秋の家族旅行

Assalamualaikum wr wb.

Tenang saudara sebangsa dan setanah air beta, judul boleh pake Bahasa Jepang tapi inti tulisan tetap bahasa kalbu persatuan (bentar-bentar, diksi gue makin ngaco nih).Jadi adalah hal yang bijaksana jika ente-ente tetap menyimak tulisan di bawah ini.

Tulisan kali ini, seperti judulnya, akan menceritakan bagaimana Keluarga Kecil Pak Haris memanfaatkan liburan musim gugur. Sebenernya kita ga bener2 pergi di hari libur sih wkkw, tapi berhubung ga sengaja harus ke daerah Tokyo akhirnya dibuat saja lah “liburan dadakan musim gugur” ke Tokyo.

Berhubung kita pertama kali harus bawa bocah bayi yang hobi bergerak lucu di musim dingin, jelas saja kita sebagai orang tua baru nan lugu cukup khawatir terhadap kelengkapan bayi kita. Apalagi, kita akan pergi ke Tokyo pertama kalinya menggunakan kereta sambil membopong stroller bayi. bukan memakai mobil. Gaya euy..

Eits coy bentar. Bukan mau gaya sebenernya. Di Jepang itu berlaku kebalikan dari di Indonesia. Di Kota besar akan lebih leluasa jika naik kereta dan ribet kalau bawa mobil. Sebaliknya di kota kecil alias kayak tsukuba ini, akan jauh lebih baik punya mobil karena transportasi kereta nya belum mencakup banyak area di kota tersebut.

Alhamdulillah kami sempat menabung untuk membeli Mobil yang bentuknya kotak hitam kayak transformer, sahabat kami selama di Jepang ini hehe. Tapi setelah kami pikir-pikir, kalau ke Tokyo dari Tsukuba menggunakan kereta itu walaupun agak sedikit lebih mahal, tetapi dari kualitas perjalanan kayaknya lebih baik daripada menggunakan mobil.

Mengapa? Karena dengan naik kereta kami bisa fokus mengobrol dan mengajak bermain anak. Anak kami akan bisa melihat orang di sekeliling dan bisa merasakan riuh rendah Tokyo.

Setelah bersiap-siap cukup lama, akhirnya selasa pagi pukul 7.30 JST kami lepas kaki dari rumah menuju Tsukuba Senta. Kami membawa stroller bayi dan Babywrap untuk jaga-jaga jika stasiun di Daerah Tokyo yang kami lewati nanti tidak menyediakan elevator (oyeah kota besar).

7.30 JST itu kami akui bukan waktu yang tepat untuk pergi ke Tokyo untuk liburan. Karena di hari biasa, pada jam segitu adalah jam dimana para pencari nafkah berkumpul padat di stasiun. Tapi tidak apa, sekalian Kyoko, anak kami belajar melihat realita hidup sejak kecil.

Tujuan pertama kami adalah Akabanebashi Station. Dari Akabanebashi Station kami menuju Kedutaan Italia di Tokyo. Ngapain ke kedutaan Italia? Jualan Pizza? Tentu tidak, kan sudah minum combantrin.

krik krik.

Rencananya Ayah Kyoko akan lepas landas ke Italia, Februari depan untuk melakukan presentasi di Konferensi Internasional tentang komputer xxx xxx (panjang banget dan ribet jadi abaikan saja judul konferensi nya). Sehingga kita menemani Ayah Kyoko untuk Apply Visa deh hihi.Betewei, menurut gue suasana kedutaan itu mencerminkan suasana negara yang ingin kita tuju.

Dulu pas gue ke kedutaan Jepang di Jakarta, kerasa banget tuh suasana Jepang yang ga serba ribet dan jelas dan ramah. Sedangkan menurut gue di kedutaan Italia ini, suasananya agak lebih santai. Petugas orang Italia yang gue liat di loket ramah banget dan ga ragu ngobrol ama applicant visa. Tapi sayangnya walaupun Santai tapi peraturannya agak ga jelas.

Ga jelas karena suami gue diminta untuk menambahkan data uang di rekeningnya karena dianggap tidak cukup sebagai bekal hidup di Itali. Betewei, suami gue cuman pengen tinggal 4 hari disana bukan 1 abad. Tetapi ternyata, 150ribu yen rekening plus LoG Beasiswa plus bukti tiket pesawat dan hotel belum bisa meng-goal-kan suami gue.

