SUPER ANINDITA

"Positif, bukan negatif. Aktif, bukan pasif"-Buya Hamka

Mama, Terimakasih!

Annisa Anindita adalah putri Mama yang kedua. Bayi 3.5 kilo yang dilahirkan di sebuah rumah bersalin di Jakarta itu menghabiskan banyak masa kecilnya di kota yang bangga akan belimbing-nya, Depok.

Dita, begitu biasa dia dipanggil, telah memutuskan bahwa Mama adalah sahabat favoritnya ketika dia pernah “ditekan” oleh sekelompok “teman” saat di SMP Kelas 2. Mama adalah orang yang membantu Dita untuk membangkitkan kepercayaan dirinya kembali. Mama berada di sisi Dita di masa awal baligh terberatnya. Mengajarkan dita bahwa dibalik tubuh yang besar harus ada kepercayaan diri yang besar juga.

Selama menempuh pendidikan formal, Mama memberikan keluangan kepada Dita untuk tidak masuk sekolah ketika memang merasa bosan. Mama juga berusaha tidak menuntut Dita nilai yang baik, justru Mama yang terkadang merasa bingung kenapa anak perempuan keduanya kok ambisius sekali, padahalnya Mama ya santai saja J

Pada masa menuju gerbang S1, Mama & Ayah memasukkan Dita ke Sekolah Bisnis yang paling bagus yang ada di Jalan Ganesha 10 Bandung. “Ayah & Mama percaya kalau sekolah ini yang bagus untuk orang seperti Dita, tentang biaya selama studi, insya Allah ada saja rezekinya”, begitu kata mereka ketika mengambil formulir pendaftaran USM.

Berada di sekolah bisnis ini membuat Dita merasa bahagia belajar dan bermain. Sekolah yang membuat Dita mengerti bahwa “makin besar bayaran bulanan memang makin bagus kualitas fasilitas dan pengajar”.Disana jugalah dita belajar melafalkan merk mahal “Hermes” dan “Louis Vuitton” dengan benar. Bukan, itu bukan merk andalan Dita. Dita masih loyal dengan Rabbani dan label Salman. Walaupun sekarang sudah beralih ke merk heavenlights, vanilla hijab, pulchra gallery dan javanic hijab. Loh kok tiba2 hijabers.

Selama 3 tahun disana, Dita bertemu dengan teman-teman wanita yang mengajaknya berfikir terbuka dan menyadarkan dia bahwa wanita berhak mempunyai target hidup yang tinggi. Dita si ambisius pun menetapkan bahwa dia akan mengambil S2 setelah lulus. Jepang adalah tujuannya.

Masa mengejar beasiswa S2 adalah masa paling butuh “ke-istiqomah-an”, mirip dengan perjalanan menunggu jodoh, rasanya “asam-asam manis”. Sambil mendaftar beasiswa kesana kemari, akhirnya Dita memutuskan untuk magang di salah satu perusahaan minyak dan gas swasta Indonesia. Bayarannya memang tidak besar, tetapi setidaknya bisa membuat Dita mandiri untuk membeli DVD Korea dan Jepang sendiri. Serta mie ayam dan cilok station dengan mandiri.

Kalau kita berbicara tentang gaji, memang bayaran bulanan Dita tidak ada apa-apa nya dengan biaya yang dikeluarkan Ayah & Mama selama 3 tahun belajar sarjana di SBM. Ada rasa tidak enak yang Dita rasakan karena tidak bisa benar-benar “mandiri finansial” setelah pasca S1. Anehnya, Mama merasa santai sekali, tidak seperti anak perempuannya yang merasa kurang berdaya (Dita saat itu dalam masa belajar untuk bersyukur) .“Jangan pernah berfikir sekolah itu untuk balik modal, Dita” Kata Mama. “Apalagi sebagai perempuan. Bisa saja memang kamu harus berada di rumah terus dan tidak memungkinkan untuk berkarya di luar”.Mama saat itu, mengajarkan bahwa tidak semua hal harus ada BEP (Break Even Point) secara jelas terlihat angkanya di buku tabungan.

Selama menjadi anak magang, Dita berangkat subuh dan pulang malam. Menjadi pasukan omprengan dan kopaja di pagi hari dan prajurit kereta yang loyal di sore hari. Dita belajar bahwa untuk meraup rupiah di Jakarta itu butuh semangat juang. Semangat juang untuk bangun pagi dan berebut duduk samping supir omprengan. Mencicipi Jakarta yang keras, sekeras suara abang kenek teriak “Komdak! Komdak!”, sukses meruntuhkan kesombongan Dita sebagai seorang sarjana bisnis dari Ganesha 10. “Capek ya Dita? Hihi. Dulu Mama & Ayah juga begitu. Dulu kalau mau berangkat kuliah dan kerja di akhir bulan, kita mengais tabungan dulu dan ngejual Koran bekas”. Ujar mama sambil tertawa kecil. Sombong memang si Dita ini, baru harus ngejar kopaja saja sudah merasa menyerah. Saat itu, Mama mengajarkan Dita bahwa perjuangan itu rasanya bisa pahit.

