (bentar-bentar, diksi gue makin ngaco nih).Jadi adalah hal yang bijaksana jika ente-ente tetap menyimak tulisan di bawah ini.

Tulisan kali ini, seperti judulnya, akan menceritakan bagaimana Keluarga Kecil Pak Haris memanfaatkan liburan musim gugur. Sebenernya kita ga bener2 pergi di hari libur sih wkkw, tapi berhubung ga sengaja harus ke daerah Tokyo akhirnya dibuat saja lah “liburan dadakan musim gugur” ke Tokyo.

Berhubung kita pertama kali harus bawa bocah bayi yang hobi bergerak lucu di musim dingin, jelas saja kita sebagai orang tua baru nan lugu cukup khawatir terhadap kelengkapan bayi kita. Apalagi, kita akan pergi ke Tokyo pertama kalinya menggunakan kereta sambil membopong stroller bayi. bukan memakai mobil. Gaya euy..

Eits coy bentar. Bukan mau gaya sebenernya. Di Jepang itu berlaku kebalikan dari di Indonesia. Di Kota besar akan lebih leluasa jika naik kereta dan ribet kalau bawa mobil. Sebaliknya di kota kecil alias kayak tsukuba ini, akan jauh lebih baik punya mobil karena transportasi kereta nya belum mencakup banyak area di kota tersebut.

Alhamdulillah kami sempat menabung untuk membeli Mobil yang bentuknya kotak hitam kayak transformer, sahabat kami selama di Jepang ini hehe. Tapi setelah kami pikir-pikir, kalau ke Tokyo dari Tsukuba menggunakan kereta itu walaupun agak sedikit lebih mahal, tetapi dari kualitas perjalanan kayaknya lebih baik daripada menggunakan mobil.

Mengapa? Karena dengan naik kereta kami bisa fokus mengobrol dan mengajak bermain anak. Anak kami akan bisa melihat orang di sekeliling dan bisa merasakan riuh rendah Tokyo.

Setelah bersiap-siap cukup lama, akhirnya selasa pagi pukul 7.30 JST kami lepas kaki dari rumah menuju Tsukuba Senta. Kami membawa stroller bayi dan Babywrap untuk jaga-jaga jika stasiun di Daerah Tokyo yang kami lewati nanti tidak menyediakan elevator (oyeah kota besar).

7.30 JST itu kami akui bukan waktu yang tepat untuk pergi ke Tokyo untuk liburan. Karena di hari biasa, pada jam segitu adalah jam dimana para pencari nafkah berkumpul padat di stasiun. Tapi tidak apa, sekalian Kyoko, anak kami belajar melihat realita hidup sejak kecil.

Tujuan pertama kami adalah Akabanebashi Station. Dari Akabanebashi Station kami menuju Kedutaan Italia di Tokyo. Ngapain ke kedutaan Italia? Jualan Pizza? Tentu tidak, kan sudah minum combantrin.

krik krik.

Rencananya Ayah Kyoko akan lepas landas ke Italia, Februari depan untuk melakukan presentasi di Konferensi Internasional tentang komputer xxx xxx (panjang banget dan ribet jadi abaikan saja judul konferensi nya). Sehingga kita menemani Ayah Kyoko untuk Apply Visa deh hihi.Betewei, menurut gue suasana kedutaan itu mencerminkan suasana negara yang ingin kita tuju.

Dulu pas gue ke kedutaan Jepang di Jakarta, kerasa banget tuh suasana Jepang yang ga serba ribet dan jelas dan ramah. Sedangkan menurut gue di kedutaan Italia ini, suasananya agak lebih santai. Petugas orang Italia yang gue liat di loket ramah banget dan ga ragu ngobrol ama applicant visa. Tapi sayangnya walaupun Santai tapi peraturannya agak ga jelas.

Ga jelas karena suami gue diminta untuk menambahkan data uang di rekeningnya karena dianggap tidak cukup sebagai bekal hidup di Itali. Betewei, suami gue cuman pengen tinggal 4 hari disana bukan 1 abad. Tetapi ternyata, 150ribu yen rekening plus LoG Beasiswa plus bukti tiket pesawat dan hotel belum bisa meng-goal-kan suami gue.

Si petugasnya sendiri juga ga ada patokan yang jelas berapa tabungan yang dianggap “aman” untuk pergi ke Italia. Akhirnya suami gue pun mengisi 2 kali lipat duit beasiswa bulanan dan alhamdulillah lolos. Dan biaya visa nya itu 8,200 yen lho bukan 3000 kayak bikin visa Jepang.

Urusan visa selesai kira-kira jam setengah 11 (Btw Kantor Visa nya tutup jam 11.30), kami udah lapar tak terkira, sehingga kami pergi melipir ke Toko Roti Halal Liaison yang lokasinya ga jauh dari Kedutaan Italia. Toko Roti Halal itu lokasinya deket juga dengan Keio Univ Mita Campus. (tentang toko roti: http://www.halalmedia.jp/ja/archives/1765/im-really-grateful-halal-bakeryhalal-bakery-cafe-liaison-opened-japan/)

Toko roti ini terkenal karena Karepan nya. jelas, karena dimana lagi muslim bisa makan roti kare berdaging kalau tidak disini hihi. Karena kami lapar, masing-masing kami makan 2 roti.