Si petugasnya sendiri juga ga ada patokan yang jelas berapa tabungan yang dianggap “aman” untuk pergi ke Italia. Akhirnya suami gue pun mengisi 2 kali lipat duit beasiswa bulanan dan alhamdulillah lolos. Dan biaya visa nya itu 8,200 yen lho bukan 3000 kayak bikin visa Jepang.

Urusan visa selesai kira-kira jam setengah 11 (Btw Kantor Visa nya tutup jam 11.30), kami udah lapar tak terkira, sehingga kami pergi melipir ke Toko Roti Halal Liaison yang lokasinya ga jauh dari Kedutaan Italia. Toko Roti Halal itu lokasinya deket juga dengan Keio Univ Mita Campus. (tentang toko roti: http://www.halalmedia.jp/ja/archives/1765/im-really-grateful-halal-bakeryhalal-bakery-cafe-liaison-opened-japan/)

Toko roti ini terkenal karena Karepan nya. jelas, karena dimana lagi muslim bisa makan roti kare berdaging kalau tidak disini hihi. Karena kami lapar, masing-masing kami makan 2 roti.

Buat Gw pribadi, gue lebih suka roti kare dari Hanamaza Pan. Hanamaza Pan adalah toko roti milik seorang Ibu Indonesia yang berbasis di Provinsi Gifu. Roti kare dari Liaison ini garing di luar dan lapisan roti nya cukup tipis dan kare nya たっぷり.kebetulan gw lebih suka roti kare yang lapisan roti nya cukup tebal dibanding si isi kare nya hehe.

Yang gue suka dari kunjungan ke Toko Roti Liaison ini adalah karena pengunjung lokal alias orang Jepang nya juga banyak, jadi bisnis makanan halal itu ga tertutup hanya untuk konsumen muslim.Bahagia aja sih ngeliat kondisi lapangan seperti itu.

Berikut ini adalah foto-foto di Toko Roti Liaison:

 

Kalau dipikir-pikir makan kami banyak juga ya hahaha :”). Makanya ga usah dipikirin, disyukurin aja, alhamdulillah bisa makan roti yang bersertifikat halal di Jepang :”).

Setelah perut hangat dan kenyang, akhirnya kami memutuskan untuk memburu ikonnya Tokyo yang letaknya ga jauh dari Akabanebashi Station. Apalagi kalau bukan, Tokyo Tower.

Betewei, gue termasuk orang yang bersikeras kalau Tokyo Tower itu lebih cocok jadi ikon Tokyo dibanding Tokyo SkyTree. Menurut gue Tokyo Skytree itu menang di fasilitas pendukung kayak Mall dan Aquarium aja. Kalau masalah bentuk masih bagusan dan lebih romantis-an Tokyo Tower. Tapi memang karena sekeliling Tokyo Tower ini banyak gedung tinggi, jadi mungkin udah ga sedep kalau observasi keindahan Tokyo dari Tokyo Tower ini.

Senengnya kita, karena masih lumayan banyak turis yang datang ingin mengunjungi Tokyo Tower. Termasuk keluarga kecil kita. Tapi berhubung kita agak malesh buat nanjak ke deket Tower nya, akhirnya kita foto aja dari kejauhan.

Sebenernya kita ga segitu tertariknya foto2 di landmark Tokyo, kalau bukan karena punya anak. karena kita ingin anak kita ini punya memori banyak tentang “hidup di Tokyo”, akhirnya kita bela-belain deh muterin Tokyo ini.

ketika males nanjak bercampur dengan ambisi “anak kita harus tau tokyo itu gimana” jadilah foto ini >>>

Processed with VSCO with e1 preset

Kyoko dan Tokyo Tower

 

Dan ini adalah foto-foto Tokyo Tower yang bisa dijepret dr penjuru akabanebashi dan Mita:

 

Okay, sudah puas kita berfoto-foto dengan Tokyo Tower yang cantik yang sinar emas nya syahdu dilihat di malam hari, kita memutuskan untuk memburu foto bersama daun kuning atau daun yang ga hijau yang ada di musim gugur (sungguh tata bahasa yang kurang baik, tidak untuk ditiru).