Tidak sampai 1 tahun magang di Jakarta, akhirnya atas kebaikan Allah SWT, tahun 2013 akhir, Dita bisa berangkat ke Jepang dengan beasiswa LPDP. Tokyo Tech adalah tempat berlabuh kedua Dita untuk melanjutkan studi S2. Perjuangan sekolah di Jepang jelas bukan lebih mudah, justru lebih terjal, curam, tapi juga penuh bahagia dan tawa. Pisah dengan keluarga di Indonesia tidak membuat Dita jauh dari Mama. Benar Dita memang jauh secara fisik, tapi secara perasaan tidak.

Hamil dan melahirkan selama studi S2 ini membuat Dita semakin rindu dan semakin meminta ampun kepada Allah SWT atas dosa yang mungkin Dita lakukan terhadap Mama. Setelah itu, Boleh dibilang, kenapa Dita mampu lulus tepat waktu saat S2 ditengah-tengah “acara hamil dan melahirkan” itu adalah karena gotong royong keluarga. Suami yang sigap membantu, Ayah Mama, Dhika, Uni Dhila dan Kyoko yang siap bertenggang rasa pada Dita yang sudah di titik “kritis”. Titik ter”kritis” selama Dita pernah mengecap studi.

Selama hampir dua bulan, Mama terbang kembali ke Jepang dan bahu membahu bersama Dita untuk menyelesaikan tesis. Mama sejak pagi, di tengah-tengah ramadhan, sigap menemani Kyoko sampai dengan menuju maghrib. Setelah itu, mama akan memasak makanan tiada henti dan tidur hampir larut. Kalau dipikir, yang lebih capek dalam proses penyusunan tesis Dita itu bukanlah diri Dita sendiri, tapi Mama.

Ah, berbicara dan berterimakasih kepada Mama itu tidak pernah habis. Sampai larut pun Dita tulis pos ini, tidak akan pernah sampai ke “inti terimakasih” tersebut. Kata-kata nasihat itu semuanya tajam, tepat sasaran, dan hmm, tepat guna? Masya Allah, sebegitu kuatnya kata-kata seorang Ibu.

Dita menulis ini ditengah malam, menikmati masa-masa anaknya masih tertidur pulas. Alias jam bebas merdeka hihi. Sambil menulis, sambil mengingat nasihat mama terakhir tentang peran & tujuan perempuan, nasihat yang tepat disasarkan pada Dita yang sedang menggebu-gebu S3 1 bulan lalu: “PhD itu bukan tujuan, PhD itu sarana untuk mendapatkan berkah Allah SWT”. Pasca mendapatkan nasihat ini, Dita pun merasa skak mat :”)IMG_9131

Terakhir, mama, selamat ulang tahun, semoga mama sehat selalu dan bisa bermain puas bersama cucu-cucu mama. I Love you.I love you juga ayah hihi

Apa yang sedang diperjuangkan saat ini

Screen Shot 2016-07-21 at 12.24.15 PM

Kalau memang Australia adalah tempat yang terbaik untuk keluarga kecil Pak Haris berkembang dan jika memang ini adalah jalan terbaik untuk bermanfaat bagi banyak orang, maka mudahkanlah proses PhD ini Ya Allah.

Setidaknya untuk sekarang, Kyoko tau emaknya calon Emak S3 :)) Kalau misal ga jadi ya jadinya “Mantan Calon S3 :))”

Saling mendoakan ya!

Ketika DHK Ke Tokyo, Maka..

I. Maka heboh lah isi tas gue (dengan bukan barang-barang gue) wkwkwk. Di poin ini gue akan perlihatkan apa isi tas gue kalau mau berpergian bersama bocah Kyok0-chan yang sekarang hobi ke dapur dan ngambilin panci dan sapu.

PicsArt_04-01-06.52.42

Ini adalah penampakan tas gue yang di dalamnya ada beberapa tas kecil. Selain bawa tas backpack jansport yang enak banget dipakai (strap nya ga bikin sakit punggung sih menurut gue), gue juga bawa baby carrier merek Aprica (terimakasih banyak FKMIT dan PPI Ibaraki <3), dan juga selimut untuk dipakai di luar baby carrier.