Buat Gw pribadi, gue lebih suka roti kare dari Hanamaza Pan. Hanamaza Pan adalah toko roti milik seorang Ibu Indonesia yang berbasis di Provinsi Gifu. Roti kare dari Liaison ini garing di luar dan lapisan roti nya cukup tipis dan kare nya たっぷり.kebetulan gw lebih suka roti kare yang lapisan roti nya cukup tebal dibanding si isi kare nya hehe.

Yang gue suka dari kunjungan ke Toko Roti Liaison ini adalah karena pengunjung lokal alias orang Jepang nya juga banyak, jadi bisnis makanan halal itu ga tertutup hanya untuk konsumen muslim.Bahagia aja sih ngeliat kondisi lapangan seperti itu.

Berikut ini adalah foto-foto di Toko Roti Liaison:

 

Kalau dipikir-pikir makan kami banyak juga ya hahaha :”). Makanya ga usah dipikirin, disyukurin aja, alhamdulillah bisa makan roti yang bersertifikat halal di Jepang :”).

Setelah perut hangat dan kenyang, akhirnya kami memutuskan untuk memburu ikonnya Tokyo yang letaknya ga jauh dari Akabanebashi Station. Apalagi kalau bukan, Tokyo Tower.

Betewei, gue termasuk orang yang bersikeras kalau Tokyo Tower itu lebih cocok jadi ikon Tokyo dibanding Tokyo SkyTree. Menurut gue Tokyo Skytree itu menang di fasilitas pendukung kayak Mall dan Aquarium aja. Kalau masalah bentuk masih bagusan dan lebih romantis-an Tokyo Tower. Tapi memang karena sekeliling Tokyo Tower ini banyak gedung tinggi, jadi mungkin udah ga sedep kalau observasi keindahan Tokyo dari Tokyo Tower ini.

Senengnya kita, karena masih lumayan banyak turis yang datang ingin mengunjungi Tokyo Tower. Termasuk keluarga kecil kita. Tapi berhubung kita agak malesh buat nanjak ke deket Tower nya, akhirnya kita foto aja dari kejauhan.

Sebenernya kita ga segitu tertariknya foto2 di landmark Tokyo, kalau bukan karena punya anak. karena kita ingin anak kita ini punya memori banyak tentang “hidup di Tokyo”, akhirnya kita bela-belain deh muterin Tokyo ini.

ketika males nanjak bercampur dengan ambisi “anak kita harus tau tokyo itu gimana” jadilah foto ini >>>

Processed with VSCO with e1 preset

Kyoko dan Tokyo Tower

 

Dan ini adalah foto-foto Tokyo Tower yang bisa dijepret dr penjuru akabanebashi dan Mita:

 

Okay, sudah puas kita berfoto-foto dengan Tokyo Tower yang cantik yang sinar emas nya syahdu dilihat di malam hari, kita memutuskan untuk memburu foto bersama daun kuning atau daun yang ga hijau yang ada di musim gugur (sungguh tata bahasa yang kurang baik, tidak untuk ditiru).

Spot oke untuk foto musim gugur itu salah satunya adalah Todai (Tokyo Univ). Tapi berhubung kita mau beda dikit (alias males lagi jalan ke Todai kwkw), akhirnya kita memutuskan (alias gue agak memaksa suami gue) untuk foto-foto deket Keio University.

Keio Univ itu kalau di Indonesia mungkin kayak Pelita Harapan kali ya. Univ Top Swasta yang isinya anak pintar nan kaya. Gaya fashion anak-anaknya dah keliatan beda banget dibandingkan anak Tokodai (kampus S2 gue yang kayak kampus teknik). Asli, bahkan pas masuk gerbang pun suasananya udah beda banget. Cewek2nya dandan coy.

Kampusnya agak kecil, dan ada beberapa bangunan yang suasananya ke-eropa-an. Jadi ada efek gimanaaaaa gitu.dor. Hasil jepretan kita selama di Keio ada di bawah ini. (btewe, bener deh punya anak itu membuat Ibu dan Bapak jadi tahan difoto. demi memori bareng anak bokk >>bilang aja menikmati difoto :))) )

 

 

Gue pribadi mengagumi Keio dan Waseda, entah kenapa menurut gue dua kampus ini punya atmosfer yang OK dan 上品 pisan. Mungkin karena kampus swasta top dan anak-anaknya gaul kali ya, kampusnya jadi keliatan “berkelas” juga suasananya. Ya kali kali Kyoko-chan emang jodohnya kuliah di sini..Maksudnya anak gue nya ya, bukan jodoh nya si kyoko-chan nya. (yaelah ngapain lo perjelas si dit wkkw).