Spot oke untuk foto musim gugur itu salah satunya adalah Todai (Tokyo Univ). Tapi berhubung kita mau beda dikit (alias males lagi jalan ke Todai kwkw), akhirnya kita memutuskan (alias gue agak memaksa suami gue) untuk foto-foto deket Keio University.

Keio Univ itu kalau di Indonesia mungkin kayak Pelita Harapan kali ya. Univ Top Swasta yang isinya anak pintar nan kaya. Gaya fashion anak-anaknya dah keliatan beda banget dibandingkan anak Tokodai (kampus S2 gue yang kayak kampus teknik). Asli, bahkan pas masuk gerbang pun suasananya udah beda banget. Cewek2nya dandan coy.

Kampusnya agak kecil, dan ada beberapa bangunan yang suasananya ke-eropa-an. Jadi ada efek gimanaaaaa gitu.dor. Hasil jepretan kita selama di Keio ada di bawah ini. (btewe, bener deh punya anak itu membuat Ibu dan Bapak jadi tahan difoto. demi memori bareng anak bokk >>bilang aja menikmati difoto :))) )

 

 

Gue pribadi mengagumi Keio dan Waseda, entah kenapa menurut gue dua kampus ini punya atmosfer yang OK dan 上品 pisan. Mungkin karena kampus swasta top dan anak-anaknya gaul kali ya, kampusnya jadi keliatan “berkelas” juga suasananya. Ya kali kali Kyoko-chan emang jodohnya kuliah di sini..Maksudnya anak gue nya ya, bukan jodoh nya si kyoko-chan nya. (yaelah ngapain lo perjelas si dit wkkw).

Setelah foto-foto ampe gigi kering dan Kyoko-chan sudah makan siang di taman deket kampus dan Ayah Kyoko pun sudah sholat, akhirnya kami melanjutkan wisata keliling Tokyo kami ke Shinjuku Gyoen. 新宿御苑.

Shinjuku Gyoen National Park adalah salah satu taman yang paling indah di Tokyo. Tidak masuk dengan gratis, dewasa bayar 200 yen dan bocah SD ke atas bayar 100 yen. Letaknya ada di dekat Stasiun Shinjuku San-chome atau deket Shinjuku Gyoen-Mae. TIDAK dekat dari Stasiun Shinjuku (jangan kebalik ya).

Ya meskipun kita ga nyalahin juga sih kalau mau jalan kaki dari Stasiun Shinjuku, lumayan olahraga bok.

Shinjuku Gyoen itu menurut kami adalah tempat yang oke sekali untuk foto-foto momiji. Karena memang indah sekali pemandangannya. Tapi sebenernya yang indah itu bagian paling depannya aja sih, jadi kalau mau hemat palingan foto di daerah sebelum masuk loket masuk aja hahaha.

Pemandangannya cantik, daun warna hijau, kuning merah itu bercampur harmonis. “Mirip lampu lalu lintas ya”, kata orang Jepang yang saya dengar. Ya, orang jepang emang bisa aja komennya. memasuki pelataran bunga, kami mencium bau pupuk hewan yang menyengat.

“Ih bau nih!” kata kami (dalam Bahasa Indonesia).Tak lama dari kami berkata seperti itu, kami dengar salah satu orang dari sekelompok wanita paruh baya orang jepang berkata dengan syahdu

“Wah, ini bau alam ya…”.

Masya Allah. Kami akui deh orang Jepang itu emang juara kalau buat komen.

Sebenernya hal yang bikin kami ga gitu semangat jalan-jalan memutari si Shinjuku Gyoen dengan sempurna adalah karena Kyoko-chan ini ketiduran di Stroller kwkw. Ya, buat kami, tujuan utama datang ke Kouen (taman) adalah supaya Kyoko bisa menikmati suasana taman. Tapi kalau bocahnya aja tidur, kami ngapain dong? wkwk

Tapi alhamdulillah, di Shinjuku Gyoen kami bisa menikmati banyak lukisan alam Allah SWT yang cantik sekali. Sesuatu yang akan kami ulang lagi memori nya begitu sudah tidak berada lagi di Jepang ;)

Processed with VSCO with m5 preset

Mau foto2 sama 紅葉(こうよう) tapi Kyoko-channya tidur haha

Akhirnya di detik-detik menuju pulang, Kyoko-chan agak melek dikit terus tidur lagi hahha.