Kenapa bawa selimut? karena kalau lagi musim dingin >> semi, anginnya luar biasa banget. gue pernah ga bawa selimut dan cuman pake baby carrier ujung2nya si Kyoko malah masuk angin. jadi harus bawa selimut tebel juga. betewe selimut tebel ini beli di Indonesia, tepatnya dibeliin oleh sohib untuk hadiah lahiran, terimakasih fira.

penampakan gue kalau ketiga benda di atas itu dipake kira2 kayak marshmallow tapi ga putih:

PicsArt_03-31-08.28.21

Sebenernya gue itu juga terkadang bawa stroller supaya kami berdua pasangan di atas 25 tahun ini ga bengkek (bengkek itu maksudnya capek tulang gitu lho), namun, apa daya, batuta (bayi di bawah 1 tahun) ini susah diprediksi maunya, jadinya ya kadang2 stroller nya ga dipake.

Oke, lanjut kita bahas apa aja yang gue persiapkan kalau bawa bocah pergi ke Tokyo. selanjutnya ini nih:

Gue suka membagi kumpulan barang ke dalam  tas2 kecil. Tas2 kecil nya harganya murah lho btw, gue suka beli di 3 coins tapi yang biru donker itu adalah kain Shibori yang gue beli di Arimatsu Shibori Matsuri, simpel supaya gue inget kalau riset S2 gue tentang kain itu. Kalau mau nitip kasih tau aja ya, kali2 gitu tertarik sis.

Gue bawa alas ganti popok yang pengen gue buang gegara ada bekas2 kuning sulit hilang yang bikin gue geli2 pusing. Selain itu gue taro juga tissue basah kali2 butuh cepat kalau Kyoko tiba2 buang air tanpa komando.

Ada dua resleting di tas bagian depan, yang ukuran medium biasanya dijadikan tempat buku dan satu boneka, penghibur buat kyoko kalau lagi bete di kereta atau di tempat yang mengharuskan dia berada di tengah-tengah forum orang banyak (ceritanya anak gue itu low profile gitu ga suka jadi pusat perhatian wkkw-idih)

Di resleting mini paling depan, biasanya gue taro tissue basah yang fungsinya beda sama tisu basah warna merah yang ada di gambar kiri. yang kiri itu kan khusus bersihin pantat sih ya sebenernya (yang kadang2 gue pake buat bersihin segala macem kotoran di rumah wakakak-sori kyoko) tapi tisu yang berbungkus abu2 metalik itu fungsi nya untuk bersihin sisa makanan dan tangan si kyoko kalau berantakan megang sesuatu atau abis makan.

Intinya: Intinya gue ga tau apa sebenernya bedanya. mungkin gue korban promosi

PicsArt_04-01-07.01.22

Selanjutnya kita bahas apa yang ada di setiap tas2 kecil yang sori banget gue bukan tipe2 beberes sebelum difoto jadi gue keluarkan dalam keadaan apa adanya wakakakak.

  1. Yang paling kiri itu isinya adalah baju ganti, karena lagi musim dingin berangin gue selalu bawa cardigan juga supaya lapisannya jadi rada tebel aja. kalau bepergian lebih jauh dan lebih lama, jelas baju gantinya lebih banyak (ini sih ga usah lu sebut udah ngerti dit)
  2. yang di tengah ini isinya adalah amat penting, peralatan ganti popok yang biasanya gue taro lokasinya paling mudah terjangkau di antara bundelan yang lain. Karena kalau misalnya mau ganti popok itu kan rasanya kayak mau perang alias jaga-jaga si kyoko kesel karena harus ganti popok, jadi segala peralatannya harus disiapkan dengan cekatan. Di bundelan ini juga gue taro telon-my baby yang dikasih sama neneknya Kyoko di Palembang. jaga2 dia butuh yang anget-anget di musim yang dingin ga mencekam ini.
  3. Yang paling kanan isinya adalah bibs alas makan, sapu tangan kalau ada yang kotor-kotor dan kaos kaki. pertanyaannya adalah kenapa itu sapu tangan dan kaos kaki harus lebih dari 1? ya biar asik aja gitu kesannya huahha.

PicsArt_04-01-06.56.35

Ini adalah isi lain dan terakhir dari tas gue, dari kiri itu adalah spray baby lotion untuk kulit kering, terutama di musim dingin kayak gini kulit anak gue yang sensitif jadi suka kering2 aneh. Biasanya gue beli earth mama angel baby yang satu set body soap dan body lotion (merek amrik-jenis organik), cuman karena pengen ganti merek dan pengen lebih jepang, huahahhaha akhirnya gue pake produk babybuba-organik yang ternyata lebih mahal sodara2!! Kalau dari segi kualitas kayaknya earth mama lebih bagus yah di kulit anak gue yang sensitif.