Setelah foto-foto ampe gigi kering dan Kyoko-chan sudah makan siang di taman deket kampus dan Ayah Kyoko pun sudah sholat, akhirnya kami melanjutkan wisata keliling Tokyo kami ke Shinjuku Gyoen. 新宿御苑.

Shinjuku Gyoen National Park adalah salah satu taman yang paling indah di Tokyo. Tidak masuk dengan gratis, dewasa bayar 200 yen dan bocah SD ke atas bayar 100 yen. Letaknya ada di dekat Stasiun Shinjuku San-chome atau deket Shinjuku Gyoen-Mae. TIDAK dekat dari Stasiun Shinjuku (jangan kebalik ya).

Ya meskipun kita ga nyalahin juga sih kalau mau jalan kaki dari Stasiun Shinjuku, lumayan olahraga bok.

Shinjuku Gyoen itu menurut kami adalah tempat yang oke sekali untuk foto-foto momiji. Karena memang indah sekali pemandangannya. Tapi sebenernya yang indah itu bagian paling depannya aja sih, jadi kalau mau hemat palingan foto di daerah sebelum masuk loket masuk aja hahaha.

Pemandangannya cantik, daun warna hijau, kuning merah itu bercampur harmonis. “Mirip lampu lalu lintas ya”, kata orang Jepang yang saya dengar. Ya, orang jepang emang bisa aja komennya. memasuki pelataran bunga, kami mencium bau pupuk hewan yang menyengat.

“Ih bau nih!” kata kami (dalam Bahasa Indonesia).Tak lama dari kami berkata seperti itu, kami dengar salah satu orang dari sekelompok wanita paruh baya orang jepang berkata dengan syahdu

“Wah, ini bau alam ya…”.

Masya Allah. Kami akui deh orang Jepang itu emang juara kalau buat komen.

Sebenernya hal yang bikin kami ga gitu semangat jalan-jalan memutari si Shinjuku Gyoen dengan sempurna adalah karena Kyoko-chan ini ketiduran di Stroller kwkw. Ya, buat kami, tujuan utama datang ke Kouen (taman) adalah supaya Kyoko bisa menikmati suasana taman. Tapi kalau bocahnya aja tidur, kami ngapain dong? wkwk

Tapi alhamdulillah, di Shinjuku Gyoen kami bisa menikmati banyak lukisan alam Allah SWT yang cantik sekali. Sesuatu yang akan kami ulang lagi memori nya begitu sudah tidak berada lagi di Jepang😉

Processed with VSCO with m5 preset

Mau foto2 sama 紅葉(こうよう) tapi Kyoko-channya tidur haha

Akhirnya di detik-detik menuju pulang, Kyoko-chan agak melek dikit terus tidur lagi hahha.

Yoshh. Akhirnya selesai juga perjalanan ke Shinjuku Gyoen!.Sebenernya kalau boleh jujur, gue bukanlah tipe penikmat taman. Tapi gue akuin bahwa Shinjuku Gyoen memang pantas untuk dikunjungi seumur hidup sekali kalau lo ke Tokyo.

Apa ada yang lebih bagus dari Shinjuku Gyoen? Ada. Namanya Kenrokuen, satu dari 3 taman tercantik di Jepang. lokasinya di Kanazawa. Gw baru menyadari cantiknya Kenrokuen ketika pergi ke beberapa taman yang ada di provinsi lain. Ada keanggunan tersendiri yang dipancarkan oleh Kenrokuen memang😉

Setelah dari Shinjuku Gyoen, karena kami sudah terlalu lapar, kami memutuskan untuk pergi ke Manhattan Fish Market Jepang yang bersetifikasi halal. http://www.manhattanfishmarket.com/japan/japan.html

Kebetulan karena kami super lapar, cuman ini yang sempat kami foto:

Processed with VSCO with e4 preset

Ikan Dory nya enak banget dan PEDAS!

Kami rekomendasikan banget deh untuk makan si Ikan Dori pedas ini. Harganya memang agak mahal, porsi di atas itu sekitar 3.200 yen tapi puas insya Allah🙂. Oh iya, lokasi MFM Japan itu di dekat Ikebukuro Station. cuman 5 menit dari EAST EXIT 東口.

Kalau dihitung hitung hari itu kami sudah 12 jam keluar dari tsukuba. 7.30 pagi keluar dari Tsukuba dan kembali ke Tsukuba jam 7.30 malam. Hari itu kami lelah luar biasa tapi bahagia luar biasa. Walau dingin hampir menusuk, tapi kehangatan yang hadir serta yang ditimbulkan dari senda gurau obrolan sepanjang perjalanan alhamdulillah bisa meniadakan dingin tersebut.

Semoga Allah SWT memberikan kami kesehatan dan rezeki untuk bisa keliling Tokyo lagi dan bisa menyajikan reportase tentang keliling Tokyo bersama bayi😉

 

Salam hangat heater 23 derajat, Kasuga,Tsukuba

DHK