Kesuksesan Terbesar Dalam Hidup?

投稿者: superanindita

Berikut ini gw akan copy paste salah satu esai yang berhasil membuat gw berfikir ultra keras dalam proses penulisannya.

Esai ini adalah esai syarat pendaftaran beasiswa LPDP untuk pendanaan S2 ke Tokyo Institute of Technology. Mungkin buat kalian esai ini sangat biasa, tapi untuk gw, gw selalu menitikkan air mata ketika membaca esai ini.

Bahkan ketika menuliskannya pun, gw nangis. (ah itu sih karena gw orangnya lebay aja hihi). Semoga Esai di bawah ini bisa menjadi modal penyemangat ya🙂

Essay Sukses Terbesar Dalam Hidupku

Ini mungkin salah satu esai tersusah yang pernah saya buat. Karena semua hal yang dikategorikan “sukses” menurut saya, harus dikategorikan dengan sukses besar. Setiap hal yang dikategorikan “sukses” setidaknya membutuhkan jalan perjuangan yang tidak biasa, jadi tentunya menurut saya, tidak ada “sukses kecil”.

Untuk esai ini, saya akan mengubahnya bukan sebagai “Sukses Terbesar” tetapi dengan “Sukses dengan Jalan Perjuangan Terpanjang”.

Dari SMP, saya ingin merasakan sekolah di Luar Negeri. Saya merasa dengan belajar di luar negeri akan banyak hal yang bisa dieksplorasi. Waktu SMP Alasan saya masih sesederhana itu.

Saat SMP, saya ditawarkan untuk pindah ke Sekolah Islam Malaysia, sekolah yang katanya punya fasilitas yang keren. Kebetulan saat itu pindah sekolah ke luar negeri belum ada di rancangan anggaran kedua orang tua saya, Allah insya Allah punya rencana yang indah untuk saya di jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Niat sekolah luar negeri ditunda terlebih dahulu.

Di SMA, saya tentu tidak melupakan semangat berkobar saya untuk sekolah ke luar negeri. Di tahun kedua SMA , saya berniat untuk mendaftar program pertukaran ke benua Amerika. Tetapi niatan itu harus saya tunda. Menurut info yang saya & orang tua dapatkan ternyata untuk mendapat beasiswa tersebut itu tidak sepenuhnya gratis dan ditambah saat itu Ibu Saya belum rela melepas saya belajar jauh. Kalau orang tua kurang ridho, saya tahu saya tidak boleh memaksa karena siapa yang bisa mengingkari bahwa ridho Allah adalah ridho orang tua.

“Kalau kamu ingin keluar negeri, keluar dengan bangga, keluar tanpa menggunakan uang orang tua. Orang yang sekolah ke luar negeri dengan beasiswa akan dipandang berbeda, Dit”. Itulah pesan Ayah untuk menyemangati pasca mundurnya saya dari aplikasi beasiswa pertukaran SMA.

Mulai saat itu, perkataan Ayah saya camkan dengan dalam. Saya akan keluar negeri untuk sekolah tanpa menggunakan uang orang tua saya. Mimpi tersebut saya pupuk hingga akhirnya saya masuk Sekolah Bisnis & Manajemen ITB. Senang sekali, ternyata kesempatan untuk pertukaran ternyata terbuka luas di kampus gajah itu.

Saya mulai “tebar peluru”lagi ketika saya berada di tingkat dua kuliah. Kebetulan kuliah saya hanya 3 tahun, sehingga saya punya kesempatan untuk memanfaatkan kesempatan “kecepatan lulus 1 tahun” dengan mengikuti pertukaran pelajar. Sebutkan program pertukaran keluar negeri untuk Mahasiswa S1 ITB, insya Allah saya sudah coba daftar semuanya. Niat saya untuk pertukaran pelajar saat itu tidak sesederhana saat SMP, memang dengan keluar negeri saya bisa mengeksplorasi berbagai hal, namun lebih dari itu, saya bisa belajar banyak hal, belajar melihat hal dari banyak sudut pandang, belajar menjadi warga Indonesia yang baik, belajar memperkenalkan Indonesia.

Mulai dari program IIEF, Erasmus Mundus, Aminef, Tohoku University, Oita University, dll, sudah pernah saya coba. Sebanyak total 6/7 kali aplikasi belum dibolehkan berhasil oleh Allah SWT. Saat itu saya berfikir, Allah pasti sedang menyiapkan surprise indah untuk saya, sampai-sampai saya harus bersabar menunggu sampai tingkat 3 kuliah, waktu yang cukup mepet untuk anak S1 yang ingin pertukaran pelajar.

Akhirnya di percobaan terakhir (setelah mendaftar Kanazawa, angkatan saya sudah tidak bisa mendaftar beasiswa exchange melalui kampus lagi), Allah SWT akhirnya mengungkapkan Surprise-Nya untuk saya. Saya diloloskan untuk mengikuti program Kanazawa University Student Exchange Program dan diberi beasiswa kuliah & hidup oleh JASSO; beasiswa yang sangat kompetitif untuk mahasiswa pertukaran.

Kanazawa menyediakan berbagai hal yang saya ingin coba. Kanazawa adalah kota yang menjaga budaya tradisional & memiliki pusat kebudayaan yang tidak pernah sepi. Saya mengikuti klub Taiko (gendang Jepang), belajar Shinobue & Shakuhachi (alat musik tiup jepang. Tidak hanya itu, program Kanazawa University Student Exchange memberikan kesempatan saya untuk belajar mengenai pendidikan di Jepang melalui mata kuliah “Education in Japan”, bersama dengan guru-guru dari Malaysia, Filipina & Solomon saya belajar banyak tentang sisi terang & gelap pendidikan Jepang. Saat itu niat saya menjadi dosen semakin kuat.

Kanazawa, kota kecil asri, teratur, damai, terlalu damai. Ternyata memang kota itu kota terbaik yang Allah pilihkan untuk saya. Disana saya bisa bertemu dengan teman dari berbagai Negara. “Ternyata anak berjilbab ada yang seperti kamu? Saya harus bawa kamu ke Russia!” “Saya pikir kamu seperti yang suka saya lihat ada di berita Aljazeera”,Kalau saya tidak di Kanazawa, mungkin saya tidak akan mendengar kata-kata seperti itu.