Yang di tengah itu adalah nursing cover, beli di amazon seharga 1500 yen dan cuman pernah dicuci sekali selama gue beli, jijik ya. nyaman banget dipakai saat musim dingin dan berangin, tidak nyaman dipake saat musim panas karena anak gue kepanasan. Tapi gue sukaa banget motif nya bunga2nya, jadi ya udah beli aja (impulsif deh).

Yang paling kanan adalah kotak berisi penganan kecil kyoko. Terimakasih Wakodo atas berbagai macam rasa yang kau jual, meski rasa keripik nya kadang kurasa seperti styrofoam, tapi mungkin emang itu yang paling bagus buat bayi yah, ga berasa apa2.

II. Hal kedua yang harus kita lakukan menuju tokyo selain mengisi tas dengan isian yang ga ada hubungannya sama ibunya dan bapaknya adalah menghibur doi di kereta! jadi anak gue itu lebih suka memperhatikan orang daripada memperhatikan pemandangan. Alhasil gue suka takut2 kalau ada orang jepang yang melototin balik anak gue, untungnya sih selama ini baik2 aja. Selanjutnya sis, berhubung doei lagi suka eksplorasi jadinya doei lebih nyaman jejek kaki nya di kereta sambil cari ruang dan kesempatan untuk jalan di kereta yang bergerak yang mana ga mungkin.

Beberapa hal yang sering kita lakukan adalah dengan mengajak dia selfie biar dia ketawa2. Kadang hasilnya sih lebih menakutkan yah daripada menggembirakan, contohnya ini nih:

 

PicsArt_03-31-03.37.28

III. Yang ketika adalah kita harus siap2 olahraga angkat beban berjam-jam. Karena meskipun kita bawa stroller, tiba2 doi bisa protes2 ga mau pake stroller seperti di bawah ini:

PicsArt_03-31-03.39.25

Pake stroller cuman bertahan 10 menit abis itu digendong:

PicsArt_04-03-04.52.47PicsArt_03-31-03.42.00

Berhubung gue ada suatu penyakit yang ga memungkinkan gue menggendong Kyoko lama2, akhirnya biasanya suami gue yang menggendong doi dengan baby carrier (Merk Aprica, gue udah bilang belom? bagus deh bisa dipake dari jaman baru lahir), gue biasanya yang ngedorong stroller nya. semua bawaan tas ditaroh di atas stroller hihi.

Nah karena kalau ke Tokyo kita udah kayak latihan maraton olimpiade (iyah gue sadar gue lebay), akhirnya kita selalu harus nyobain makanan halal yang di Tokyo cyin, mumpung bok lagi di Tokyo!

IV. Restoran halal yang selama sebulan kemaren kita cobain ada dua nih. duhh kenapa yah postingan ini ujung2nya selalu makanan, sori yah. Tapi gimana dong gue ama suami gue emang hobi makan, jadi terima aja yah plis.

Restoran pertama yang kami cobain adalahhh Ramen yang ada di roppongi, yang pernah dibahas disini nih: http://www.halalmedia.jp/archives/1839/chinese-restaurant-ka-ta-ta-ta-halal-menu-roppongi/

PicsArt_04-01-06.41.44PicsArt_04-01-06.50.30

Sori ada gambar brownies dari Liaison Halal Bakery nyasar disitu. ga apa, rasanya enak banget soalnya, kalau kesana mendingan selain beli curry pan nya jangan lupa beli brownies nya juga ya.

Oke, kembali ngebahas Boom! ka tatatata ka tatatata hey boom! (lah ini mah lagu 2NE1), menurut gue pelayanananya ga senyebelin restoran yyang itu tuh yang ada di Kinshic**, cenderung lebih ramah bahkan, tapi suasananya rada ga sesuai ama kepribadian gue (apalah deskripsi ini).

Makanannnya lumayan, mungkin emang bukan selera gue, jadi siapa tau di kalian bisa enak banget. Gyoza nya ga gitu nendang, karage nya juga biasa aja. Ramennya enak, cuman belum sesuai dengan ekspektasi gue karena ternyata rasanya kayak soto ayam dikasih mie. Yah mungkin emang ramen cina kayak gitu, gue nya aja yang katro.

Sebenernya dari beberapa resto sertifikasi halal belum ada yang bener2 wah buat gue dari segi pelayanan maupun rasa. ada sensasi “kejepangan” yang hilang dari beberapa restoran ini.

Tapi ternyata gue salah, ternyata ada satu restoran halal yang bener-bener menampilkan omotenashi nya Jepang. yang ga hanya menawarkan lo makanan halal, tapi juga menawarkan lo sebuah “pengalaman” memakan makanan jepang yang halal.