Yoshh. Akhirnya selesai juga perjalanan ke Shinjuku Gyoen!.Sebenernya kalau boleh jujur, gue bukanlah tipe penikmat taman. Tapi gue akuin bahwa Shinjuku Gyoen memang pantas untuk dikunjungi seumur hidup sekali kalau lo ke Tokyo.

Apa ada yang lebih bagus dari Shinjuku Gyoen? Ada. Namanya Kenrokuen, satu dari 3 taman tercantik di Jepang. lokasinya di Kanazawa. Gw baru menyadari cantiknya Kenrokuen ketika pergi ke beberapa taman yang ada di provinsi lain. Ada keanggunan tersendiri yang dipancarkan oleh Kenrokuen memang ;)

Setelah dari Shinjuku Gyoen, karena kami sudah terlalu lapar, kami memutuskan untuk pergi ke Manhattan Fish Market Jepang yang bersetifikasi halal. http://www.manhattanfishmarket.com/japan/japan.html

Kebetulan karena kami super lapar, cuman ini yang sempat kami foto:

Processed with VSCO with e4 preset

Ikan Dory nya enak banget dan PEDAS!

Kami rekomendasikan banget deh untuk makan si Ikan Dori pedas ini. Harganya memang agak mahal, porsi di atas itu sekitar 3.200 yen tapi puas insya Allah :). Oh iya, lokasi MFM Japan itu di dekat Ikebukuro Station. cuman 5 menit dari EAST EXIT 東口.

Kalau dihitung hitung hari itu kami sudah 12 jam keluar dari tsukuba. 7.30 pagi keluar dari Tsukuba dan kembali ke Tsukuba jam 7.30 malam. Hari itu kami lelah luar biasa tapi bahagia luar biasa. Walau dingin hampir menusuk, tapi kehangatan yang hadir serta yang ditimbulkan dari senda gurau obrolan sepanjang perjalanan alhamdulillah bisa meniadakan dingin tersebut.

Semoga Allah SWT memberikan kami kesehatan dan rezeki untuk bisa keliling Tokyo lagi dan bisa menyajikan reportase tentang keliling Tokyo bersama bayi ;)

 

Salam hangat heater 23 derajat, Kasuga,Tsukuba

DHK

Kenapa Shofiyyah Kyoko

Assalamualaikum,

Kalau diliat dari pos terakhir di bawah ini, keknya udah lebih dari setahun gue ga membuka lembaran debu wordpress gue ini. Asli, bukannya gue ga ada waktu nulis, hanya saja entah kenapa ada aja hal lain yang ngebuat gue lupa bahwa tujuan gue depan laptop adalah ngebuka wordpress! (salahkan netizenbuzz,cookpad, facebook dan handai taulannya).

Untuk mereka yang rindu ama gue (iyah, gue tau ga ada). Gue pengen ngasih pengumuman (yang menurut gue penting, mungkin menurut lo enggak wkw) kalau gue udah melahirkan. Iyah, gue bisa melahirkan ternyata alhamdulillah, Allah SWT Maha Baik, Maha Penyayang.

Anak yang gue lahirkan gw dan suami gw namakan Shofiyyah Kyoko Putri Haris. Atau lebih tepatnya kalau lo liat di sertifikat lahir dari rumah sakit: ショフィッヤキョウコプテリはリス(恭子). Mungkin lo bertanya-tanya kenapa namanya panjang banget, ya ga usah lo men, gue juga bingung kenapa nama anak gue panjang.

Sebelumnya, gue mau minta maaf sama Dinas Pencatatan Sipil yang kesel pas ngetik nama anak gue nanti kalau anak gue mau buat akte di Indonesia. Gue denger kalau petugas pencatatan sipil agak bete dengan nama anak Indonesia yang akhir-akhir ini makin susah dilafalkan dan diketik. Mungkin kayak: Althair, Daniesh,Ejkdn, Dehdjaw (asal). Qolqolah nya terlalu banyak.

Tapi gimana dong, gue merasa harus mengakomodir berbagai macam keinginan dan kepentingan semua pihak! (Enggak juga sih). Oke, di pos pembuka sejak gue berubah status dari mahasiswa S2 ke Ibu-ibu mantan S2, gue akan menjelaskan arti nama anak gue secara singkat.

Kenapa singkat? karena gue ngantuk bok udah jam 12, sori abis ye.

Shofiyyah: Diambil dari bahasa arab, artinya sejuk, murni. Salah satu Istri nabi pun ada yang bernama Shofiyyah, tepatnya: Shofiyyah Binti Huyay. Dari banyak referensi disebutkan bahwa Shofiyyah ini adalah Istri Nabi dari kalangan yahudi. Sehingga banyak yang mencibir begron beliau. Namun beliau tidak menyerah dan ketika berislam, beliau berusaha keras untuk mengejar ketertinggalannya dalam beragama. Semoga putri gue pun menjadi orang yang pantang menyerah.

Selain itu, gue punya temen saat SMP dulu, namanya Shofiyyah Muslih Abdul Karim. Mungkin dia adalah salah satu anak tercantik yang pernah gue liat di planet bulat biru hijau bumi ini. Matanya teduh, bacaan qurannya bagus, hapalan quran-nya banyak. kalau ngeliat mata dia, kayak ada air mancur mengalir dari mata nya. adem. (Enggak, dia ga bisnis aqua, krik krik). Ingatan gue akan Shofiyyah ini begitu kuat, entah kenapa. Begitu kuatnya sampai ada urgensi buat gue untuk ngasih nama yang sama untuk anak gue.

Kyoko: Ini adalah bagian yang paling “licin”. maksudnya, terkadang orang memakai nama asing tanpa tahu apa arti dibalik nama tersebut. Misal ngasih nama John, Michael, Keanu, Reeves, Tom, Cruise. Tanpa tahu sebenernya apa makna asli nama tersebut. Ya terserah juga sih.

kebetulan gue pengen kasih unsur “Jepang” biar anak gue tetap ingat dimana dia dilahirkan, dimana dia menghabiskan masa-masa di kandungan, dan mungkin dimana dia akan menghabiskan masa emas pertumbuhannya.Selain itu, sebagai rasa terimakasih kepada Pemerintah jepang yang sudah hampir menggratiskan semua biaya pemeriksaan ke dokter dan membantu banyak biaya persalinan gue.

Dan terimakasih karena telah dengan konsisten nya menjual sayuran terbaik dari berbagai prefektur disini. saya bahagia dengan konsumi sayur dan buah saya selama hamil, taihen osewani natte orimasu.

“Kyoko” dengan kanji 恭子sendiri, artinya adalah anak yang bisa menghormati orang lain dan anak yang santun. 

Putri Haris: Prinsip gue dan suami gue adalah nama anak harus ada identitas bangsanya. Menurut gue ini penting kalau lagi kenalan di forum internasional, nama anak gue keliatan aneh sendiri karena udah ada arab, jepang, ada indonesia nya juga.Kalau aneh biasanya dipanggil moderator atau dijadiin contoh, bukan? wkkw. Terus kenapa nama Indonesia nya harus Putri Haris? ya karena emang putri pak Haris bukan Pak Parjo.

Si Shofiyyah Kyoko yang orang -orang suka dengan bebasnya mengambil Shofi, Shofiye, Chopiyah, Chopi (ini sih gue), dan Kyoko, alhamdulillah sudah memasuki masa-masa 7.5 bulan.

Masya Allah, bisa berkaca-kaca kayaknya kalau gue mengingat betapa atas izin Allah SWT, bayi mungil itu bisa tumbuh pesatnya dalam tahun pertama sejak dilahirkan. Dari ringkih dan ga bisa tegak, sampai bisa goyang goyang pantat mau berdiri :”)

Kalau yang belum pernah liat foto Shofiyyah Kyoko, ini gue update yak;

DSC01739

 

Gimana, cakepnya ga mirip gue kan?

 

いろいろ

Ah entahlah apa mungkin karena lagi sedang ada adek 赤ちゃん di perut gw jadi makin sensitif lagi dan lagi.