Keramahan dari mulai masuk sampai keluar restoran membuat lo merasa sangat dihargai sebagai konsumen. Kualitas makanannya juga wahid. Menurut gue, kalau lo ke Jepang, tepatnya ke Tokyo, sempatkan diri lo untuk pergi ke ramen Ouka yang ada di Shinjuku

Ini nih link review dari Halal Media Jepang: http://www.halalmedia.jp/archives/5529/new-halal-ramen-ouka-opens-in-shinjuku/

Eki terdekat adalah Shinjuku Gyoen Mae. Kemarin ini kita kena rejeki nomplok karena lagi hanami di Tokyo sehingga orang ramai banget padat di Kota. sampai-sampai kita mau makan ramen nunggu 1,5 jam siss!

Saking ga mau rugi akhirnya gue mesen mie ukuran XL (untuk yang spicy harganya 1500 untuk yang biasa aja mild harganya 1300). Mie nya enak banget, sup nya itu ada tomat nya, jadi ada sensasi asem seger gitu. Satu set itu artinya lo dapet mie, nasi dan ayam bakar plus telor. Ayam bakar nya enak banget, jadi inget ayam bakar mas mono deket kosan di bandung dulu.

Mie ukuran XL itu cocok banget untuk orang yang dari pagi ga makan bener kayak kita, cuman jangan diulang deh wwkkw. Abis makan, kalau beruntung kita bakal dikasih dessert ubi sakura, enak banget si Kyoko suka. dan sebelum pulang kita akan disuguhi teh khas mereka, rasanya kayak obat batuk tapi ga berasa. enak sih tapi lucu.

PicsArt_04-03-04.54.13

Yang gue suka dari si ramen Ouka ini selain karena pelayanan yang luar biasa ramah dan rasa yang enak banget, adalah dari barang barang seni tradisional yang ada di restoran itu. Di resto itu mereka menggunakan kain itajime sekka shibori, salah satunya, sebagai cover tempat tissue, cute sekali.

Dan cawan tempat makan ramen itu bukanlah cawan biasa tapi cawan khusus dari daerah Mino, namanya Mino-yaki, seneng, sambil makan sambil belajar. Apalagi mereka juga menjelaskan gimana cara menikmati makan ramen cara jepang. Lengkap deh pengalamannya!

Kalau ke Tokyo jangan lupa kesini ya!

Oke deh, segini dulu pos tentang “pergi ke tokyo”, insya Allah gue bakal lebih rajin nge-update berbagai kegiatan keluarga Pak Haris keluarga❤

Sampai ketemu kawan2 dan semangat selalu semoga Allah SWT memberkahi usaha kitaa❤

Snack Tengah Malam Tim DHK (Dita Kyoko Haris)

Assalamualaikum,

Memang kehidupan makan pasca nikah itu berat banget, maksudnya ngeberatin badan. Terkadang kita sebagai perempuan yang semasa single jago untuk menahan lapar tengah malam, bisa saja gampang tergoda untuk makan snack tengah malam setelah melihat suami yang anteng banget makan. Makan tapi badannya tetap kurus, beda sama gue. hiks.

Kebetulan setelah hari jumat pulang pengajian rutin di Tsukuba perut kita ternyata masih lapar, alhasil setelah rapat sebentar (sok asik), kami memutuskan untuk melipir ke 7/11 deket rumah. Niat awal cuman mau nyari cemilan dikit, namun apa daya ternyata kita ingat di 7/11 ada sandwich aman yang bisa dimakan hahahaha.

Tidak hanya berhenti di sadwich, gue pun menemukan onigiri 明太子(seasoned pollack roe) yang menarik banget buat di babat. Akhirnya dengan cepat kita membeli : 2 pak sandwich tuna-telor, 1 pak sandwich telor, dan 1辛子明太子Ongiri.

PicsArt_03-12-08.21.00

Review cepat tentang rasa:

  1. Onigiri Karashi Mentaiko: rasanya biasa, katanya ada pedes2nya tapi enggak. Gue akhir-akhir ini demen sih emang makan mentaiko, tapi yang ini kurang jos. mungkin karena sebenernya enakan Mentaiko Mayo yah. Kalau mau cobain onigiri mentaiko yang enak, beli aja di mini stop, insya Allah aman. Rasa: 2.5 dari 5
  2. Sandwich Telor alias Tamago Sandwich: Rasanya enak! hmm gue selalu suka nih tekstur telurnya lembut banget tapi ga eneg, rasanya kayak makan busa, jadi suka ga kerasa tiba2 abis hahaha. Rasa: 4 dari 5
  3. Sandwich Tuna: gue kurang bisa ngerasain karena pas makan ini lagi flu. jadi yang berasa ama gue cuman asinnya doang hahaha. hmm kira2 3 dari 5 lah. Karena pada dasarnya gue pun suka tuna.