Setelah menikah, gw merasa lebih sensitif (baca: super berkaca2), kalau ibu gw nge LINE: “lg ngapain dit”, padahal mah kayaknya biasa aja sih, tapi gw jadi merasa kalau jarak fisik antara gw dan ibu gw semakin nyata. Sekalipun memang sebagai seorang perempuan, setelah menikah tepatnya, kita punya jalan pengabdian lain, tetapi tetap saja rasa sedih bahwa kita sudah `tidak milik orang tua lagi`  itu entah kenapa akhir-akhir ini sering menyeruak dalam diri gw. Sebenernya jangan diambil ribet, karena memang Itulah perjuangan anak perempuan.

Pelan-pelan Ayah dan Ibu kita yang sangat kita sayangi (yang kalau misalnya mereka minta kita beli monas, kita nabung deh buat beli tuh monas) tetap pelan-pelan akan ditinggal anak-anaknya setelah menikah. Fase bulan madu berdua akan kembali lagi, dari masa setelah menikah ( Bulan Madu I) berlanjut ke masa punya anak, lalu di akhiri masa ditinggal anak dan akhirnya kembali berdua lagi di rumah (Bulan Madu II) :)

Lalu gw berfikir, bahwa 赤ちゃん bayi dalam perut gw ini, ketika dia dewasa, akan juga meninggalkan gue dan suami gue, membangun rumah lift nya sendiri (karena rumah tangga sudah terlalu mainstream). Masa-masa itu keliatan masih jauh banget, tapi bisa juga sangat cepat, buktinya kita ga nyangka PHP Rangga ke CInta udah 12 tahun aja, padahal rasanya baru kemaren kan nonton bajakannya AADC..

Sungguh gw ga kebayang gimana bisa ikhlas nya Ayah dan Ibu itu ngelepas anaknya untuk nikah, gimana mereka bisa ikhlas ngelepas anak nya yang sudah dididik berpuluh2 tahun kepada orang lain. Sehingga gw kebayang sih kalau Orang tua terkadang selektif banget masalah jodoh anak (lah tiba2 ngomongin jodoh)

Bayangkan saja, bahkan gw sama suami gue yang belum ngeliat bentuk 3D anak gw di perut aja,sudah begitu sayang nya sama 赤ちゃんdi dalam perut. Menyadari bahwa dia gerak aja, rasa senang dan sayangnya bukan main.

hah…..

jadi tiba-tiba inget kata2 Ibu gue acap kali gue rada bandel, `Kamu nanti kalau jadi Ibu baru deh ngerti kenapa mama tuh gini-gini-gini”, Rasanya kalau lagi rindu dan melankolis gini pun, bahkan omelan ibu gue pengen banget gw rekam biar gw dengerin dah tiap hari biar ga kangen :(((

Tontonan saat liburan musim panas: 全国高等学校野球選手権大会 Kompetisi Baseball Bocah SMA Se-Jepang

Karena TV yang kita punya itu harus di utilisasi sempurna, dipenuhi hak nya sebagai TV yaitu untuk di tonton, maka jadilah selama musim panas ini (ga selama musim panas juga sih, cuman dimulai dr beberapa minggu akhir Agustus) gw habiskan dengan di depan TV sambil baca paper sambil menonton kompetisi baseball se Jepang. 

Emang pada dasarnya orang Jepang itu sporty kali ya jadi acara musim panas yang nge hits yang sampai di siarin khusus di NHK itu bukannya acara jalan-jalan atau acara potong semangka, tapi justru kompetisi baseball yang nge edukasi kita bahwa Anak SMA ganteng putih tinggi itu didominasi oleh daerah Hokkaido dan anak SMA coklat cakep itu didominasi Okinawa, dan yang aura dingin nya nancep itu tetep dipunyai anak SMA Tokyo (cukup! cukup jangan terus mendiskreditkan anak2 Tokyo) hahhaha.