 

Tunggu update-an tentang snack aman selanjutnya ya!

Roti asin yang manis

Selama suami gue mengikuti 学会alias conference di Italia, gue selalu minta suami gue mengupdate apapun yang dia lakukan terutama tentang makanan yang dia makan. Sebenernya alih alih perhatian, gue lebih ngiri sih sama doi yang bisa nyoba makanan baru T,T. Salah satu foto makanan yang dia kasih ke gue adalah sandwich yang sempet dia beli di Schipol saat transit di belanda sebentar sebelum balik ke Indonesia.

PicsArt_03-12-09.40.02 (1)

Suami gue bilang kalau rasanya enak, dan tipe2 yang gue suka lah. Kejunya seru. Ga seperti yang biasa kita makan di Jepang. Mendengar penjelasan suami gue, spontan gue bilang dengan ga tau diri ” Huaa mau”.

Alhamdulillah suami gue mengerti kalau istri nya itu tidak menuntut emansipasi kecuali emansipasi makan. bahwa perempuan berhak mencoba makanan yang sama dengan laki2 dengan porsi yang sama.

Akhirnya, meskipun cuman punya waktu transit bentar, suami gue bela2in nyari roti ini lagi dan menyimpannya di tas nya yang udah luar biasa penuh.

Begitu gue jemput di Narita, gue langsung menyambut suami gue dan roti ini dengan cerah. Tanpa ragu langsung gue santap roti ini di ruang tunggu penumpang. Malu maluin emang gue, tapi gimana lagi dong kan laper.

Terharu gue, ternyata beneran enak, dan lebih terharu lagi karena suami gue bela2in beli roti itu hiksu hiksu. Roti yang asin enak itu berasa manis banget deh di gue, aheyy, bahkan coklat royce hokkaido aja kalah❤

Kejunya asin cuman di awal, selanjutnya rasanya mild di lidah. Sayurannya memang ga lebih fresh dari yang di Jepang, rasanya lebih manis tapi. roti nya lebih kering, tapi berpadu asik sama keju dan sayurannya!

Terimakasih banyak Mas Haris! Sering2 bawain daku oleh2 ya!

 

Kompensasi Olahraga Angkat Beban

Processed with VSCO with e8 preset

Antenor Strawberry Shortcake 

 

Assalamualaikum rakyat wordpress semuanya,

Alhamdulillah akhirnya berhasil mengalahkan kemalasan untuk senam jemari hihi. Jadi ceritanya mau cerita nih tentang pengalaman di Bang Thoyib-in Ayahnya Kyoko selama 5 hari. 5 hari doang padahal tapi udah lebay, hiksu, makanya kagum banget lah untuk para pasukan yang terpaksa LDR karena karir bela negara dan abdi negara, dll.

Padahal dulu pas gue masih single, gue termasuk orang yang sangat menghargai waktu sendirian. Gue bukanlah tipe yang gusar atau malu untuk belanja sendiri, makan sendiri, dan 2-3 hari sendirian di rumah itu biasa dan justru menikmati kesendirian sunyi senyap. Gue dulu bisa ngabisin 1 seri drama seharian wakakka kalau seharian mengurung diri di kamar.

Namun, Maha Besar Allah SWT yang bisa membuat keadaan sebegitu berubah ketika gue udah menikah. Entah kenapa rasanya senyap banget kalau sendirian, sebenernya ga bener-bener sendirian sih, karena alhamdulillah ada bocah bayi yang menemani, namun ya rasanya memang beda kayak ada yang kurang (geli deh gue ngebayangin suami gue misalnya baca pos ini haghaghag).

Terutama kalau menjelang malem menn, gue pernah hampir nangis karena takut gitu sendirian di rumah, waktu itu ceritanya temen yang mau nemenin nginep di rumah gue dateng rada malem. Cemen? ya emang cemen sih, gue akuin ada sisi dalam diri gue yang menjadi lebih cemen setelah nikah, namun ada sisi lain diri gue yang jauh lebih dewasa dan berani ketika udah nikah dan terutama ketika menjadi ibu (yah tentu salah satunya berani ngeden melahirkan hihi)

Salah satu hal yang menjadi lebih cemen ketika sudah punya suami dan (kendaraan pribadi tapi bukan gue yang nyetir sih wwkw) adalah, gue jadi rada males keluar jalan kaki. Betul, betul banget hal ini tidak baik untuk kesehatan tubuh makanya gue berusaha melawan rasa malas gue untuk mengangkat badan dari rumah ke luar! (berat yah)

Akhirnya dalam 5 hari kemarin selama gue sendirian dari siang ke sore hari, ada 1 satu hari yang gue paksakan untuk keluar. Simpelnya, untuk memberikan “hukuman” bagi diri gue yang terlampau malas. Sebenernya memang yang membuat gue malas bukan perjalanan keluarnya itu lho, yang paling PR itu mempersiapkan segala keperluan bocah bayi sendirian yang membuat hayati lelah..Bayangin yah kalau gue bawa tas gemblok gede, isinya barang gue cuman 1/365 dari keseluruhan tas!

Tapi Alhamdulillah, kali ini gue berhasil lebih dewasa. Gw  semangat menyiapkan segala sesuatu nya sendiri (dibantu sama Dea deng) dan berhasil menerjang angin menuju tempat tunggu bis.

Gue pun alhamdulillah berhasil selamat sampai di AEON Tsukuba dan cukup lincah berbelanja sendiri bareng bayi. Malu sih sebenernya gue, malu sangat, karena di Jepang ibu, seperti di Indonesia gue percaya, ibu-ibu nya itu tangguh-tangguh. Mereka terbiasa tanpa asisten rumah tangga mempersiapkan segala sesuatunya sendiri, belanja repot sendirian.

Stroller mereka itu udah PRO banget. kayak udah jadi sahabat sejati dengan banyak kantong di sana sini untuk naro perlengkapan bayi , keliatan memang sering dipakai dengan efisien bukan semata dekorasi. Contohnya disini nih( diambil dr mamanoko.jp)

2013081900032_1

Gue sendiri masih belum terbiasa pake stroller dan si Kyoko pun demikian.Prestasi terbesar gue bawa stroller sendirian bareng Kyoko adalah perjalanan 10 menit dari rumah ke indomaretnya sini bernama MiniStop, itu aja gue udah keringat dingin soalnya si Kyoko teriak2 minta lepas.

Bawa anak sambil belanja ke mall itu emang olahraga banget, dan oleh karenanya sebelum balik ke rumah gue pun berfikir keras tentang “apa yang bisa gue beli sebagai kompensasi”. Gue emang tipe2 orang yang suka ngasih hadiah ke diri sendiri wkwk alias suka nyari alasan buat beli barang.

Salah satu tempat favorit gue di Tsukuba Senta adalah Basement nya Seibu yang banyak ditempatin ibu bapak penjual penganan. Hmm, kalau lo bandingin ama デパ地下nya Stasiun besar di Tokyo, jelas basement Seibu ini kayak remah2 rempeyek, cuman lumayan banget.

Berhubung saat itu gue lagi pengen makan yang manis2, langsung tanpa ragu gue menuju tempat jual kue yang namanya Antenor (yang katanya basisnya di Kobe yang katanya kota yang terkenal akan penganan manis dan roti nya). Spontan gue bertanya “Mbak2 yang ga pake gelatin dan alkohol ada ga ya?”.

Dibalas dengan kernyitan si dua pramuniaga, orang Jepang itu walaupun mengernyit tetapi mereka tetap berusaha untuk memberikan jawaban untuk calon konsumennya. setelah berkali2 bolak-balik liat daftar ingredients, akhirnya dia nunjuk ke strawberry shortcake.

Dodolnya, gue ga ngecek dulu harga kuenya sebelum nanya2 ke si pramuniaga.Dan seperti yang gue sudah duga menn harganya mahal 450 yen. Ah tapi ya sudahlah, kapan lagi bisa makan strawberry shortcake sendirian (kalau ada suami gue pasti minta dibagi WKWK).

Akhirnya tanpa basa basi setelah pulang gue langsung buka itu boks kue. tanpa mikirin angle bagus buat difoto masukin instagram, langsung aja gue taro itu kue di lantai kamar dan jepret dikit (ga ada nilai estetika sama sekali kwkw) langsung gue makann. (lihat, gue menulis 3 kata langsung dalam kalimat ini, terlihat jelas gue udah lama ga nulis blog jadi diksi nya berkurang hahaha).

Rasanya?

Emang harga ga bisa boong sis. Enak banget! Pembandingnya adalah rasanya lebih enak sedikit dari strawberry shortcake dari pattiserrie komon di deket Doho Kouen (insya Allah aman dimakan). Lembut krimnya, asem strawberry nya lebih kerasa. Aww kayaknya setiap ke senta dan lagi ada uang gue akan beli ini❤

Antenor Strawberry Shortcake, Insya Allah aman dimakan

Rasa: 4.2 dari 5

 

Tentang Migrasi: Bye Bye Facebook!