Gw banyak belajar sih dari kompetisi ini, salah banyaknya adalah:

1. Acara ini menurut gw bisa ngebangkitin semangat kedaerahan sih, karena si bocah2 SMA ini kan mewakili daerahnya,jadi penonton pun merasa punya kepentingan membela tim. Gue? nah, kebetulan gw sekarang tinggal di daerah Ibaraki dan mantan orang yang tinggal di Kanazawa (Ishikawa-ken), gw jadi punya kepentingan untuk membela tim-tim yang berasal dari daerah tersebut. Ya biar seru aja. Walaupun mungkin si pemain2 itu ga tau kalau selama ini gw bela. hiks.

Nah, di acara lomba itu, dibacain juga tuh pesan-pesan dari orang-orang yang nonton. Waktu itu pernah dibacain pesan dari Mbak-mbak yang udah lama ga pulang, trus dia bilang dengan menonton acara baseball SMA ini, dia senang banget karena bisa melihat tim SMA dari daerahnya, jadi bisa mengobati kangen sama daerah nya. 

Gw mikir yah, kalau misalnya di Indonesia ada kompetisi kasti atau petak umpet, apapun yang dibuat nasional, dan disiarin semua TV mungkin akan seru kali yah, ngeliat talenta kelas A yang bertebaran dari ujung ke ujung kan lumayan buat pemetaan ASEAN Games.

2. Tertib penontonnya

Ini gw aja yang norak baru tau, tapi yang jelas gw seneng ngedengerin si penontonnya yang rapih dan aman dan terkendali dan malu malu kalau kesorot TV. Kita ga akan pusing tuh dengerin suara-suara berisik dari semua penjuru, siapa teriak ke siapa, karena setiap penontonya punya waktu tersendiri buat teriak. Yang boleh teriak ngasih dukungan hanya bagian supporter tim yang saat itu main. Maksudnya yang saat itu tim nya megang kendali pukul. (duh, bahasa gw ga sporty banget)

Bahkan ibu-ibu dan bapak-bapak yang ngedukung anaknya pun tertib, ga heboh2. Jadi kita seneng tuh ngedengerin pendukungnya tertib banget ngedukung tim nya, meskipun tim nya udah mau kalah, mereka tetap nyemangatin, meskipun semua muka mereka nahan nangis. Beneran, ada yang nyemangatin sambil nangis..

Ah masa SMA…

(apa sih)

Penonton Rapih (diambil dari web komabagakuen)

3. Semangat bertanding

Pitcher Semangat (Diambil dari fotomoment.exblog.jp)

Hari ini contohnya, udah game ke 9 (sesi game terakhir), Tim SMA Aomori ketinggalan 2:7 dari Tim Fukui. Nah, padahal yah untuk ngejar skor 5 di game terakhir itu kan rada-rada punuk merindukan bulan, tapi Tim Aomori bener-bener main seolah-olah `ini game terakhir kita`. Semangatnya ga putus men! si bapak pelatihnya dan temen-temen yang duduk di bangku pemain pun tetap nyemangatin, ga keliatan nyerah bilang `Sob, pulang kampung aja yuk`. 

Walaupun mereka terakhirnya kalah, yang jelas lo tetep ngeliat mental pemenang di mereka. 

 

4. Nangis, berlebihan, tapi ga anarkis

Nangis. mewek. semua tim yang belum menang ekspresi muka nya sama. Dan gw ga menyalahkan mereka. Nangis sebentar (sebentar loh ya) itu memang melegakan kok, dan muka merah mata berair rata diperlihatkan mulai dari pemain, pelatih sampai penonton.

Mereka yang kalah pun juga punya ritual, kayak semacam naro tanah lapangan baseball di dalam kantong kain gitu, entah dipakai sebagai jimat atau penyemangat. Nah nanti adegan si tim kalah ngambil tanah sambil nangis-nangis itu bakal di potret heboh sama si wartawan, si wartawan ampe ikut nunduk-nunduk sampe sejajar tanah untuk motret ekspresi sedih si anak-anak.

Berlebihan deh (si wartawan sih yang berlebihan banget sebenernya). 

Untuk poin ini, gw lebih seneng `tawakkal` nya orang Indonesia. `Ya udahlah, udah bisa ke sini aja udah Alhamdulillah`, `Udah lah, masih untung bisa main kesorot TV, ya kan?`, emang kadang-kadang mental semacam gini tuh perlu daripada sedih berlebihan. 

Di ambil dari Asahi.com

acara olahraga semacam gini emang ga akan pernah gw ketahuin deh kayaknya kalau ga punya TV, walaupun emang rada2 ngeluarin duit, tapi bener deh punya TV di Jepang ini membantu banget untuk belajar tentang jepang secara keseluruhan, mulai dari mengerti apa yang lagi nge trend sampai belajar baca kanji. 

Pertandingan baseball ini kayaknya ga cuman satu-satunya acara olahraga yang ditanyain di TV besar, kalau ga salah lomba renang juga, tapi karena kebetulan renang itu kan pakaiannya terbuka, dan suami gw risih banget, jadilah mari kita menonton baseball bersama.

Masih nonton bapak perempat finalnya nih, kalau udah ada pemenangnya, nanti gw update deh <3 hihi

Selamat Natsu Yasumi, beli TV gih!

 

Bantuan terkecil

image

Mungkin saya dan kamu suka kesal melihat berita mengenai petani yang dibayar hasil panennya secara enggak pantas sma perusahaan besar . Trus mungkin saya dan kamu berfikir bagaimana caranya membantu petani tersebut dari jauh,menunjukkan empati kita dr jauh.
Membeli barang fair trade adalah salah satu yg saya lakukan untuk mengharga i para petani dan mereka yang berusaha berlaku adil. Kalau cara kamu? :)

頑張ろう東日本!

wpid-fotor_139350149123363.jpg
foto ini diambil di dekat sekolah yang terkena hempasan tsunami di daerah yamamoto 山元、kalau tidak salah nama SD tersebut adalah Nakahama. Lokasinya sekitar 55 km dari fukushima.

untaian kertas kuning yang diikat ke pohon itu adalah untaian berisi pesan dr berbagai pengunjung yang datang ke sekolah tersebut kepada anak anak dan masyarakat di yamamoto untuk terus berjuang meskipun tsunami pernah menghempaskan tanah hidup mereka.

Ganbaro Higashi Nihon!
saya ga tau bisa membantu kalian dengan cara apa membantu menyebarkan semangat bangkit kalian adalah hal terkecil yang bisa saya lakukan.

Btw, kalau kalian mau berkunjung ke sekolah itu bisa lho, karena sekolah itu dibiarkan seperti aslinya. Tidak atau belum di rombak.

Mungkin untuk mengenang perjuangan anak-anak SD Nakahama saat  bertahan hidup di tengah gempuran tsunami.

Tiba tiba kepikiran

image

Ada satu hal yang nonjok dr Jepang adalah usaha mereka dalam melestarikan budaya tradisional sejak dini.
Gambar di atas adalah tarian tradisional jepang yang ditampilkan untuk menyambut kedatangan anak-anak Tokodai yg datang ke Kota Kakuda untuk merasakan hidup di daerah pedalaman.yah,yang dimana tidak terlalu pedalaman kalau dibandingkan dengan indonesia.
Tarian tradisional tersebut di iringi oleh dentuman asik gendang jepang yang disebut taiko.
Nah,anak yang menabuh gendang taiko ternyata itu sudah berlatih taiko sejak umur 3 sd sampai dengan sekarang tingkat 1 kuliah.
Gokil ga sih sob? *sok akrab
Ketika dulu saya melakukan pertukaran pelajar ke kanazawa pun,saya akrab melihat anak-anak belajar alat musik tradisional sejak kecil. Mungkin diajarin dari anak tersebut bisa jalan kali ye.
Terlepas dr tradisional atau modern,kabar burung jepang mengatakan (iyah ini kabar nya dr burung jepang bukan indonesia.krik) kalau misalnya anak yang lulus sd di Jepang itu ga mungkin ga bisa nguasain 1 alat musik.
Yah mirip2 lah ya sama anak Indonesia yang bisa main suling.

Saya jadi kepikiran deh nanti kalau punya anak ingin sedini mungkin didekatkan dengan alat musik dan tarian tradisional. Anak sholeh dan sholehah yang bisa bermain alat musik tradisional. Bakal cool ga sih?

Semoga niat saya ini dibarengi dengan fasilitas belajar yang menunjang,semoga memang kelas belajar gamelan,kelas belajar suling bambu memang ada.aamiin.