Assalamualaikum rakyat wordpress sekalian,

Postingan-postingan setelah ini adalah hasil copy paste dari notes saya di Facebook. Jadi tolong pahami keadaan ini ya (tiba2 suasana jadi menyedihkan).

Okeh, untuk postingan pembuka mari saya copas-kan notes terakhir saya di FB.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Facebook, bagaikan blog, dia adalah saksi pendewasaan diri saya. Dari yang mulai menulis dengan (iya,,,,) hingga berubah tajam dengan (iya! Wkwkkw).

Dari Facebook, saya bisa berkenalan dengan banyak orang baru, dengan latar belakang yang luar biasa berbeda dengan saya. Dari mereka saya belajar banyak hal. Terimakasih banyak sudah berteman dengan saya di Facebook.

Dari Facebook, saya paham bahwa hobi makan roti dan kue saya bisa bermanfaat buat orang lain. Terimakasih banyak sudah mau membaca review saya J

Dari Facebook, saya akhirnya belajar bahwa saya bisa menulis panjang. Dan ternyata tulisan saya dibaca. Percayalah, komen-komen yang masuk dalam notes itu menjadi pembelajaran tersendiri buat saya.

Saya harus berterimakasih luar biasa sama Om Juken (Mbak Mut, saya pinjam istilahnya) karena dengan media inilah saya bisa “kepo” tentang suami saya selama proses taaruf. Darimana lagi saya bisa melihat keseharian suami saya selain dari Researchgate atau googlescholar?

Dari Facebook pun saya belajar bahwa mereka yang punya “power” dan kuasa bisa melakukan hal yang apa saja yang ingin mereka lakukan. Jari saya bisa saja masih lentik (boong deng ga lentik) menulis di media ini dan membaca Newsfeed sambil tersenyum, namun tidak bisa dibohongi bahwa di saat yang sama hati saya gusar dan marah atas apa yang belakangan ini marak dibahas di Facebook. Apalagi kalau bukan tentang Lumpia Gehu Bala-bala Tempe ini.

Keadaan ini membawa saya berdiskusi dengan suami saya, dan hasilnya mengerucut kepada dua hal:

Kami sayangkan dari Facebook bukan HANYA karena mendukung gerakan LGBT. Namun, standar ganda yang mereka terapkan. Oleh karena itu, kami melihat hanya ada dua opsi yang bisa kami lakukan:

  1. Aktif mengkampanyekan anti gerakan penyebaran LGBT secara terstruktur di FB (hingga akhir ya di blok oleh FB)
  2. Mengundurkan diri dari FB, karena menganggap FB bukan lagi teman yang asik.

Saya tidak ingin merasa “kehilangan power atas diri saya”. Mengundurkan diri dari FB per besok malam adalah bentuk perjuangan terkecil dari seorang Annisa Anindita dan Muhammad Haris.(plis kalau ada yang nanya, Muhammad Haris nama suami guheh)

Btw, menutup akun FB itu bukan akhir dunia ya keleus.

Saya masih sehat insya Allah berada di Kasuga Tsukuba.Pun, saya masih akan terus makan roti dan kue, hanya saja mungkin tidak banyak orang yang tau😛

Pun, saya masih akan menuliskan gagasan curhatan saya di blog ini, tumblr, dan twitter.

Saya pun masih berbagi foto yang ga bagus secar angle tapi mungkin buat saya sarat makna lewat instagram @aninditazein

Pun, saya masih bisa dikontak dan membalas message via WA +818088125550 dan LINE: aninditazein

Untuk email serius dan pertanyaan tentang Jepang, curhat, atau hal pendidikan, email saya dong di: anindita.zein@gmail.com

Untuk promosi produk silakan email ke: anaknya.pakzein@gmail.com

Untuk hal-hal yang sarat akademis, email dong ke : annisa.anindita@sbm-itb.ac.id

Sayonara!

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Hari ini mungkin sudah 4 hari (kali ya) tanpa Facebook. Gue masih suka canggung mengetik otomatis kata f di kolom “new tab” dan lebih canggung lagi untuk membuka portal berita.

Duh malu, ketauan deh gue baca berita cuman dari FB wkwkkwkw. Hal lain yang gue amati adalah kayaknya gue lebih fokus untuk ngejaga anak gue main! karena tanpa sadar gue masih suka nge-update FB 3 jam sekali.

Mungkin dalam minggu-minggu ke depan, gue akan update tentang gimana kehidupan tanpa FB😉

 

Salam,

Annisa Anindita

11855614_10207451635914312_7438853369394099629_n

フォロー

新しい投稿をメールで受信しましょう。

現在58人フォロワーがいます。